saya bukan blogger. saya hanya ingin bercerita :)

Selasa, 09 Januari 2018

Prad. (2)

Pada akhirnya aku harus tahu bahwa hatiku yang jatuh terlalu dini harus menemui titik henti. Hati yang hampir aku miliki sudah punya rumah yang lain, yang sayangnya ia sembunyikan dariku. Entah untuk apa, entah karena apa. Pada akhirnya aku harus menerima kenyataan bahwa aku hanyalah penyewa rumah perempuan lain yang diam-diam punya keinginan untuk menjadi pemilik tetap. Salahkah aku? Sebab selama ini aku tidak tahu bahwa statusku hanya menumpang dan menyewa. Ia menyembunyikannya. Entah untuk apa, sekali lagi.
.
Ini adalah patah hatiku yang kesekian kalinya. Namun ini adalah patah hati tersakit yang pernah aku rasakan kedua kalinya. Yang pertama, untuk sosok yang sampai saat ini masih menghantui pikiranku. Aku bodoh? Tak apa, ku terima anggapan itu jika karena mencintainya. Sebab mencintainya, aku tak ingin lekas menjadi pintar.
.
.
Pada keramaian ini aku sepi. Saat ada hati yang lain di sisiku, aku tetap kosong. Segala pikiranku hanya terpusat padanya yang entah ada di mana.  Di mana kah ia? Sedang apakah ia? Adakah ia berlalu di hadapan tanpa aku tahu? Adakah ia sedikit saja berpikir tentangku? Dan hal-hal lain yang masih saja tentang ia.
.
.
.
Sakit. Tapi aku sudah kehabisan air mata. Aku hanya ingin bertemu dengannya sekali lagi saja.
.
.
.
.
Kota Lama, 7 Januari 2018, 8:19 pm
aku masih rindu.

Prad.

Aku menyadari ini terlalu dini bagiku untuk jatuh hati. Terlebih pada sosok yang bahkan belum pernah aku temui. Tapi bukankah hati tak pernah sanggup memilih; pada sosok yang mana ia akan tertambat? Terserah, mana suka.
.
Aku menikmati setiap inci hatiku yang jatuh padamu. Rasanya menyenangkan sebab kau selalu punya cara untuk membuatku merasa bahagia. Pun aku tak ingat kapan terakhir aku merasakan hal demikian. Diam-diam aku bersyukur dapat mengenalmu meski mungkin caranya tak biasa.
.
.
Dalam gegap gempita aku dipaksa segera sadar; ini semu semata (?)
.
.
.
Aku tak tahu, tapi kau tiba-tiba berlalu. Tanpa ucapkan selamat berpisah, apa lagi sampai berjumpa. Sakit. Harapan yang perlahan ku bangun demi kebahagiaan nyatanya sirna hanya dalam sekali kejap. Kalau boleh aku meminta, aku hanya ingin lebih lama bersamamu. Membangun lagi kebiasaan yang menyenangkan. Masih banyak kisah yang ingin ku ceritakan. Dan aku juga masih ingin mendengar celoteh-celotehmu yang riang. Masih ada temu yang kita janjikan. Masih banyak jerejak yang harusnya kita ciptakan.
.
.
.
.
Bolehkah aku?

