Pada akhirnya aku harus tahu bahwa hatiku yang jatuh terlalu dini harus menemui titik henti. Hati yang hampir aku miliki sudah punya rumah yang lain, yang sayangnya ia sembunyikan dariku. Entah untuk apa, entah karena apa. Pada akhirnya aku harus menerima kenyataan bahwa aku hanyalah penyewa rumah perempuan lain yang diam-diam punya keinginan untuk menjadi pemilik tetap. Salahkah aku? Sebab selama ini aku tidak tahu bahwa statusku hanya menumpang dan menyewa. Ia menyembunyikannya. Entah untuk apa, sekali lagi.
.
Ini adalah patah hatiku yang kesekian kalinya. Namun ini adalah patah hati tersakit yang pernah aku rasakan kedua kalinya. Yang pertama, untuk sosok yang sampai saat ini masih menghantui pikiranku. Aku bodoh? Tak apa, ku terima anggapan itu jika karena mencintainya. Sebab mencintainya, aku tak ingin lekas menjadi pintar.
.
.
Pada keramaian ini aku sepi. Saat ada hati yang lain di sisiku, aku tetap kosong. Segala pikiranku hanya terpusat padanya yang entah ada di mana. Di mana kah ia? Sedang apakah ia? Adakah ia berlalu di hadapan tanpa aku tahu? Adakah ia sedikit saja berpikir tentangku? Dan hal-hal lain yang masih saja tentang ia.
.
.
.
Sakit. Tapi aku sudah kehabisan air mata. Aku hanya ingin bertemu dengannya sekali lagi saja.
.
.
.
.
Kota Lama, 7 Januari 2018, 8:19 pm
aku masih rindu.
Selasa, 09 Januari 2018
Prad.
Aku menyadari ini terlalu dini bagiku untuk jatuh hati. Terlebih pada sosok yang bahkan belum pernah aku temui. Tapi bukankah hati tak pernah sanggup memilih; pada sosok yang mana ia akan tertambat? Terserah, mana suka.
.
Aku menikmati setiap inci hatiku yang jatuh padamu. Rasanya menyenangkan sebab kau selalu punya cara untuk membuatku merasa bahagia. Pun aku tak ingat kapan terakhir aku merasakan hal demikian. Diam-diam aku bersyukur dapat mengenalmu meski mungkin caranya tak biasa.
.
.
Dalam gegap gempita aku dipaksa segera sadar; ini semu semata (?)
.
.
.
Aku tak tahu, tapi kau tiba-tiba berlalu. Tanpa ucapkan selamat berpisah, apa lagi sampai berjumpa. Sakit. Harapan yang perlahan ku bangun demi kebahagiaan nyatanya sirna hanya dalam sekali kejap. Kalau boleh aku meminta, aku hanya ingin lebih lama bersamamu. Membangun lagi kebiasaan yang menyenangkan. Masih banyak kisah yang ingin ku ceritakan. Dan aku juga masih ingin mendengar celoteh-celotehmu yang riang. Masih ada temu yang kita janjikan. Masih banyak jerejak yang harusnya kita ciptakan.
.
.
.
.
Bolehkah aku?
.
Aku menikmati setiap inci hatiku yang jatuh padamu. Rasanya menyenangkan sebab kau selalu punya cara untuk membuatku merasa bahagia. Pun aku tak ingat kapan terakhir aku merasakan hal demikian. Diam-diam aku bersyukur dapat mengenalmu meski mungkin caranya tak biasa.
.
.
Dalam gegap gempita aku dipaksa segera sadar; ini semu semata (?)
.
.
.
Aku tak tahu, tapi kau tiba-tiba berlalu. Tanpa ucapkan selamat berpisah, apa lagi sampai berjumpa. Sakit. Harapan yang perlahan ku bangun demi kebahagiaan nyatanya sirna hanya dalam sekali kejap. Kalau boleh aku meminta, aku hanya ingin lebih lama bersamamu. Membangun lagi kebiasaan yang menyenangkan. Masih banyak kisah yang ingin ku ceritakan. Dan aku juga masih ingin mendengar celoteh-celotehmu yang riang. Masih ada temu yang kita janjikan. Masih banyak jerejak yang harusnya kita ciptakan.
.
.
.
.
Bolehkah aku?
Jumat, 05 Januari 2018
Sepekan Setelah Perkenalan
Hari pertama.
Notifikasi
di layar gawai membuatku tergerak untuk menilik siapa gerangan yang
menghubungi. Oh, ternyata satu permintaan pertemanan di aplikasi pesan instan.
Aku tidak tertarik untuk mengiyakan ajakan pertemanan itu. Namun jemariku
tertarik untuk mengulur daftar permintaan pertemanan yang entah sejak kapan ku
abaikan sehingga menumpuk beberapa permintaan. Tarian jemariku terhenti pada
foto profil salah satu pria yang entah mengapa menarik hatiku. Biasa saja
memang, namun nyatanya aku langsung mengiyakan permintaan pertemanannya yang
terselip di antara lainnya.
“Hai,
Adriana.”
Tidak
sampai sepuluh menit kemudian, satu notifikasi baru muncul lagi di gawai. Dit.
Nama yang terpampang di layar gawai jelas-jelas menunjukkan nama seseorang yang
baru saja ku terima permintaan pertemanannya di aplikasi pesan instan. Sedikit
bingung aku membalas pesannya sebab ku pikir ada gunanya juga untuk aku sedikit
menahan diri. Hei, ini media sosial bukan? Apa saja mungkin terjadi di dunia
maya ini.
“Iyaaa.”
Sejauh
ini ku anggap jawaban itu cukup diartikan sebagai sambutan yang tidak
berlebihan namun tetap terkesan terbuka.
“Salam
kenal ya.”
Permulaan
yang bagus. Mari kita lihat selanjutnya akan seperti apa setelah ku sambut
salam perkenalannya. Kemudian ia menanyakan hal remeh temeh seputar diriku yang
wajar pada fase perkenalan. Percakapan kami terasa menyenangkan dengan saling
berbalas pesan yang atraktif.
“Lagi
sibuk nggak? Telepon aja, yuk.”
Deg.
Entah sudah berapa lama sejak terakhir kali aku berbicara dengan laki-laki
secara khusus kecuali ayah dan adikku. Agak lama hanya ku pandangi pesan yang
ia kirim. Bingung juga, mau bicara apa ya nanti? Bagaimana kalau aku mati kata
dan tidak asyik diajak bicara? Bagaimana kalau suaraku tidak enak didengar?
Baiknya aku minum dulu untuk menyegarkan tenggorokan sebelum ku iyakan
ajakannya berbicara via jalinan suara.
Tak
butuh lama buatnya langsung menelponku setelah ku izinkan. Sedikit berdebar ku
jawab panggilan darinya setelah tentunya memastikan suaraku cukup enak didengar.
Suara di ujung sana terdengar ceria, seolah mengalirkan semangat kepadaku.