Jumat, 05 Januari 2018

Sepekan Setelah Perkenalan

Hari pertama.
Notifikasi di layar gawai membuatku tergerak untuk menilik siapa gerangan yang menghubungi. Oh, ternyata satu permintaan pertemanan di aplikasi pesan instan. Aku tidak tertarik untuk mengiyakan ajakan pertemanan itu. Namun jemariku tertarik untuk mengulur daftar permintaan pertemanan yang entah sejak kapan ku abaikan sehingga menumpuk beberapa permintaan. Tarian jemariku terhenti pada foto profil salah satu pria yang entah mengapa menarik hatiku. Biasa saja memang, namun nyatanya aku langsung mengiyakan permintaan pertemanannya yang terselip di antara lainnya.
“Hai, Adriana.”
Tidak sampai sepuluh menit kemudian, satu notifikasi baru muncul lagi di gawai. Dit. Nama yang terpampang di layar gawai jelas-jelas menunjukkan nama seseorang yang baru saja ku terima permintaan pertemanannya di aplikasi pesan instan. Sedikit bingung aku membalas pesannya sebab ku pikir ada gunanya juga untuk aku sedikit menahan diri. Hei, ini media sosial bukan? Apa saja mungkin terjadi di dunia maya ini.
“Iyaaa.”
Sejauh ini ku anggap jawaban itu cukup diartikan sebagai sambutan yang tidak berlebihan namun tetap terkesan terbuka.
“Salam kenal ya.”
Permulaan yang bagus. Mari kita lihat selanjutnya akan seperti apa setelah ku sambut salam perkenalannya. Kemudian ia menanyakan hal remeh temeh seputar diriku yang wajar pada fase perkenalan. Percakapan kami terasa menyenangkan dengan saling berbalas pesan yang atraktif.
“Lagi sibuk nggak? Telepon aja, yuk.”
Deg. Entah sudah berapa lama sejak terakhir kali aku berbicara dengan laki-laki secara khusus kecuali ayah dan adikku. Agak lama hanya ku pandangi pesan yang ia kirim. Bingung juga, mau bicara apa ya nanti? Bagaimana kalau aku mati kata dan tidak asyik diajak bicara? Bagaimana kalau suaraku tidak enak didengar? Baiknya aku minum dulu untuk menyegarkan tenggorokan sebelum ku iyakan ajakannya berbicara via jalinan suara.
Tak butuh lama buatnya langsung menelponku setelah ku izinkan. Sedikit berdebar ku jawab panggilan darinya setelah tentunya memastikan suaraku cukup enak didengar. Suara di ujung sana terdengar ceria, seolah mengalirkan semangat kepadaku. Padahal waktu itu sudah hampir lewat tengah malam. Rupanya ia memang laki-laki yang gemar bercerita dan pandai membuat suasana terasa menyenangkan. Ia pun tak canggung menceritakan apa saja tentang dirinya pada percakapan kami di hari pertama perkenalan ini. Tentang keluarganya, masa lalunya, apa yang ia suka dan ia benci, dan hal-hal lain yang rasanya tak akan mampu ku ingat satu persatu.
“Ke burjo yuk. Mendadak haus terus lapar nih.” Jarak kostnya dan kostku yang ternyata tak cukup jauh ternyata menggodanya untuk langsung bertemu denganku.
“Sudah larut. Kamu sendiri aja, ya?”
“Hmm ya sudah. Setelah kita selesai bicara baru aku pergi makan.”
“Kalau begitu sudahi sekarang saja.”
“Jangan. Aku masih ingin berbincang denganmu.” Kalimat yang baru saja dituntaskannya itu biasa saja namun membuat hatiku berdesir entah karena apa.
Sampai dua jam berlalu dan kami sama-sama mengantuk kemudian percakapan itu terpaksa kami sudahi.
“Ini adalah salah satu usahaku untuk mengenalmu. Makanya sedari tadi aku bertanya tentangmu dan aku pun bercerita banyak hal tentang diriku.”
“Mengapa?”
“Sebab setelah sama-sama kenal dan saling nyaman, kisah tingkat selanjutnya tentu akan mudah kita jalani.”
Sudah terlalu larut. Dan aku yakin terlelap dengan senyum mengembang sampai pagi.
Hari kedua.
Selanjutnya memang terasa lebih mudah, seperti yang ia katakan sebelumnya. Percakapan kami terjalin semakin lekat. Dan ia pun tak ragu untuk memberikan perhatian demi perhatian yang selalu berhasil membuatku berdebar-debar. Bahkan kepada laki-laki yang dekat denganku terakhir kali, aku tak merasakan debar yang sedemikian rupanya. Tetap saja aku memegang prinsip sejak awal perkenalan kami. Ini dunia maya, apa saja bisa terjadi dengan mudahnya. Kami baru saja saling mengenal dan bahkan tak pernah bertatap muka. Terlalu dini jika ku katakan aku jatuh cinta. Namun getaran ini sungguh semakin menggelora.
“Kabari aku, neng. Jangan buat aku menunggu dan khawatir denganmu.”
Kalimat itu agak berlebihan jika diucapkan oleh seseorang yang berstatus hanya teman, bukan? Padahal aku hanya bilang hendak pergi sebentar bersama kawan.
“Kamu kemana aja sih? Aku cariin kamu dari tadi nggak ada kabarnya.”
Ini tentu sedikit berlebihan, namun dibuat merasa dibutuhkan seperti itu aku jadi makin tersipu. Entah sudah berapa lama aku tidak merasa sedemikian dicari, ditunggu, dan dibutuhkan oleh seorang laki-laki.
Fase perkenalan kami berjalan dengan lancarnya namun aku tetap waspada. Hati-hati aku menjaga hatiku agar tak langsung jatuh padanya. Bisa bahaya sendiri jadinya kalau aku jatuh cinta sementara kisah kami entah bagaimana nantinya. Namun malam ini ia kembali berhasil membuatku menutup hari dengan perasaan bahagia.
Hari ketiga.
Sebuah potret swafoto ia kirimkan kepadaku dan bukan untuk pertama kali. Parasnya yang memang rupawan membuatku kembali berdebar. Kau mungkin saja ingin katakan bahwa jatuh cinta tak hanya sekadar pada rupa. Iya, memang. Toh aku tidak semata menyukainya sebab ia rupawan. Sudah pernah ku jelaskan perihal caranya membuatku merasa dibutuhkan dan diperhatikan sedemikian rupa mau tak mau menggetarkan hatiku.
Melihatnya dan sejuta perhatian darinya membuatku tersenyum sendiri sepanjang hari. Ya ampun, rasanya aku seperti remaja yang baru saja jatuh hati.
“Ada beberapa orang yang memanggilku ‘yang’, sebab nama kecilku memang ‘yayang’. Jadi kau bukan satu-satunya yang memanggilku demikian.” Waktu itu ia memanggilku ‘yang’ setelah tahu aku punya nama kecil demikian.
“Ya sudah, ‘yangbeb’. Biar beda dengan yang lainnya. Tapi tenang saja, aku akan profesional kok.”
“Maksudnya?”
“Iya, aku berusaha untuk tidak emosi jika mendengar langsung ada lelaki lain yang memanggilmu demikian. Habisnya panggilan ‘yang’ kan dekat dengan konotasi ‘sayang’.”
Aku semakin tersipu. Perasaan macam apa ini?