Padahal waktu itu sudah hampir lewat tengah malam. Rupanya ia memang laki-laki
yang gemar bercerita dan pandai membuat suasana terasa menyenangkan. Ia pun tak
canggung menceritakan apa saja tentang dirinya pada percakapan kami di hari
pertama perkenalan ini. Tentang keluarganya, masa lalunya, apa yang ia suka dan
ia benci, dan hal-hal lain yang rasanya tak akan mampu ku ingat satu persatu.
“Ke
burjo yuk. Mendadak haus terus lapar nih.” Jarak kostnya dan kostku yang
ternyata tak cukup jauh ternyata menggodanya untuk langsung bertemu denganku.
“Sudah
larut. Kamu sendiri aja, ya?”
“Hmm
ya sudah. Setelah kita selesai bicara baru aku pergi makan.”
“Kalau
begitu sudahi sekarang saja.”
“Jangan.
Aku masih ingin berbincang denganmu.” Kalimat yang baru saja dituntaskannya itu
biasa saja namun membuat hatiku berdesir entah karena apa.
Sampai
dua jam berlalu dan kami sama-sama mengantuk kemudian percakapan itu terpaksa
kami sudahi.
“Ini
adalah salah satu usahaku untuk mengenalmu. Makanya sedari tadi aku bertanya
tentangmu dan aku pun bercerita banyak hal tentang diriku.”
“Mengapa?”
“Sebab
setelah sama-sama kenal dan saling nyaman, kisah tingkat selanjutnya tentu akan
mudah kita jalani.”
Sudah
terlalu larut. Dan aku yakin terlelap dengan senyum mengembang sampai pagi.
Hari kedua.
Selanjutnya
memang terasa lebih mudah, seperti yang ia katakan sebelumnya. Percakapan kami
terjalin semakin lekat. Dan ia pun tak ragu untuk memberikan perhatian demi perhatian
yang selalu berhasil membuatku berdebar-debar. Bahkan kepada laki-laki yang
dekat denganku terakhir kali, aku tak merasakan debar yang sedemikian rupanya.
Tetap saja aku memegang prinsip sejak awal perkenalan kami. Ini dunia maya, apa
saja bisa terjadi dengan mudahnya. Kami baru saja saling mengenal dan bahkan
tak pernah bertatap muka. Terlalu dini jika ku katakan aku jatuh cinta. Namun
getaran ini sungguh semakin menggelora.
“Kabari
aku, neng. Jangan buat aku menunggu dan khawatir denganmu.”
Kalimat
itu agak berlebihan jika diucapkan oleh seseorang yang berstatus hanya teman,
bukan? Padahal aku hanya bilang hendak pergi sebentar bersama kawan.
“Kamu
kemana aja sih? Aku cariin kamu dari tadi nggak ada kabarnya.”
Ini
tentu sedikit berlebihan, namun dibuat merasa dibutuhkan seperti itu aku jadi
makin tersipu. Entah sudah berapa lama aku tidak merasa sedemikian dicari,
ditunggu, dan dibutuhkan oleh seorang laki-laki.
Fase
perkenalan kami berjalan dengan lancarnya namun aku tetap waspada. Hati-hati
aku menjaga hatiku agar tak langsung jatuh padanya. Bisa bahaya sendiri jadinya
kalau aku jatuh cinta sementara kisah kami entah bagaimana nantinya. Namun
malam ini ia kembali berhasil membuatku menutup hari dengan perasaan bahagia.
Hari ketiga.
Sebuah
potret swafoto ia kirimkan kepadaku dan bukan untuk pertama kali. Parasnya yang
memang rupawan membuatku kembali berdebar. Kau mungkin saja ingin katakan bahwa
jatuh cinta tak hanya sekadar pada rupa. Iya, memang. Toh aku tidak semata
menyukainya sebab ia rupawan. Sudah pernah ku jelaskan perihal caranya
membuatku merasa dibutuhkan dan diperhatikan sedemikian rupa mau tak mau
menggetarkan hatiku.
Melihatnya
dan sejuta perhatian darinya membuatku tersenyum sendiri sepanjang hari. Ya
ampun, rasanya aku seperti remaja yang baru saja jatuh hati.
“Ada
beberapa orang yang memanggilku ‘yang’, sebab nama kecilku memang ‘yayang’.
Jadi kau bukan satu-satunya yang memanggilku demikian.” Waktu itu ia
memanggilku ‘yang’ setelah tahu aku punya nama kecil demikian.
“Ya
sudah, ‘yangbeb’. Biar beda dengan yang lainnya. Tapi tenang saja, aku akan
profesional kok.”
“Maksudnya?”
“Iya,
aku berusaha untuk tidak emosi jika mendengar langsung ada lelaki lain yang
memanggilmu demikian. Habisnya panggilan ‘yang’ kan dekat dengan konotasi ‘sayang’.”
Aku
semakin tersipu. Perasaan macam apa ini?
“Ya
sudah terserah kamu saja. Aku akan jaga hati biar tidak terbawa perasaan
padamu.” Secara tak langsung ku ungkapkan saja apa yang ku khawatirkan tentang
kedekatan kami.
“Kalau
kamu jaga hati agar tak terbawa perasaan, lalu kapan kita akan jadian? Aku saja
tidak mengapa terbawa perasaan.”
Aku
tak percaya akan mendengar pernyataan yang demikian dari dirinya. Entah reaksi
seperti apa yang akan aku lontarkan kepadanya.
“Memangnya
mengapa? Coba jelaskan mengapa aku tak boleh memakai perasaan padamu?” Ia tetap
gigih saat ku ucapkan alasan demi alasan.
“Bagaimana
hubungan kita akan berkembang jika begitu-begitu saja? Sudahlah, intinya ayo
kita jalani dan lanjutkan cerita ini.” Sudah. Cukup membuatku bungkam. Aku
semakin merasa ada di awang-awang.
Hari keempat.
“Aku
mau pergi dengan adikku.” Seperti sudah menjadi sebuah keharusan untukku
berpamitan dengannya.
“Baiklah.
Hati-hati di jalan, jangan ngebut, kabari kalau sudah sampai.” Dan seperti
biasa pula ia akan memberiku petuah demi petuah.
Demikian,
maka aku pergi dengan gembira sebab ada yang menantiku pulang. Pun saat aku
tiba di tujuan, ku kabari ia seperti yang ia minta. Tetapi tidak ada balasan.
Ah, mungkin ia sedang sibuk. Semalam ia sempat bilang bahwa temannya akan
menikah lusa dan ia didaulat untuk menjadi bestman. Bisa jadi ia sedang fitting seragam atau mempersiapkan hal
lainnya.
Satu
jam, dua jam, hingga lima jam. Tak pernah ia selama ini dalam tidak membalas
pesan. Namun tentu saja aku bukan perempuan posesif yang menuntut dikabari
berkali-kali tanpa jeda. Hingga akhirnya aku kembali di rumah dan malam
menjelang, tak ku temui juga pesannya menghampiri. Hingga saat aku hendak
menyerah dan tidur, nama yang ku nanti sejak pagi muncul.
“Hai,
maaf ya aku baru saja mengantar ayah. Seharian terjebak macet di perjalanan dan
kuotaku habis. Ini baru saja sampai rumah dan beli kuota.”
Lega
sekali aku mendapati kabar yang aku nanti sepanjang hari. Dan oleh sebab aku
sudah sangat mengantuk, aku pamit untuk lebih dulu memejam. Toh esok aku ada
acara keluarga dan dia harus menjadi bestman
di pernikahan temannya.
Hari kelima.
“Morning. Hari ini kamu mulai jadi bestman jam berapa?” Sebuah pesan di
awal pagi tentu menjadi hal yang lumrah bagi orang yang sedang dalam fase
pendekatan, bukan?
Namun
tidak aku sangka rupanya itu menjadi pesan yang terakhir terpampang di deretan
percakapan kami via gawai. Ia tak pernah lagi membalas pesanku, bahkan dibaca
saja tidak. Semula ku pikir ia terlalu sibuk dengan acaranya dan pasti akan
membalas pesanku di kala ia senggang. Atau mungkin saat acaranya sudah usai dan
ia benar-benar sudah santai di rumah. Lagi-lagi ku jelaskan bahwa aku bukan
tipe perempuan posesif. Jadi tak masalah ia lama membalas asal nanti ia tetap
memberi kabar seperti sebelumnya.
Aku
sengaja berkali-kali mengambil swafoto dengan gaya terbaik untuk ku persiapkan
nanti ku kirim padanya. Kebetulan aku sedang merasa cantik sekali hari ini
dengan riasan hasil tanganku sendiri di acara khusus hari ini. Dan seperti
sudah kebiasaan bagi kami berdua untuk saling bertukar potret setiap hari.
Malam
menjelang, kabar darinya tak juga datang. Hingga larut dan tak kunjung ia
menjemput. Sebenarnya hatiku risau, namun aku berusaha tetap tenang. Toh ia
bukannya menghilang sekian lama. Malam ini untuk pertama kalinya semenjak
perkenalan kami, aku tidur dengan hati yang tak menentu sebab menunggu.
Hari keenam.
Kalau
ada yang paling ingin ku temui di pagi saat ku mulai menjalani hari, sudah
tentu adalah kabar darinya yang selalu mampu membuatku bersemangat. Belum
apa-apa sudah ku buka gawai dan menilik daftar pesan masuk. Tak ada satu pun
darinya. Percakapan yang terlihat dalam ruang obrolan kami masih sama seperti
terakhir kali. Ia kemana? Apakah kuotanya habis lagi? Sudah tentu tidak
mungkin. Kan kemarin baru saja ia
beli. Memangnya ia seboros apa? Atau gawainya rusak? Ah, masa iya?
Padahal
sejak kemarin aku menunggu kabarnya yang mencerahkan hariku. Dan aku sudah
tidak sabar melihatnya dalam balutan busana pendamping pernikahan. Sudah tentu
ia akan semakin terlihat menggemaskan. Namun rupanya aku masih harus menunggu
lagi, mungkin.
Dan
kau tentu setuju denganku bahwa menunggu adalah pekerjaan yang paling
membosankan, merisaukan, dan melelahkan. Menunggu adalah pekerjaan bagi
orang-orang yang sabar saja. Berusaha tidak berpikir jelek, namun mau tak mau
anggapan-anggapan buruk tentangnya hilir mudik hinggap di otakku. Ia sedang di
mana? Ia sedang bersama siapa? Ia sedang melakukan apa? Ia sedang
menyembunyikan apa dariku? Ia sedang melakukan permainan apa denganku? Dan
sebagainya, dan sebagainya. Dan hari itu ku tutup dengan kembali risau perihal
ia serta satu rasa lagi bertumbuh di hati; rindu.
Hari ketujuh.
Apakah
aku harus melupakannya dan berpura-pura bahwa ia tak pernah ada? Pun
berpura-pura bahwa kisah antara aku dengan dia tak pernah terjadi. Toh kami tak
pernah bersua secara langsung dan boleh jadi di antara kami memang hanya cerita
di dunia maya. Bukankah sejak awal perkenalan pun aku sudah berprinsip pada
diri sendiri? Ini adalah dunia maya dan apa saja mungkin terjadi, tanpa perlu
ada alasan yang mengiringi.
Tapi
ini terlalu singkat, bukan? Baru saja ku jatuhkan hati namun ia seolah pergi.
Benarkah ia pergi? Atau memang hanya ada sesuatu yang terjadi?
Lantas
aku harus bagaimana?
Haruskah
aku bertahan dalam menunggu atau benar-benar melupakan dirinya. Entah sudah
berapa kali ku lihat ruang obrolan kami yang masih meninggalkan pesan terakhir
sama. Entah sudah berapa kali ku tilik apakah pesan dariku sudah terbaca
olehnya atau belum. Entah berapa kali ku baca ulang percakapan antara kami yang
ternyata mampu menghangatkan hatiku kembali. Dan entah berapa kali ku pandangi
potretnya untuk sekadar mengurangi rasa rindu yang semakin mengakar di hati.
Entahlah
akan jadi seperti apa kisah ini. Diam-diam pikiran nakalku berpikir, apakah
jangan-jangan yang tempo hari menikah adalah ia sendiri?
Selamat
tahun baru, Abang.
Aku
rindu.
Sabtu, 16 Desember 2017
Bicara Kehilangan
Kehilangan itu menyakitkan, bukan? Sesuatu yang kau genggam dan kau jaga mati-matian akhirnya harus terlepas juga. Tentu tanpa kau inginkan apalagi kau harapkan. Lagi pula, siapa yang ingin merasakan kehilangan? Ku rasa tidak ada. Semua menginginkan apa yang ia jaga dan ia sayangi tetap mendampingi sepenuh hati.
Kembali lagi pada awal tulisan ini, bahwa kehilangan memang menyakitkan. Seperti menggenggam pasir di tangan: semakin kencang kau genggam maka perlahan sedikit demi sedikit pasir-pasir itu akan berjatuhan juga, pun sebaliknya jika kau biarkan genggamanmu terlalu longgar maka pasir-pasir di tanganmu akan habis dengan sendirinya. Serba salah, bukan? Lantas apakah pada akhirnya setiap kepemilikan pasti akan berakhir pada kehilangan? Bagaimana tentang menjaga mati-matian?
Ku pikir iya, setiap kepemilikan pasti akan berakhir pada kehilangan bagaimana pun nanti bentuknya. Yang paling penting adalah bagaimana kita menjaga sesuatu sebaik mungkin sebelum tiba masanya nanti ia akan hilang. Sementara kita hanya terdiam tanpa tahu harus memberi makna macam apa mengenai kehilangan. Memaknai kehilangan tentu tak semudah kelihatannya. Entah perasaan macam apa yang tertoreh di hati. Entah perlakuan macam apa yang harus kau lakukan.
Aku sedang merasakan kehilangan. Tentu bukan yang pertama kali, sebab boleh dibilang ini adalah kehilanganku yang ketiga. Sedari awal ku jaga ia sepenuh jiwa sampai akhirnya ku sadar bahwa sekeras apa pun usahaku menjaganya, jika ia memang harus pergi maka ia akan pergi. Boleh jadi ia memang bukan ditakdirkan untuk jadi milikku.