“Ya sudah terserah kamu saja. Aku akan jaga hati biar tidak terbawa perasaan padamu.” Secara tak langsung ku ungkapkan saja apa yang ku khawatirkan tentang kedekatan kami.
“Kalau kamu jaga hati agar tak terbawa perasaan, lalu kapan kita akan jadian? Aku saja tidak mengapa terbawa perasaan.”
Aku tak percaya akan mendengar pernyataan yang demikian dari dirinya. Entah reaksi seperti apa yang akan aku lontarkan kepadanya.
“Memangnya mengapa? Coba jelaskan mengapa aku tak boleh memakai perasaan padamu?” Ia tetap gigih saat ku ucapkan alasan demi alasan.
“Bagaimana hubungan kita akan berkembang jika begitu-begitu saja? Sudahlah, intinya ayo kita jalani dan lanjutkan cerita ini.” Sudah. Cukup membuatku bungkam. Aku semakin merasa ada di awang-awang.
Hari keempat.
“Aku mau pergi dengan adikku.” Seperti sudah menjadi sebuah keharusan untukku berpamitan dengannya.
“Baiklah. Hati-hati di jalan, jangan ngebut, kabari kalau sudah sampai.” Dan seperti biasa pula ia akan memberiku petuah demi petuah.
Demikian, maka aku pergi dengan gembira sebab ada yang menantiku pulang. Pun saat aku tiba di tujuan, ku kabari ia seperti yang ia minta. Tetapi tidak ada balasan. Ah, mungkin ia sedang sibuk. Semalam ia sempat bilang bahwa temannya akan menikah lusa dan ia didaulat untuk menjadi  bestman. Bisa jadi ia sedang fitting seragam atau mempersiapkan hal lainnya.
Satu jam, dua jam, hingga lima jam. Tak pernah ia selama ini dalam tidak membalas pesan. Namun tentu saja aku bukan perempuan posesif yang menuntut dikabari berkali-kali tanpa jeda. Hingga akhirnya aku kembali di rumah dan malam menjelang, tak ku temui juga pesannya menghampiri. Hingga saat aku hendak menyerah dan tidur, nama yang ku nanti sejak pagi muncul.
“Hai, maaf ya aku baru saja mengantar ayah. Seharian terjebak macet di perjalanan dan kuotaku habis. Ini baru saja sampai rumah dan beli kuota.”
Lega sekali aku mendapati kabar yang aku nanti sepanjang hari. Dan oleh sebab aku sudah sangat mengantuk, aku pamit untuk lebih dulu memejam. Toh esok aku ada acara keluarga dan dia harus menjadi bestman di pernikahan temannya.
Hari kelima.
Morning. Hari ini kamu mulai jadi bestman jam berapa?” Sebuah pesan di awal pagi tentu menjadi hal yang lumrah bagi orang yang sedang dalam fase pendekatan, bukan?
Namun tidak aku sangka rupanya itu menjadi pesan yang terakhir terpampang di deretan percakapan kami via gawai. Ia tak pernah lagi membalas pesanku, bahkan dibaca saja tidak. Semula ku pikir ia terlalu sibuk dengan acaranya dan pasti akan membalas pesanku di kala ia senggang. Atau mungkin saat acaranya sudah usai dan ia benar-benar sudah santai di rumah. Lagi-lagi ku jelaskan bahwa aku bukan tipe perempuan posesif. Jadi tak masalah ia lama membalas asal nanti ia tetap memberi kabar seperti sebelumnya.
Aku sengaja berkali-kali mengambil swafoto dengan gaya terbaik untuk ku persiapkan nanti ku kirim padanya. Kebetulan aku sedang merasa cantik sekali hari ini dengan riasan hasil tanganku sendiri di acara khusus hari ini. Dan seperti sudah kebiasaan bagi kami berdua untuk saling bertukar potret setiap hari.
Malam menjelang, kabar darinya tak juga datang. Hingga larut dan tak kunjung ia menjemput. Sebenarnya hatiku risau, namun aku berusaha tetap tenang. Toh ia bukannya menghilang sekian lama. Malam ini untuk pertama kalinya semenjak perkenalan kami, aku tidur dengan hati yang tak menentu sebab menunggu.
Hari keenam.
Kalau ada yang paling ingin ku temui di pagi saat ku mulai menjalani hari, sudah tentu adalah kabar darinya yang selalu mampu membuatku bersemangat. Belum apa-apa sudah ku buka gawai dan menilik daftar pesan masuk. Tak ada satu pun darinya. Percakapan yang terlihat dalam ruang obrolan kami masih sama seperti terakhir kali. Ia kemana? Apakah kuotanya habis lagi? Sudah tentu tidak mungkin. Kan kemarin baru saja ia beli. Memangnya ia seboros apa? Atau gawainya rusak? Ah, masa iya?
Padahal sejak kemarin aku menunggu kabarnya yang mencerahkan hariku. Dan aku sudah tidak sabar melihatnya dalam balutan busana pendamping pernikahan. Sudah tentu ia akan semakin terlihat menggemaskan. Namun rupanya aku masih harus menunggu lagi, mungkin.
Dan kau tentu setuju denganku bahwa menunggu adalah pekerjaan yang paling membosankan, merisaukan, dan melelahkan. Menunggu adalah pekerjaan bagi orang-orang yang sabar saja. Berusaha tidak berpikir jelek, namun mau tak mau anggapan-anggapan buruk tentangnya hilir mudik hinggap di otakku. Ia sedang di mana? Ia sedang bersama siapa? Ia sedang melakukan apa? Ia sedang menyembunyikan apa dariku? Ia sedang melakukan permainan apa denganku? Dan sebagainya, dan sebagainya. Dan hari itu ku tutup dengan kembali risau perihal ia serta satu rasa lagi bertumbuh di hati; rindu.
Hari ketujuh.
Apakah aku harus melupakannya dan berpura-pura bahwa ia tak pernah ada? Pun berpura-pura bahwa kisah antara aku dengan dia tak pernah terjadi. Toh kami tak pernah bersua secara langsung dan boleh jadi di antara kami memang hanya cerita di dunia maya. Bukankah sejak awal perkenalan pun aku sudah berprinsip pada diri sendiri? Ini adalah dunia maya dan apa saja mungkin terjadi, tanpa perlu ada alasan yang mengiringi.
Tapi ini terlalu singkat, bukan? Baru saja ku jatuhkan hati namun ia seolah pergi. Benarkah ia pergi? Atau memang hanya ada sesuatu yang terjadi?
Lantas aku harus bagaimana?
Haruskah aku bertahan dalam menunggu atau benar-benar melupakan dirinya. Entah sudah berapa kali ku lihat ruang obrolan kami yang masih meninggalkan pesan terakhir sama. Entah sudah berapa kali ku tilik apakah pesan dariku sudah terbaca olehnya atau belum. Entah berapa kali ku baca ulang percakapan antara kami yang ternyata mampu menghangatkan hatiku kembali. Dan entah berapa kali ku pandangi potretnya untuk sekadar mengurangi rasa rindu yang semakin mengakar di hati.
Entahlah akan jadi seperti apa kisah ini. Diam-diam pikiran nakalku berpikir, apakah jangan-jangan yang tempo hari menikah adalah ia sendiri?
Selamat tahun baru, Abang.