Tapi kehilangan, ah pahit sekali rasanya. Sekali lagi, sebab ini yang ketiga kalinya. Pernah pula aku bersikap masa bodoh sebab ku yakin jika ia milikku maka ia akan tetap jadi milikku. Bukankah hati tak pernah salah memilih di mana ia akan berlabuh? Tapi lagi-lagi kehilangan menjadi takdirku. Lantas harus seperti apa lagi caraku menjaga?
Kau tahu, kini aku sudah mendapat yang baru. Kehilangan berkali-kali membuatku belajar lagi. Dan tak ayal aku jadi lebih meningkatkan proteksi. Dalam diam ku berharap bahwa apa pun yang terjadi, ia akan tetap berada di sampingku lalu aku bahagia hahahahahaha.
Catatan: Ia yang ku maksud adalah helm. Hati-hati, zaman sekarang maling helm semakin bangsat. Helm pertamaku yang hilang, ink biru tua. Nyaris 4 tahun menemaniku sejak SMA. Dimaling di parkiran kampus sendiri. Ku beli baru helm ink biru muda. Tak lama, dimaling pula ia di teras kontrakan sendiri. Taik. Ya sudah, aku pakai helm bawaan motor. Ku pikir dengan demikian tak akan menarik maling-maling bangsat di luar sana. Salah, saudara! Kembali helmku dimaling orang di kontrakan sendiri. Ya, helm bawaan motor yang untuk mendapatkannya harus beli motor dulu. Taik.
Lalu di sela-sela tipis dompetku, ku putuskan beli helm bogo. Siapa berani maling lagi, mandul!
Kembali lagi pada awal tulisan ini, bahwa kehilangan memang menyakitkan. Seperti menggenggam pasir di tangan: semakin kencang kau genggam maka perlahan sedikit demi sedikit pasir-pasir itu akan berjatuhan juga, pun sebaliknya jika kau biarkan genggamanmu terlalu longgar maka pasir-pasir di tanganmu akan habis dengan sendirinya. Serba salah, bukan? Lantas apakah pada akhirnya setiap kepemilikan pasti akan berakhir pada kehilangan? Bagaimana tentang menjaga mati-matian?
Ku pikir iya, setiap kepemilikan pasti akan berakhir pada kehilangan bagaimana pun nanti bentuknya. Yang paling penting adalah bagaimana kita menjaga sesuatu sebaik mungkin sebelum tiba masanya nanti ia akan hilang. Sementara kita hanya terdiam tanpa tahu harus memberi makna macam apa mengenai kehilangan. Memaknai kehilangan tentu tak semudah kelihatannya. Entah perasaan macam apa yang tertoreh di hati. Entah perlakuan macam apa yang harus kau lakukan.
Aku sedang merasakan kehilangan. Tentu bukan yang pertama kali, sebab boleh dibilang ini adalah kehilanganku yang ketiga. Sedari awal ku jaga ia sepenuh jiwa sampai akhirnya ku sadar bahwa sekeras apa pun usahaku menjaganya, jika ia memang harus pergi maka ia akan pergi. Boleh jadi ia memang bukan ditakdirkan untuk jadi milikku.
Tapi kehilangan, ah pahit sekali rasanya. Sekali lagi, sebab ini yang ketiga kalinya. Pernah pula aku bersikap masa bodoh sebab ku yakin jika ia milikku maka ia akan tetap jadi milikku. Bukankah hati tak pernah salah memilih di mana ia akan berlabuh? Tapi lagi-lagi kehilangan menjadi takdirku. Lantas harus seperti apa lagi caraku menjaga?
Kau tahu, kini aku sudah mendapat yang baru. Kehilangan berkali-kali membuatku belajar lagi. Dan tak ayal aku jadi lebih meningkatkan proteksi. Dalam diam ku berharap bahwa apa pun yang terjadi, ia akan tetap berada di sampingku lalu aku bahagia hahahahahaha.
Catatan: Ia yang ku maksud adalah helm. Hati-hati, zaman sekarang maling helm semakin bangsat. Helm pertamaku yang hilang, ink biru tua. Nyaris 4 tahun menemaniku sejak SMA. Dimaling di parkiran kampus sendiri. Ku beli baru helm ink biru muda. Tak lama, dimaling pula ia di teras kontrakan sendiri. Taik. Ya sudah, aku pakai helm bawaan motor. Ku pikir dengan demikian tak akan menarik maling-maling bangsat di luar sana. Salah, saudara! Kembali helmku dimaling orang di kontrakan sendiri. Ya, helm bawaan motor yang untuk mendapatkannya harus beli motor dulu. Taik.
Lalu di sela-sela tipis dompetku, ku putuskan beli helm bogo. Siapa berani maling lagi, mandul!
![]() |
| hehehehe |
Kamis, 30 November 2017
[NARADHIPTA]
Entah malam ke berapa setelah aku jatuh hati pada sosok perempuan yang entah mengapa bisa membuat tidurku tak nyenyak dan makan tak enak. Yah, aku tak sepenuhnya benar memang. Sebab nyatanya aku tetap pulas tertidur hingga matahari muncul dan tetap lahap menyantap makanan dengan porsi besar. Tapi yang perlu ku beri tahu, tiga hari lalu aku bertemu dengannya. Bukan sekadar pertemuan karena aku toh sudah pernah terjebak dalam pertemuan manis dengannya beberapa kali. Ini benar-benar istimewa sebab dalam pertemuan malam itu aku dapat memandangnya lebih dekat dan lebih lama. Seolah-olah hanya ada aku dan dia dalam sekat yang membuat kami semakin dekat. Pasti aku benar-benar sudah gila!
Kalau ku ingat-ingat, aku jatuh hati pada sosoknya yang cerdas dan selalu bicara lugas jika menyangkut soal ideologi atau remeh-temeh lainnya. Namun ia juga mahir bicara manis yang membuat hatiku semakin teriris karena sadar bahwa aku rasanya jauh sekali untuk menjangkaunya. Ia perempuan yang mandiri dan ceria. Bagaimana tidak membuatku jatuh hati dan cinta? Ah, bagaimana pula ia dapat membuatku merangkai kata semacam ini yang rasanya tak mungkin aku rangkai jika bukan untuk perempuan seperti ia.
Namun tetap saja ada hal-hal yang membuatku semakin ragu mendekatinya. Bentangan pembeda yang ada di antara aku dan ia. Aku tahu itu hanyalah angka semata namun mau tak mau membuatku berpikir keras. Padahal aku Naradhipta; lelaki penuh kilau. Agak tidak nyambung memang, tapi apakah aku tak bisa membuatnya silau dan terpukau? Ragu-ragu aku mendekatinya, padahal aku rindu. Penat aku bertanya-tanya, tapi jelas aku jatuh cinta!
Persetan dengan bentangan pembeda.
NB: [NARADHIPTA] adalah bagian dari catatan kecil untuk proyek masa depan. Wish me luck.