Aku rindu.

Sabtu, 16 Desember 2017

Bicara Kehilangan

Kehilangan itu menyakitkan, bukan? Sesuatu yang kau genggam dan kau jaga mati-matian akhirnya harus terlepas juga. Tentu tanpa kau inginkan apalagi kau harapkan. Lagi pula, siapa yang ingin merasakan kehilangan? Ku rasa tidak ada. Semua menginginkan apa yang ia jaga dan ia sayangi tetap mendampingi sepenuh hati.
Kembali lagi pada awal tulisan ini, bahwa kehilangan memang menyakitkan. Seperti menggenggam pasir di tangan: semakin kencang kau genggam maka perlahan sedikit demi sedikit pasir-pasir itu akan berjatuhan juga, pun sebaliknya jika kau biarkan genggamanmu terlalu longgar maka pasir-pasir di tanganmu akan habis dengan sendirinya. Serba salah, bukan? Lantas apakah pada akhirnya setiap kepemilikan pasti akan berakhir pada kehilangan? Bagaimana tentang menjaga mati-matian?
Ku pikir iya, setiap kepemilikan pasti akan berakhir pada kehilangan bagaimana pun nanti bentuknya. Yang paling penting adalah bagaimana kita menjaga sesuatu sebaik mungkin sebelum tiba masanya nanti ia akan hilang. Sementara kita hanya terdiam tanpa tahu harus memberi makna macam apa mengenai kehilangan. Memaknai kehilangan tentu tak semudah kelihatannya. Entah perasaan macam apa yang tertoreh di hati. Entah perlakuan macam apa yang harus kau lakukan.

Aku sedang merasakan kehilangan. Tentu bukan yang pertama kali, sebab boleh dibilang ini adalah kehilanganku yang ketiga. Sedari awal ku jaga ia sepenuh jiwa sampai akhirnya ku sadar bahwa sekeras apa pun usahaku menjaganya, jika ia memang harus pergi maka ia akan pergi. Boleh jadi ia memang bukan ditakdirkan untuk jadi milikku.
Tapi kehilangan, ah pahit sekali rasanya. Sekali lagi, sebab ini yang ketiga kalinya. Pernah pula aku bersikap masa bodoh sebab ku yakin jika ia milikku maka ia akan tetap jadi milikku. Bukankah hati tak pernah salah memilih di mana ia akan berlabuh? Tapi lagi-lagi kehilangan menjadi takdirku. Lantas harus seperti apa lagi caraku menjaga?