Kalau ku ingat-ingat, aku jatuh hati pada sosoknya yang cerdas dan selalu bicara lugas jika menyangkut soal ideologi atau remeh-temeh lainnya. Namun ia juga mahir bicara manis yang membuat hatiku semakin teriris karena sadar bahwa aku rasanya jauh sekali untuk menjangkaunya. Ia perempuan yang mandiri dan ceria. Bagaimana tidak membuatku jatuh hati dan cinta? Ah, bagaimana pula ia dapat membuatku merangkai kata semacam ini yang rasanya tak mungkin aku rangkai jika bukan untuk perempuan seperti ia.
Namun tetap saja ada hal-hal yang membuatku semakin ragu mendekatinya. Bentangan pembeda yang ada di antara aku dan ia. Aku tahu itu hanyalah angka semata namun mau tak mau membuatku berpikir keras. Padahal aku Naradhipta; lelaki penuh kilau. Agak tidak nyambung memang, tapi apakah aku tak bisa membuatnya silau dan terpukau? Ragu-ragu aku mendekatinya, padahal aku rindu. Penat aku bertanya-tanya, tapi jelas aku jatuh cinta!
Persetan dengan bentangan pembeda.
NB: [NARADHIPTA] adalah bagian dari catatan kecil untuk proyek masa depan. Wish me luck.
[KALA]
Pada malam ketiga setelah aku menyadari bahwa aku jatuh cinta, masih saja ku cari sosok ia. Ia yang belakangan muncul di mana-mana, di setiap kala hariku. Sementara nyatanya ia susah sekali ku temukan hadirnya. Ia yang belakangan datang tanpa ku pinta; dalam pejam mataku, dalam jelang tidurku, dalam hela napasku, dalam degup jantungku yang menjadi lebih cepat saat ku ingat raut wajahnya, dalam untaian jemariku yang menari di tuts-tuts keyboard kala menguntai kisah tentang ia. Padahal belakangan ini pun terus ku cari di mana ia yang hanya berujung pada titik-titik kealpaan.
Ia entah di mana. Ia entah sedang apa. Ia entah sedang bersama siapa. Sementara aku rindu.
Tiga hari yang lalu pertemuan tanpa sengaja itu menyadarkan aku bahwa jatuh cinta masih saja nikmat rasanya. Maklum, sudah sekian lama aku lupa bagaimana syahdunya mencinta. Bukan tanpa alasan. Sebab dalam jeda waktu yang sekian lama itu yang ku rasa hanyalah kehampaan. Tapi kembali lagi pada pernyataan bahwa ia berhasil membuatku sadar kembali nikmat dan syahdunya jatuh cinta. Ya ampun, mengapa mendadak aku jadi menggelikan seperti ini? Bicara cinta seolah baru kemarin saja tahu rasanya jatuh cinta. Ingat umur, dong!
Bicara umur, bicara usia, aku mendapat tambahan kesadaran bahwa ternyata ada yang mengganjal di antara aku dan ia. Bagaimana mungkin? Tapi aku cinta. Pujangga bilang cinta tak kenal batasan-batasan, termasuk di dalamnya jarak, bahasa, percaya, usia. Usia. Waktu. Kala. Kala. Kala. Aku.
Pada malam ketiga setelah pertemuanku dengannya, aku tahu bahwa aku memilih untuk tidak peduli dengan apa pun yang menjadi obrolan tabu mereka. Persetan dengan usia, terang saja aku jatuh cinta!
NB: [KALA] adalah bagian dari catatan kecil menuju proyek panjang masa depan. Wish me luck.
Minggu, 09 Oktober 2016
Tuan Nona Kesepian
"Kamu harus dengerin lagu ini. Bagus, aku suka." Lalu jemarimu menekan tombol mengganti daftar lagu yang sedang terputar, sementara tangan kananmu tetap fokus memegang kemudi. Kamu tersenyum, manis sekali. Aku semakin jatuh hati. Memandangmu lama-lama, aku selalu suka. Senyummu yang terus membingkai wajah dengan cepat menular kepadaku. Aku lalu mengakui bahwa kekuatan senyum memang sebegitu hebatnya.
"Kok nggak ada, ya? Perasaan kemarin aku masih dengerin. Apa keselip, ya?" Alismu tertaut, lucu. Alismu yang tebal seperti Shinchan, membuatku gemas sedari dulu.
"Kelewat mungkin tadi tapi kamu nggak sadar. Memangnya lagu apa, sih?" tanyaku penasaran.
"Yahh padahal lagunya bagus dan pas banget deh. Aku suka bayangin kamu kalau denger lagu ini. Judulnya Tuan Nona Kesepian."
Membayangkanku saat mendengarkannya? Aku semakin penasaran, lagu seperti apa yang kamu maksud. Lagu apa pun itu, tak urung dadaku bergetar mengingat kamu membayangkanku dalam suatu kondisi.
"Memangnya lagunya kayak gimana, sih?" aku terlanjur terlalu penasaran.
Dan kamu lalu bergumam sesaat, mengingat-ingat lirik lagu yang kemudian kamu nyanyikan dengan pelan namun cepat merasuki pendengaranku dan masuk ke sudut-sudut hati.
Tuan kesepian, tak punya teman
Hatinya rapuh tapi berlagak tangguh
Nona tak berkawan, tak pernah rasakan cinta
Sungguh pandai berkhayal, mimpi itu alamnya
Suaramu yang berat terdengar sangat halus bagiku. Aku tersenyum meski bingung menerka maksud lagu yang kamu nyanyikan. Lagu-lagu milik Tulus selalu menjadi daftar putar utama kita di setiap perjalanan. Jalanan Gunungpati waktu itu terasa lengang dan menyenangkan, saat kamu harus mengantarkanku kuliah pukul delapan.
"Kok nggak ada, ya? Perasaan kemarin aku masih dengerin. Apa keselip, ya?" Alismu tertaut, lucu. Alismu yang tebal seperti Shinchan, membuatku gemas sedari dulu.
"Kelewat mungkin tadi tapi kamu nggak sadar. Memangnya lagu apa, sih?" tanyaku penasaran.
"Yahh padahal lagunya bagus dan pas banget deh. Aku suka bayangin kamu kalau denger lagu ini. Judulnya Tuan Nona Kesepian."
Membayangkanku saat mendengarkannya? Aku semakin penasaran, lagu seperti apa yang kamu maksud. Lagu apa pun itu, tak urung dadaku bergetar mengingat kamu membayangkanku dalam suatu kondisi.
"Memangnya lagunya kayak gimana, sih?" aku terlanjur terlalu penasaran.
Dan kamu lalu bergumam sesaat, mengingat-ingat lirik lagu yang kemudian kamu nyanyikan dengan pelan namun cepat merasuki pendengaranku dan masuk ke sudut-sudut hati.