Kau tahu, kini aku sudah mendapat yang baru. Kehilangan berkali-kali membuatku belajar lagi. Dan tak ayal aku jadi lebih meningkatkan proteksi. Dalam diam ku berharap bahwa apa pun yang terjadi, ia akan tetap berada di sampingku lalu aku bahagia hahahahahaha.

Catatan: Ia yang ku maksud adalah helm. Hati-hati, zaman sekarang maling helm semakin bangsat. Helm pertamaku yang hilang, ink biru tua. Nyaris 4 tahun menemaniku sejak SMA. Dimaling di parkiran kampus sendiri. Ku beli baru helm ink biru muda. Tak lama, dimaling pula ia di teras kontrakan sendiri. Taik. Ya sudah, aku pakai helm bawaan motor. Ku pikir dengan demikian tak akan menarik maling-maling bangsat di luar sana. Salah, saudara! Kembali helmku dimaling orang di kontrakan sendiri. Ya, helm bawaan motor yang untuk mendapatkannya harus beli motor dulu. Taik.
Lalu di sela-sela tipis dompetku, ku putuskan beli helm bogo. Siapa berani maling lagi, mandul!

hehehehe

Kamis, 30 November 2017

[NARADHIPTA]

Entah malam ke berapa setelah aku jatuh hati pada sosok perempuan yang entah mengapa bisa membuat tidurku tak nyenyak dan makan tak enak. Yah, aku tak sepenuhnya benar memang. Sebab nyatanya aku tetap pulas tertidur hingga matahari muncul dan tetap lahap menyantap makanan dengan porsi besar. Tapi yang perlu ku beri tahu, tiga hari lalu aku bertemu dengannya. Bukan sekadar pertemuan karena aku toh sudah pernah terjebak dalam pertemuan manis dengannya beberapa kali. Ini benar-benar istimewa sebab dalam pertemuan malam itu aku dapat memandangnya lebih dekat dan lebih lama. Seolah-olah hanya ada aku dan dia dalam sekat yang membuat kami semakin dekat. Pasti aku benar-benar sudah gila!

Kalau ku ingat-ingat, aku jatuh hati pada sosoknya yang cerdas dan selalu bicara lugas jika menyangkut soal ideologi atau remeh-temeh lainnya. Namun ia juga mahir bicara manis yang membuat hatiku semakin teriris karena sadar bahwa aku rasanya jauh sekali untuk menjangkaunya. Ia perempuan yang mandiri dan ceria. Bagaimana tidak membuatku jatuh hati dan cinta? Ah, bagaimana pula ia dapat membuatku merangkai kata semacam ini yang rasanya tak mungkin aku rangkai jika bukan untuk perempuan seperti ia.

Namun tetap saja ada hal-hal yang membuatku semakin ragu mendekatinya. Bentangan pembeda yang ada di antara aku dan ia. Aku tahu itu hanyalah angka semata namun mau tak mau membuatku berpikir keras. Padahal aku Naradhipta; lelaki penuh kilau. Agak tidak nyambung memang, tapi apakah aku tak bisa membuatnya silau dan terpukau? Ragu-ragu aku mendekatinya, padahal aku rindu. Penat aku bertanya-tanya, tapi jelas aku jatuh cinta!

Persetan dengan bentangan pembeda.


NB: [NARADHIPTA] adalah bagian dari catatan kecil untuk proyek masa depan. Wish me luck.

[KALA]

Pada malam ketiga setelah aku menyadari bahwa aku jatuh cinta, masih saja ku cari sosok ia. Ia yang belakangan muncul di mana-mana, di setiap kala hariku. Sementara nyatanya ia susah sekali ku temukan hadirnya. Ia yang belakangan datang tanpa ku pinta; dalam pejam mataku, dalam jelang tidurku, dalam hela napasku, dalam degup jantungku yang menjadi lebih cepat saat ku ingat raut wajahnya, dalam untaian jemariku yang menari di tuts-tuts keyboard kala menguntai kisah tentang ia. Padahal belakangan ini pun terus ku cari di mana ia yang hanya berujung pada titik-titik kealpaan.
Ia entah di mana. Ia entah sedang apa. Ia entah sedang bersama siapa. Sementara aku rindu.

Tiga hari yang lalu pertemuan tanpa sengaja itu menyadarkan aku bahwa jatuh cinta masih saja nikmat rasanya. Maklum, sudah sekian lama aku lupa bagaimana syahdunya mencinta. Bukan tanpa alasan. Sebab dalam jeda waktu yang sekian lama itu yang ku rasa hanyalah kehampaan. Tapi kembali lagi pada pernyataan bahwa ia berhasil membuatku sadar kembali nikmat dan syahdunya jatuh cinta. Ya ampun, mengapa mendadak aku jadi menggelikan seperti ini? Bicara cinta seolah baru kemarin saja tahu rasanya jatuh cinta. Ingat umur, dong!

Bicara umur, bicara usia, aku mendapat tambahan kesadaran bahwa ternyata ada yang mengganjal di antara aku dan ia. Bagaimana mungkin? Tapi aku cinta. Pujangga bilang cinta tak kenal batasan-batasan, termasuk di dalamnya jarak, bahasa, percaya, usia. Usia. Waktu. Kala. Kala. Kala. Aku.

Pada malam ketiga  setelah pertemuanku dengannya, aku tahu bahwa aku memilih untuk tidak peduli dengan apa pun yang menjadi obrolan tabu mereka. Persetan dengan usia, terang saja aku jatuh cinta!




NB: [KALA] adalah bagian dari catatan kecil menuju proyek panjang masa depan. Wish me luck.