Tuan kesepian, tak punya teman
Hatinya rapuh tapi berlagak tangguh
Nona tak berkawan, tak pernah rasakan cinta
Sungguh pandai berkhayal, mimpi itu alamnya
Suaramu yang berat terdengar sangat halus bagiku. Aku tersenyum meski bingung menerka maksud lagu yang kamu nyanyikan. Lagu-lagu milik Tulus selalu menjadi daftar putar utama kita di setiap perjalanan. Jalanan Gunungpati waktu itu terasa lengang dan menyenangkan, saat kamu harus mengantarkanku kuliah pukul delapan.
***
Tuan, apa yang salah padamu
Mengapa wajahmu ada seribu
Tuan, apa yang salah padamu
Seakan dunia hanya kamu
Sempat aku bertanya-tanya dalam hati sendiri. Mengapa kamu bilang lagu itu pas buat kita, ya? Padahal lagu itu adalah pertentangan dua hati yang sama-sama terhalang gengsi. Sementara waktu itu kita sedang cinta-cintanya. Namun kemudian aku sadar, lagu itu memang kita sekali.
Kamu, Tuan yang selalu memberi mahal kata maaf dan kabar dalam dirinya. Tuan yang menganggap aku akan selalu jatuh padamu. Tuan yang dengan sesuka hati datang dan pergi tanpa permisi. Tuan yang merampok dengan keji hati dan urung membawanya kembali.
Aku, Nona yang senang merajut fatamorgana. Nona yang punya seribu khayalan indah berisi rencana dan wacana yang akan kuubah menjadi nyata bersamamu. Nona yang meski sadar kamu sudah berlalu pergi namun tetap duduk menanti seperti anak kecil yang dijanjikan mainan serta gulali jika sabar menunggu sang Ibu kembali dari pasar.
Ah, Tembalang dingin sekali setelah hujan yang terus-menerus sejak pagi hari tadi. Syukurlah sekarang sudah berhenti. Kasihan bagi yang menunggu hujan demi sesuap nasi. Di tempatmu berada kini yang entah dimana, mungkin saja terjadi hal yang sama.
Nona, apa yang salah padamu
Apa enaknya tenggelam dalam khayal
Nona, apa yang salah padamu
Kau tahu ku tak punya hati
Kau masih saja menanti
Ada yang salah dengan persepsimu kali ini, Tuan. Aku memang Nona dengan sejuta khayal yang meski sadar kamu sudah berlalu pergi namun tetap duduk menanti seperti anak kecil menunggu Ibunya pulang membawa gulali. Tapi kamu mungkin lupa, anak kecil pun punya rasa jenuh. Ia bisa pergi bermain gundu, berlari mengejar capung, memanjat pohon belimbing, dan melakukan hal lain dari pada sekedar duduk menanti.
Tuan, Nona yang semula milikmu ini sudah jenuh. Kali ini biarkan aku yang pergi, ya? Ada hati lain yang menantiku dengan pasti.
Semoga kamu menurunkan harga gengsimu yang mahal sekali, Tuan.
Mereka berdua bertemu di satu sudut taman kota
Bertatap tapi tak bicara
Masing-masingnya menganalisa
Terinspirasi secara nyata oleh Tulus - Tuan Nona Kesepian
dan bumbu-bumbu kenangan yang mendesak untuk diulas
Semoga semua hati selalu berbahagia,
aamiin.
Minggu, 03 Juli 2016
Adriana: Patah Hati
Ada
rasa perih tertanam dalam hatiku. Ku kira pisau belati, ternyata cuma rindu.
“Cuma?
Kau bilang cuma, tapi “cuma” itu mampu membuatmu terjaga siang malam menahan
kantuk, lelah, dan dahaga. Cuma demi
dia. Lihat, tubuhmu kian kerontang dihisap rindu yang kau bilang cuma.” Rahne
kesal. Belakangan ini Adriana semakin aneh saja. Sebentar tertawa bahagia
seolah ia baru saja naik tahta, sebentar kemudian murung seperti habis
kehilangan uang sejuta dollar. Sebegitu
absurd kah orang patah hati?
Patah
hati memang ajaib. Ia dapat bekerja dengan instant. Bayangkan kau telah
menampung air di bak mandi begitu lama, menantinya dari kosong hingga penuh,
kemudian dengan sekali hentakan seseorang menarik penutup bak. Flop! Air yang
susah payah kau tampung mengalir deras begitu saja menyisakan bak mandi kosong
kembali.
Atau
bayangkan kau sedang bermain layang-layang. Layang-layangmu mengudara angkuh
sekali. Tinggi, dari atas sana ia bisa melihat semuanya. Paling tinggi, tak ada
yang menandingi. Layang-layangmu adalah yang terhebat. Lalu angin dengan sekali
sapuan memutuskan benang. Layang-layangmu hilang, terbang tak tentu arah.
Mungkin tersangkut di pohon atau tiang listrik. Mungkin juga terjatuh di tanah,
lalu koyak. Kau sudah berlari sekencang mungkin, mencoba mengejar untuk
dapatkan milikmu kembali. Namun tetap lepas, tanganmu tak lagi mampu
menggapainya. Kehilangan memang rasanya begitu menyakitkan. Layang-layangmu
bisa saja kemudian jatuh ke tangan orang lain yang tanpa sengaja menemukannya,
lalu memutuskan untuk merawatnya. Layang-layangmu kemudian pergi dan menjadi milik
orang lain.
“Bisa
tidak, hati yang patah utuh kembali? Bukankah sesuatu yang patah tak akan
pernah kembali seperti pertama kali? Utuh, namun tetap berbekas.” kata Adriana.
“Yang
tak akan bisa kembali seperti pertama kali itu goresan luka, Dri. Hatimu akan
tetap sama, tak lebih tak kurang. Hati itu kan, milikmu sendiri.” Rahne
menjawab sambil memainkan rambut Adriana yang hitam dan panjang terurai.
“Kau
pernah tidak sih, patah hati?”
Rahne
berpikir sejenak. Matanya menerawang. Dahinya sampai berkerut. Bibirnya
bergerak lucu. Pernah tidak, ya? Kalau dipikir-pikir, selama ini dia santai
sekali. Pernah mungkin, tapi tidak pernah sampai seperti yang Adriana atau
orang lain rasakan. Semuanya langsung menguap begitu saja setelah ia berdiam
diri dan merenung. Rahne sampai curiga, hatinya terbuat dari apa? Kadang ia
ingin juga menjadi sedikit lebih peka dan dapat merasa lebih dalam seperti
orang kebanyakan. Bukan apa, tak jarang ia mendapat protes dari keluarga,
teman, bahkan pacar karena ketidakpekaannya. Tak luput juga dari Adriana,
temannya bertahan hidup jauh dari rumah selama nyaris tiga tahun ini.
Rahne
kadang iri pada Adriana. Sahabatnya itu bukan main pekanya. Tak jarang Adriana
bisa mengetahui hal-hal yang bahkan niatnya dirahasiakan oleh Rahne. Ada
perubahan sedikit, Adriana tahu. Ada yang dipendam sedikit, Adriana juga tahu
meski Rahne sudah berusaha bertingkah sewajarnya. Kata Adriana, justru mudah
mengetahui sesuatu yang aneh atau dirahasiakan. Orang yang sedang memendam dan
merahasiakan sesuatu biasanya bertingkah aneh. Mencurigakan sehingga mengundang
intuisi Adriana bekerja. Maka dari itu Adriana pasti menang banyak jika
menjalin suatu hubungan dengan lelaki. Ia serba tahu. Eh, tapi mengapa dengan
Rio ia mendadak bodoh, ya? Buktinya sampai sekarang Adriana masih kacau saja.
“Dri,
udah sih. Buang saja Rio. Yang lain masih banyak, kan? Aku tahu loh, kau itu
bukannya tidak punya penggemar dan gebetan yang diam-diam kau simpan meski jauh
di lubuk hati.”
Semenjak
pertemuan di kedai kopi dengan Rio sebulan yang lalu, Adriana memang tetap
sama. Sama kacaunya, sama patahnya. Rio pergi, dan Adriana tak tahu adakah
keinginan untuk kembali. Ditinggal begitu, siapa yang mau? Tak ada yang mau
ditinggal apalagi saat sedang sayang-sayangnya. Seperti ditinggal seorang di
hutan sepi tak berpenghuni. Mau apa? Mau kemana? Harus bagaimana? Otak rasanya
susah sekali berpikir jernih.
“Aku
mencoba, Ne. Tapi selalu saja semua datang kembali. Aku tidak ingin, bahkan aku
sudah membuang semua tentang dia jauh sekali. Tapi masih saja semua bisa datang
lagi.”
“Hmm..
baiklah, aku salah. Aku ubah, ya. Kau tak perlu susah payah membuang semua
tentang Rio. Sebab semakin kau berusaha menghapus dan melupakan, ingatan dan
kenangan tentangnya justru akan semakin hadir dan susah hilang. Biarkan saja,
Dri. Biarkan semua mengalir begitu saja. Aku mungkin memang tidak pernah merasa
patah seperti yang kau rasakan saat ini. Tapi aku tahu, kau harus membiarkan
semuanya alami saja. Nanti, ia akan hilang sendiri.”
Adriana
rasanya tidak rela jika harus melepaskan semua tentang Rio begitu saja. Biarlah
sakit, asal tetap ada Rio di hatinya. Pembodohan. Seringkali cinta dan
pembodohan berada bersebelahan dengan sekat yang amat tipis hingga tak bisa
dibedakan. Ayolah, cinta boleh, goblok jangan.
“Dri,
minum coklat, yuk! Tambahkan kopi sedikit seperti kesukaanmu. Pahit, Dri. Biar
menyatu dulu dengan rasa sakitmu. Setelah itu kita makan es krim. Rasa buah saja,
kau kan tidak suka es krim yang penuh susu. Eneg,
kan? Lagi pula rasa buah itu segar. Pas untuk penawar setelah muak dengan rasa
pahit.”
Adriana
malas bangkit namun tangan Rahne lebih cekatan untuk menariknya bangun dan
memaksanya mandi serta bersiap diri.
***
Jalanan yang ramai
mendadak lengang saat memasuki komplek kost Adriana. Pukul sebelas lewat lima
belas malam. Udara dingin sekali merengkuh Adriana sampai ke sudut paling
dalam. Sebentar lagi mungkin hatinya beku. Kabut begitu tebal, mengaburkan pandangan. Sebenarnya entah pandangannya kabur karena kabut atau karena air mata yang menggantung sedari tadi. Ada rasa sedih yang semakin nyata saat Adriana menembus kabut untuk pulang.
Begitu tebal dan jelas terasa kabut di depan mata namun nyatanya tak bisa
benar-benar tergapai. Kabut hadir sepintas lalu, menyisakan rasa dingin yang
tercekat di rongga dada.
Sampai. Adriana membuka
topeng yang sedari tadi dipakainya. Ah, berpura-pura bahagia ternyata
melelahkan. Ya, topeng yang Adriana adalah mukanya yang pura-pura bahagia dan baik baik saja. Begitu topeng dibuka, yang terlihat adalah wajah kuyu seorang
perempuan dengan sisa-sisa air mata yang mengering dan sebagian tertahan di
kelopak. Riasan di matanya berantakan, memperlihatkan kantung mata yang semakin
beranak dan lingkaran hitam tanda lelah. Mata itu, mata yang biasanya selalu
berbinar cerah malah terlihat sayu. Pandangannya kosong, menerawang
kemana-mana. Raut muka yang nampak disana pun datar, tanpa emosi apa pun.
Sepintas hanya dapat dikatakan, Adriana begitu mengerikan.
Rasanya Adriana
langsung ingin tidur saja. Jika beruntung, ia dapat bertemu dengan Rio di
mimpi. Sebab di mimpi, banyak hal yang tak dapat terjadi di dunia nyata mampu
terjadi. Mereka bisa berdua saja melakukan apa saja yang tak tuntas di dunia
nyata. Berdua saja, tanpa ada yang menyela. Bahagia, tak ada luka. Dan ketika
bangun nanti, Adriana harap Rio akan datang dan berkata bahwa semua luka yang
ia ciptakan di dunia nyata hanya bercanda. Namun pikirannya penuh, membuat mata susah sekali terpejam lalu lelap.
“Aku kuat. Aku tegar.
Aku pasti bisa.” Berulang kali Adriana mengulang perkataan itu sebelum akhirnya
memberanikan diri bertemu dengan Rio di kedai kopi kala itu. Pertemuan yang
pada mulanya Adriana pikir bakal menjadi titik awal yang baru bagi hubungan
keduanya. Adriana telah mempersiapkan diri sesempurna mungkin bahkan sejak
jauh-jauh hari. Setiap inci tubuhnya tak ada yang terlewat sebab ia ingin Rio
melihatnya dengan bahagia.
Siapa yang mengira jika
akhirnya Rio datang dengan seorang wanita yang ia kenalkan sebagai pacar
barunya? Segala kekuatan yang Adriana miliki saat itu rasanya hampir runtuh. Ia
tak percaya Rio begitu tega. Lebih dari itu, apa maksudnya? Beruntung Adriana
cepat menguasai keadaan dan memasang topeng sebelum air mata benar-benar tumpah
di pipinya.
Di balik topeng ada
yang tak mampu terucapkan sehingga terganti tawa dan candaan palsu seolah ia
benar-benar bahagia. Ah, munafik sekali jika Adriana tak patah hati. Tawa
laki-laki itu pernah tercipta lebih lepas saat bersama Adriana. Badannya yang
tegap pernah menjadi tempat merebah paling nyaman. Tak lupa pelukan hangat yang
selalu menjadi penenang saat keduanya merasa kacau. Perutnya yang sedikit
tambun pernah menjadi sasaran keisengan Adriana hingga laki-laki itu tak kuasa
menahan tawa dan balas mengerjai Adriana dengan pelukan erat dan ciuman
bertubi-tubi. Ah, ciuman itu.. Adriana benar-benar merindukannya. Bibir
laki-laki itu terasa nikmat sekali sehingga Adriana suka melumatnya
habis-habisan. Terlebih lagi laki-laki itu adalah a good kisser. Ralat, a great
kisser. Bagi Adriana. Tangan yang menggenggam tanpa pernah ingin melepas.