Minggu, 09 Oktober 2016

Tuan Nona Kesepian

"Kamu harus dengerin lagu ini. Bagus, aku suka." Lalu jemarimu menekan tombol mengganti daftar lagu yang sedang terputar, sementara tangan kananmu tetap fokus memegang kemudi. Kamu tersenyum, manis sekali. Aku semakin jatuh hati. Memandangmu lama-lama, aku selalu suka. Senyummu yang terus membingkai wajah dengan cepat menular kepadaku. Aku lalu mengakui bahwa kekuatan senyum memang sebegitu hebatnya.
"Kok nggak ada, ya? Perasaan kemarin aku masih dengerin. Apa keselip, ya?" Alismu tertaut, lucu. Alismu yang tebal seperti Shinchan, membuatku gemas sedari dulu.
"Kelewat mungkin tadi tapi kamu nggak sadar. Memangnya lagu apa, sih?" tanyaku penasaran.
"Yahh padahal lagunya bagus dan pas banget deh. Aku suka bayangin kamu kalau denger lagu ini. Judulnya Tuan Nona Kesepian."
Membayangkanku saat mendengarkannya? Aku semakin penasaran, lagu seperti apa yang kamu maksud. Lagu apa pun itu, tak urung dadaku bergetar mengingat kamu membayangkanku dalam suatu kondisi.
"Memangnya lagunya kayak gimana, sih?" aku terlanjur terlalu penasaran.
Dan kamu lalu bergumam sesaat, mengingat-ingat lirik lagu yang kemudian kamu nyanyikan dengan pelan namun cepat merasuki pendengaranku dan masuk ke sudut-sudut hati.

Tuan kesepian, tak punya teman
Hatinya rapuh tapi berlagak tangguh
Nona tak berkawan, tak pernah rasakan cinta
Sungguh pandai berkhayal, mimpi itu alamnya

Suaramu yang berat terdengar sangat halus bagiku. Aku tersenyum meski bingung menerka maksud lagu yang kamu nyanyikan. Lagu-lagu milik Tulus selalu menjadi daftar putar utama kita di setiap perjalanan. Jalanan Gunungpati waktu itu terasa lengang dan menyenangkan, saat kamu harus mengantarkanku kuliah pukul delapan.

***
Tuan, apa yang salah padamu
Mengapa wajahmu ada seribu
Tuan, apa yang salah padamu
Seakan dunia hanya kamu

Sempat aku bertanya-tanya dalam hati sendiri. Mengapa kamu bilang lagu itu pas buat kita, ya? Padahal lagu itu adalah pertentangan dua hati yang sama-sama terhalang gengsi. Sementara waktu itu kita sedang cinta-cintanya. Namun kemudian aku sadar, lagu itu memang kita sekali.
Kamu, Tuan yang selalu memberi mahal kata maaf dan kabar dalam dirinya. Tuan yang menganggap aku akan selalu jatuh padamu. Tuan yang dengan sesuka hati datang dan pergi tanpa permisi. Tuan yang merampok dengan keji hati dan urung membawanya kembali.
Aku, Nona yang senang merajut fatamorgana. Nona yang punya seribu khayalan indah berisi rencana dan wacana yang akan kuubah menjadi nyata bersamamu. Nona yang meski sadar kamu sudah berlalu pergi namun tetap duduk menanti seperti anak kecil yang dijanjikan mainan serta gulali jika sabar menunggu sang Ibu kembali dari pasar.
Ah, Tembalang dingin sekali setelah hujan yang terus-menerus sejak pagi hari tadi. Syukurlah sekarang sudah berhenti. Kasihan bagi yang menunggu hujan demi sesuap nasi. Di tempatmu berada kini yang entah dimana, mungkin saja terjadi hal yang sama.

Nona, apa yang salah padamu
Apa enaknya tenggelam dalam khayal
Nona, apa yang salah padamu
Kau tahu ku tak punya hati
Kau masih saja menanti

Ada yang salah dengan persepsimu kali ini, Tuan. Aku memang Nona dengan sejuta khayal yang meski sadar kamu sudah berlalu pergi namun tetap duduk menanti seperti anak kecil menunggu Ibunya pulang membawa gulali. Tapi kamu mungkin lupa, anak kecil pun punya rasa jenuh. Ia bisa pergi bermain gundu, berlari mengejar capung, memanjat pohon belimbing, dan melakukan hal lain dari pada sekedar duduk menanti.
Tuan, Nona yang semula milikmu ini sudah jenuh. Kali ini biarkan aku yang pergi, ya? Ada hati lain yang menantiku dengan pasti.
Semoga kamu menurunkan harga gengsimu yang mahal sekali, Tuan.

Mereka berdua bertemu di satu sudut taman kota
Bertatap tapi tak bicara
Masing-masingnya menganalisa



Terinspirasi secara nyata oleh Tulus - Tuan Nona Kesepian
dan bumbu-bumbu kenangan yang mendesak untuk diulas
Semoga semua hati selalu berbahagia,
aamiin.

Minggu, 03 Juli 2016

Adriana: Patah Hati


Ada rasa perih tertanam dalam hatiku. Ku kira pisau belati, ternyata cuma rindu.
“Cuma? Kau bilang cuma, tapi “cuma” itu mampu membuatmu terjaga siang malam menahan kantuk, lelah, dan dahaga. Cuma demi dia. Lihat, tubuhmu kian kerontang dihisap rindu yang kau bilang cuma.” Rahne kesal. Belakangan ini Adriana semakin aneh saja. Sebentar tertawa bahagia seolah ia baru saja naik tahta, sebentar kemudian murung seperti habis kehilangan uang sejuta dollar. Sebegitu absurd kah orang patah hati?
Patah hati memang ajaib. Ia dapat bekerja dengan instant. Bayangkan kau telah menampung air di bak mandi begitu lama, menantinya dari kosong hingga penuh, kemudian dengan sekali hentakan seseorang menarik penutup bak. Flop! Air yang susah payah kau tampung mengalir deras begitu saja menyisakan bak mandi kosong kembali.
Atau bayangkan kau sedang bermain layang-layang. Layang-layangmu mengudara angkuh sekali. Tinggi, dari atas sana ia bisa melihat semuanya. Paling tinggi, tak ada yang menandingi. Layang-layangmu adalah yang terhebat. Lalu angin dengan sekali sapuan memutuskan benang. Layang-layangmu hilang, terbang tak tentu arah. Mungkin tersangkut di pohon atau tiang listrik. Mungkin juga terjatuh di tanah, lalu koyak. Kau sudah berlari sekencang mungkin, mencoba mengejar untuk dapatkan milikmu kembali. Namun tetap lepas, tanganmu tak lagi mampu menggapainya. Kehilangan memang rasanya begitu menyakitkan. Layang-layangmu bisa saja kemudian jatuh ke tangan orang lain yang tanpa sengaja menemukannya, lalu memutuskan untuk merawatnya. Layang-layangmu kemudian pergi dan menjadi milik orang lain.
“Bisa tidak, hati yang patah utuh kembali? Bukankah sesuatu yang patah tak akan pernah kembali seperti pertama kali? Utuh, namun tetap berbekas.” kata Adriana.
“Yang tak akan bisa kembali seperti pertama kali itu goresan luka, Dri. Hatimu akan tetap sama, tak lebih tak kurang. Hati itu kan, milikmu sendiri.” Rahne menjawab sambil memainkan rambut Adriana yang hitam dan panjang terurai.
“Kau pernah tidak sih, patah hati?”
Rahne berpikir sejenak. Matanya menerawang. Dahinya sampai berkerut. Bibirnya bergerak lucu. Pernah tidak, ya? Kalau dipikir-pikir, selama ini dia santai sekali. Pernah mungkin, tapi tidak pernah sampai seperti yang Adriana atau orang lain rasakan. Semuanya langsung menguap begitu saja setelah ia berdiam diri dan merenung. Rahne sampai curiga, hatinya terbuat dari apa? Kadang ia ingin juga menjadi sedikit lebih peka dan dapat merasa lebih dalam seperti orang kebanyakan. Bukan apa, tak jarang ia mendapat protes dari keluarga, teman, bahkan pacar karena ketidakpekaannya. Tak luput juga dari Adriana, temannya bertahan hidup jauh dari rumah selama nyaris tiga tahun ini.
Rahne kadang iri pada Adriana. Sahabatnya itu bukan main pekanya. Tak jarang Adriana bisa mengetahui hal-hal yang bahkan niatnya dirahasiakan oleh Rahne. Ada perubahan sedikit, Adriana tahu. Ada yang dipendam sedikit, Adriana juga tahu meski Rahne sudah berusaha bertingkah sewajarnya. Kata Adriana, justru mudah mengetahui sesuatu yang aneh atau dirahasiakan. Orang yang sedang memendam dan merahasiakan sesuatu biasanya bertingkah aneh. Mencurigakan sehingga mengundang intuisi Adriana bekerja. Maka dari itu Adriana pasti menang banyak jika menjalin suatu hubungan dengan lelaki. Ia serba tahu. Eh, tapi mengapa dengan Rio ia mendadak bodoh, ya? Buktinya sampai sekarang Adriana masih kacau saja.
“Dri, udah sih. Buang saja Rio. Yang lain masih banyak, kan? Aku tahu loh, kau itu bukannya tidak punya penggemar dan gebetan yang diam-diam kau simpan meski jauh di lubuk hati.”
Semenjak pertemuan di kedai kopi dengan Rio sebulan yang lalu, Adriana memang tetap sama. Sama kacaunya, sama patahnya. Rio pergi, dan Adriana tak tahu adakah keinginan untuk kembali. Ditinggal begitu, siapa yang mau? Tak ada yang mau ditinggal apalagi saat sedang sayang-sayangnya. Seperti ditinggal seorang di hutan sepi tak berpenghuni. Mau apa? Mau kemana? Harus bagaimana? Otak rasanya susah sekali berpikir jernih.
“Aku mencoba, Ne. Tapi selalu saja semua datang kembali. Aku tidak ingin, bahkan aku sudah membuang semua tentang dia jauh sekali. Tapi masih saja semua bisa datang lagi.”
“Hmm.. baiklah, aku salah. Aku ubah, ya. Kau tak perlu susah payah membuang semua tentang Rio. Sebab semakin kau berusaha menghapus dan melupakan, ingatan dan kenangan tentangnya justru akan semakin hadir dan susah hilang. Biarkan saja, Dri. Biarkan semua mengalir begitu saja. Aku mungkin memang tidak pernah merasa patah seperti yang kau rasakan saat ini. Tapi aku tahu, kau harus membiarkan semuanya alami saja. Nanti, ia akan hilang sendiri.”
Adriana rasanya tidak rela jika harus melepaskan semua tentang Rio begitu saja. Biarlah sakit, asal tetap ada Rio di hatinya. Pembodohan. Seringkali cinta dan pembodohan berada bersebelahan dengan sekat yang amat tipis hingga tak bisa dibedakan. Ayolah, cinta boleh, goblok jangan.
“Dri, minum coklat, yuk! Tambahkan kopi sedikit seperti kesukaanmu. Pahit, Dri. Biar menyatu dulu dengan rasa sakitmu. Setelah itu kita makan es krim. Rasa buah saja, kau kan tidak suka es krim yang penuh susu. Eneg, kan? Lagi pula rasa buah itu segar. Pas untuk penawar setelah muak dengan rasa pahit.”
Adriana malas bangkit namun tangan Rahne lebih cekatan untuk menariknya bangun dan memaksanya mandi serta bersiap diri.
***
Jalanan yang ramai mendadak lengang saat memasuki komplek kost Adriana. Pukul sebelas lewat lima belas malam. Udara dingin sekali merengkuh Adriana sampai ke sudut paling dalam. Sebentar lagi mungkin hatinya beku. Kabut begitu tebal, mengaburkan pandangan. Sebenarnya entah pandangannya kabur karena kabut atau karena air mata yang menggantung sedari tadi. Ada rasa sedih yang semakin nyata saat Adriana menembus kabut untuk pulang. Begitu tebal dan jelas terasa kabut di depan mata namun nyatanya tak bisa benar-benar tergapai. Kabut hadir sepintas lalu, menyisakan rasa dingin yang tercekat di rongga dada.
Sampai. Adriana membuka topeng yang sedari tadi dipakainya. Ah, berpura-pura bahagia ternyata melelahkan. Ya, topeng yang Adriana adalah mukanya yang pura-pura bahagia dan baik baik saja. Begitu topeng dibuka, yang terlihat adalah wajah kuyu seorang perempuan dengan sisa-sisa air mata yang mengering dan sebagian tertahan di kelopak. Riasan di matanya berantakan, memperlihatkan kantung mata yang semakin beranak dan lingkaran hitam tanda lelah. Mata itu, mata yang biasanya selalu berbinar cerah malah terlihat sayu. Pandangannya kosong, menerawang kemana-mana. Raut muka yang nampak disana pun datar, tanpa emosi apa pun. Sepintas hanya dapat dikatakan, Adriana begitu mengerikan.
Rasanya Adriana langsung ingin tidur saja. Jika beruntung, ia dapat bertemu dengan Rio di mimpi. Sebab di mimpi, banyak hal yang tak dapat terjadi di dunia nyata mampu terjadi. Mereka bisa berdua saja melakukan apa saja yang tak tuntas di dunia nyata. Berdua saja, tanpa ada yang menyela. Bahagia, tak ada luka. Dan ketika bangun nanti, Adriana harap Rio akan datang dan berkata bahwa semua luka yang ia ciptakan di dunia nyata hanya bercanda. Namun pikirannya penuh, membuat mata susah sekali terpejam lalu lelap.
“Aku kuat. Aku tegar. Aku pasti bisa.” Berulang kali Adriana mengulang perkataan itu sebelum akhirnya memberanikan diri bertemu dengan Rio di kedai kopi kala itu. Pertemuan yang pada mulanya Adriana pikir bakal menjadi titik awal yang baru bagi hubungan keduanya. Adriana telah mempersiapkan diri sesempurna mungkin bahkan sejak jauh-jauh hari. Setiap inci tubuhnya tak ada yang terlewat sebab ia ingin Rio melihatnya dengan bahagia.
Siapa yang mengira jika akhirnya Rio datang dengan seorang wanita yang ia kenalkan sebagai pacar barunya? Segala kekuatan yang Adriana miliki saat itu rasanya hampir runtuh. Ia tak percaya Rio begitu tega. Lebih dari itu, apa maksudnya? Beruntung Adriana cepat menguasai keadaan dan memasang topeng sebelum air mata benar-benar tumpah di pipinya.
Di balik topeng ada yang tak mampu terucapkan sehingga terganti tawa dan candaan palsu seolah ia benar-benar bahagia. Ah, munafik sekali jika Adriana tak patah hati. Tawa laki-laki itu pernah tercipta lebih lepas saat bersama Adriana. Badannya yang tegap pernah menjadi tempat merebah paling nyaman. Tak lupa pelukan hangat yang selalu menjadi penenang saat keduanya merasa kacau. Perutnya yang sedikit tambun pernah menjadi sasaran keisengan Adriana hingga laki-laki itu tak kuasa menahan tawa dan balas mengerjai Adriana dengan pelukan erat dan ciuman bertubi-tubi. Ah, ciuman itu.. Adriana benar-benar merindukannya. Bibir laki-laki itu terasa nikmat sekali sehingga Adriana suka melumatnya habis-habisan. Terlebih lagi laki-laki itu adalah a good kisser. Ralat, a great kisser. Bagi Adriana. Tangan yang menggenggam tanpa pernah ingin melepas. Mata yang menatap dengan tajam namun sayang. Kata-kata sayang, perhatian yang tercurah, pikiran dan bahkan waktu yang selalu sempat sesempit apa pun. Setiap jengkal dari laki-laki itu adalah milik Adriana. Pernah, dulunya. Sakit sekali rasanya menyadari bahwa ia tak lagi milik Adriana. Tepatnya, ia direnggut paksa dari kepemilikan Adriana.
“Bahkan kata maaf pun tak terucap olehnya. Begitu mahalkah kata maaf sehingga ia tak mampu membeli? Atau begitu tinggi kah harga dirinya sehingga aku yang tak mampu membeli?” Adriana tak habis pikir.
Ada hati yang terluka sebab tak ada hati yang besar untuk mengucap maaf. Padahal, satu kata itu saja sudah mampu mengurangi rasa sakit. Meski hanya sedikit. Adriana jatuh ke jurang yang paling dalam yang diciptakan oleh sosok kecintaannya. Dalam, tak terlihat dasarnya. Yang lebih menyakitkan adalah kenyataan bahwa di masa Adriana hidup saat ini ternyata ada kosakata baru berbunyi “baper” atau “bawa perasaan” yang kemudian menggeser pentingnya kata “maaf”. Sosok baper hadir sebagai pembelaan bagi mereka yang tak dapat menghadirkan sosok maaf di hidupnya.
“Kamu sih, baper. Kalau nggak baper kan, nggak akan begini jadinya.”
Hei, seseorang tak akan terhanyut dalam perasaannya sendiri yang mendadak biru jika tak kau beri lautan berisi keindahan yang memabukkan. Mengapa tak berbesar hati dan berkata, “Maaf. Aku mengaku salah. Tak seharusnya aku mempermainkan perasaanmu seperti ini.”
Atau jika itu saja terasa berat, cukup kau katakan, “ Maaf.” Satu kata saja. Tak lebih. Biarkan ia melebihkan makna dirinya sendiri.
Hancur. Hati Adriana telah terberai menjadi keping-keping. Mengapa tak sekalian saja Rio membunuhnya langsung dari pada harus membunuhnya secara perlahan seperti ini? Bertahun-tahun lamanya Adriana tertawan oleh hati Rio. Dan ia tak ingin bebas. Entah, Adriana merasa ada yang bersembunyi di balik hati Rio. Tak terlihat. Letaknya jauh sekali melintasi liku-liku hati utama Rio. Dan topeng itu, topeng yang Rio pakai sebenarnya tak lebih baik dari kepunyaan Adriana. Mata Rio diam-diam menatap sendu setiap Adriana tergelak. Napas Rio terhembus berat saat memalingkan tatapan dari Adriana. Ada yang tak terkatakan meski harus dikeluarkan.
Sebulan berlalu, Adriana tengah menikmati es krim rasa strawberry traktiran Rahne. Asam, membuat Adriana teringat bahwa hidup memang sesekali butuh ditertawakan. Namun ada rasa manis yang diam-diam bersembunyi di balik rasa asam. Sesekali secara mengejutkan menyentuh lidah Adriana. Ya, selalu ada pelangi setelah badai pergi.
Setiap patah hati rasanya Adriana ingin tertawa kencang. Entah menertawakan apa, entah menertawakan siapa. Mungkin dirinya sendiri atau untuk ia yang telah membuatnya patah hati. Namun kini Adriana sudah tahu harus apa yang pasti. Topeng yang melekat di wajah Rio itu harus ia lepas sebelum benar-benar menjadi lapisan kulit, melekat, lalu abadi.

Rabu, 29 Juni 2016

Payung Teduh - Resah


Kalau kau menduga isi dari tulisan ini adalah lirik lagu Payung Teduh, sayangnya aku telah mengecewakanmu. Tapi yang pasti, setiap orang butuh resah untuk menuju ke atas.
 
Pernah tidak, kau merasa begitu resah tapi bahkan kau tidak tahu apa sebabnya? Seperti kau harus menemukan sesuatu untuk menjadi jawaban yang nantinya dapat meredam keresahanmu. Lalu kau mendadak menjadi orang lain, bukan karena kau berubah melainkan kau dalam pencarian jawaban yang entah dimana pun kau tak tahu. Terkadang dalam mencari sebuah jawaban kau perlu merenung, mengosongkan pikiran untuk kemudian membiarkan banyak hal datang untuk mengisi. Atau bertingkah gila seolah jiwamu sedang tak sehat. Atau pergi dari kebiasaanmu, keluar dari zona nyaman demi mendapat suasana baru. Atau apa pun itu, kau sebutlah sendiri.
Resah, hal itu pasti pernah dirasakan siapa saja dan untuk hal apa saja. Bisa karena hal sederhana macam cinta, isu-isu yang terus bergulir bergantian, dirimu sendiri, atau bahkan tentang zat Maha Agung; Tuhan. Bersyukurlah jika kau masih bisa merasa resah sebab artinya pikiran dan perasaanmu masih bekerja dengan tepat, meski kadang keluar dari relnya. Dadamu begitu bergejolak, otakmu terus mencari, dan perasaanmu tajam diasah. Indah, kan?
Sudah beberapa hari ini aku didera keresahan. Ku kira perihal cinta sebab belakangan aku diserang beberapa jerawat yang kunamai jerawat rindu. Hei, bukankah jerawat sering dikaitkan dengan masalah perasaan? Logika sih, sebenarnya. Jerawat datang salah satunya karena masalah produksi hormonal yang kaitannya dengan perasaan. Nah, kembali ke keresahan.
Sejak hari pertama pulang ke rumah, resah itu sudah ada. Entah karena meninggalkan banyak hal di Semarang atau masalah hati, itu yang jadi perkiraanku. Hati. Mengapa selalu tentang hati? Rasanya hati adalah topik yang universal dan tak pernah habis dibahas. Ku kira, jeda yang kembali tercipta antara aku dan seseorang yang aku sayangi tanpa henti beberapa tahun belakangan ini yang menciptakan kebisuan dan keabsurdan di hari-hariku, kemudian. Entah berapa tulisan yang tercipta, berangkat dari masalah hati itu. Di catatan dalam handphone, di lini masa media sosial pribadi, di perkataan, di hati, dan di blog ini sendiri. Entah tersurat jelas atau pun hanya tersirat. Entah berapa waktu yang habis untuk sekedar melamun. Tak ada yang terpikirkan. Namanya juga melamun. Yahh, meski kadang terlintas satu dua angan dan kenangan, juga harapan. Entah berapa pejam yang tertunda sebab tiap malam pikiranku semakin menggelora dan susah untuk beristirahat. Padahal, malam kan waktunya istirahat, ya? Tapi setiap malam semakin merangkak naik, otakku justru semakin penuh. Menyebalkan, kadang.
Semua itu ku kira sebab permasalahan klasik yang menyerang hati. Ah, mengapa aku tak berpikir lagi? Hati, hati, hati. Tak bisakah sejenak kita berpaling pada jantung, usus, atau paru-paru?
Dini hari tadi, selepas sahur baru aku merasa menemukan jawaban atas keresahan beberapa hari terakhir. Berawal dari melihat tulisan seorang teman yang dipublikasikan ke salah satu laman web. Rasanya aku mendapat pukulan keras, tepat di hati dan pikiran. Duh, mengapa tak sadar dari dulu, ya? Tapi aku bersyukur akhirnya tersadar, dan semoga tidak hanya sesaat.
“Hidup itu paradoks”, begitu Sudjiwo Tejo pernah berkata. Ya, hidup ini memang paradoks. Kau mungkin merasa segala hal yang kau perbuat dan pikiran adalah sebenar-benarnya hal di hidup ini. Dan orang-orang pun mestinya demikian. Namun pada kenyataannya banyak yang menentangmu. Bersimpangan jalan. Berada di sisi yang berbeda denganmu. Lalu kau merasa jengah, kemudian memandang yang lain dari sudut yang kecil.
Ah, kau ternyata tak bisa memaksakan orang lain untuk sama seperti dirimu. Kau boleh berpendapat, semua orang bebas berpendapat, bukankah negeri ini selalu mengagungkan demokrasi? Namun pada akhirnya kau dan semua orang tak bisa memaksakan pendapat itu menjadi suatu kehendak pribadi. Ya, memang. Kepala setiap orang pasti memiliki tendensi masing-masing, apalagi jika didasari oleh suatu kepentingan. Begitulah salah seorang seniorku di kampus pernah berkata. Tendensi, hmm. Setiap orang pasti punya tendensi, entah kecil atau besar. Entah baik, maupun jahat. Atau kurang baik mungkin lebih tepatnya. Ketika itulah diri diuji, seberapa bijak kau bisa menyikapi tendensi itu.
Tadi paradoks, sekarang tendensi. Maumu apa, sih?
Mauku, ya terkadang aku hanya ingin berada bersama orang-orang yang sejalan denganku. Berbicara dan berkembang bersama orang yang memiliki tujuan yang sama rasanya lebih menyenangkan. Prosesnya mungkin berbeda-beda, tapi tujuan tetap sama. Kecewa kadang jika mendapati seorang yang begitu dekat namun sayangnya jauh dalam tujuan. Kadang aku sadar, mereka punya jalan dan cara masing-masing. Namun hanya terkadang.
Ah, ternyata aku masih belum mengerti benar, ya. Ada banyak orang di sekelilingku yang mengekspresikan kebisaannya dengan caranya masing-masing. Dan dilandasi oleh alasan dan kepentingan masing-masing. Tak semua harus sama melulu. Bukankah kau sering berkata, bahwa menjadi sama adalah hal yang membosankan?
Paradoks. Hidup ini memang paradoks. Selalu ada pertentangan. Yang kau anggap benar belum tentu diterima dengan benar dan lapang dada oleh orang lain. Selalu ada konflik di setiap sisinya. Kau suka minum bir, meracuni dirimu dengan nikotin, mendengarkan musik yang berdentum-dentum, pulang menjelang pagi, berbicara dan bertingkah bebas, tapi kau menghasilkan sesuatu bahkan lebih. Kau punya sesuatu yang bisa kau tunjukkan, dan kau puas akan hal itu. Kau bebas. Kau punya banyak hal yang orang lain tidak punya. Kau keluar dari kotak yang membuat orang-orang nyaman, bahkan terlena. Kau hebat, dalam jalanmu sendiri.
Mayoritas orang melihatmu sebagai berandal yang hanya sedang berada dalam fase yang tidak jelas. Nol, tanpa isi apa-apa. Sebagian lagi menganggapmu hanya gangguan, tanpa melihat kemampuan yang kau punya, yang padahal jauh melampaui mereka.
Sayangnya, seringkali kaum mayoritas merasa menang dan paling benar sedangkan kaum minoritas merasa mereka istimewa dan menjadi prioritas. Terkadang jalan memang tidak melulu hanya satu, untuk itulah gunanya persimpangan.
Hmm.. hidup memang paradoks. Semua hal bisa berubah kapan saja. Yang perlu kau lakukan hanyalah mampu bertahan dan tetap bersinar dalam situasi apa saja.

Kalau kau merasa tulisan ini kurang menarik, tak apa. Tingkat ketertarikan orang berbeda-beda. Lagi pula apalah bagusnya tulisan ini, cuma hasil dari sebagian keresahanku saja.

Selamat pagi.
Dapat salam dari embun yang menari.
Selamat resah, ya!