Mata yang menatap dengan tajam namun sayang. Kata-kata sayang, perhatian yang
tercurah, pikiran dan bahkan waktu yang selalu sempat sesempit apa pun. Setiap
jengkal dari laki-laki itu adalah milik Adriana. Pernah, dulunya. Sakit sekali
rasanya menyadari bahwa ia tak lagi milik Adriana. Tepatnya, ia direnggut paksa
dari kepemilikan Adriana.
“Bahkan kata maaf pun
tak terucap olehnya. Begitu mahalkah kata maaf sehingga ia tak mampu membeli? Atau begitu tinggi kah harga dirinya sehingga aku yang tak mampu membeli?” Adriana
tak habis pikir.
Ada hati yang terluka
sebab tak ada hati yang besar untuk mengucap maaf. Padahal, satu kata itu saja
sudah mampu mengurangi rasa sakit. Meski hanya sedikit. Adriana jatuh ke jurang
yang paling dalam yang diciptakan oleh sosok kecintaannya. Dalam, tak terlihat
dasarnya. Yang lebih menyakitkan adalah kenyataan bahwa di masa Adriana hidup
saat ini ternyata ada kosakata baru berbunyi “baper” atau “bawa perasaan” yang
kemudian menggeser pentingnya kata “maaf”. Sosok baper hadir sebagai pembelaan
bagi mereka yang tak dapat menghadirkan sosok maaf di hidupnya.
“Kamu sih, baper. Kalau nggak baper kan, nggak
akan begini jadinya.”
Hei, seseorang tak akan
terhanyut dalam perasaannya sendiri yang mendadak biru jika tak kau beri lautan
berisi keindahan yang memabukkan. Mengapa tak berbesar hati dan berkata, “Maaf.
Aku mengaku salah. Tak seharusnya aku mempermainkan perasaanmu seperti ini.”
Atau jika itu saja
terasa berat, cukup kau katakan, “ Maaf.” Satu kata saja. Tak lebih. Biarkan ia
melebihkan makna dirinya sendiri.
Hancur. Hati Adriana
telah terberai menjadi keping-keping. Mengapa tak sekalian saja Rio membunuhnya
langsung dari pada harus membunuhnya secara perlahan seperti ini?
Bertahun-tahun lamanya Adriana tertawan oleh hati Rio. Dan ia tak ingin bebas.
Entah, Adriana merasa ada yang bersembunyi di balik hati Rio. Tak terlihat.
Letaknya jauh sekali melintasi liku-liku hati utama Rio. Dan topeng itu, topeng
yang Rio pakai sebenarnya tak lebih baik dari kepunyaan Adriana. Mata Rio
diam-diam menatap sendu setiap Adriana tergelak. Napas Rio terhembus berat saat
memalingkan tatapan dari Adriana. Ada yang tak terkatakan meski harus
dikeluarkan.
Sebulan berlalu,
Adriana tengah menikmati es krim rasa strawberry traktiran Rahne. Asam, membuat
Adriana teringat bahwa hidup memang sesekali butuh ditertawakan. Namun ada rasa
manis yang diam-diam bersembunyi di balik rasa asam. Sesekali secara
mengejutkan menyentuh lidah Adriana. Ya, selalu ada pelangi setelah badai
pergi.
Setiap patah hati
rasanya Adriana ingin tertawa kencang. Entah menertawakan apa, entah
menertawakan siapa. Mungkin dirinya sendiri atau untuk ia yang telah membuatnya
patah hati. Namun kini Adriana sudah tahu harus apa yang pasti. Topeng yang
melekat di wajah Rio itu harus ia lepas sebelum benar-benar menjadi lapisan
kulit, melekat, lalu abadi.
Rabu, 29 Juni 2016
Payung Teduh - Resah
Kalau kau menduga isi dari tulisan ini adalah lirik lagu Payung Teduh, sayangnya aku telah mengecewakanmu. Tapi yang pasti, setiap orang butuh resah untuk menuju ke atas.
Pernah tidak, kau merasa begitu resah
tapi bahkan kau tidak tahu apa sebabnya? Seperti kau harus menemukan sesuatu
untuk menjadi jawaban yang nantinya dapat meredam keresahanmu. Lalu kau
mendadak menjadi orang lain, bukan karena kau berubah melainkan kau dalam
pencarian jawaban yang entah dimana pun kau tak tahu. Terkadang dalam mencari sebuah
jawaban kau perlu merenung, mengosongkan pikiran untuk kemudian membiarkan
banyak hal datang untuk mengisi. Atau bertingkah gila seolah jiwamu sedang tak
sehat. Atau pergi dari kebiasaanmu, keluar dari zona nyaman demi mendapat
suasana baru. Atau apa pun itu, kau sebutlah sendiri.
Resah, hal itu pasti pernah dirasakan
siapa saja dan untuk hal apa saja. Bisa karena hal sederhana macam cinta,
isu-isu yang terus bergulir bergantian, dirimu sendiri, atau bahkan tentang zat
Maha Agung; Tuhan. Bersyukurlah jika kau masih bisa merasa resah sebab artinya
pikiran dan perasaanmu masih bekerja dengan tepat, meski kadang keluar dari
relnya. Dadamu begitu bergejolak, otakmu terus mencari, dan perasaanmu tajam
diasah. Indah, kan?
Sudah beberapa hari ini aku didera
keresahan. Ku kira perihal cinta sebab belakangan aku diserang beberapa jerawat
yang kunamai jerawat rindu. Hei, bukankah jerawat sering dikaitkan dengan
masalah perasaan? Logika sih, sebenarnya. Jerawat datang salah satunya karena masalah
produksi hormonal yang kaitannya dengan perasaan. Nah, kembali ke keresahan.
Sejak hari pertama pulang ke rumah,
resah itu sudah ada. Entah karena meninggalkan banyak hal di Semarang atau
masalah hati, itu yang jadi perkiraanku. Hati. Mengapa selalu tentang hati?
Rasanya hati adalah topik yang universal
dan tak pernah habis dibahas. Ku kira, jeda yang kembali tercipta antara aku
dan seseorang yang aku sayangi tanpa henti beberapa tahun belakangan ini yang
menciptakan kebisuan dan keabsurdan
di hari-hariku, kemudian. Entah berapa tulisan yang tercipta, berangkat dari
masalah hati itu. Di catatan dalam handphone,
di lini masa media sosial pribadi, di perkataan, di hati, dan di blog ini
sendiri. Entah tersurat jelas atau pun hanya tersirat. Entah berapa waktu yang
habis untuk sekedar melamun. Tak ada yang terpikirkan. Namanya juga melamun. Yahh,
meski kadang terlintas satu dua angan dan kenangan, juga harapan. Entah berapa
pejam yang tertunda sebab tiap malam pikiranku semakin menggelora dan susah
untuk beristirahat. Padahal, malam kan
waktunya istirahat, ya? Tapi setiap malam semakin merangkak naik, otakku justru
semakin penuh. Menyebalkan, kadang.
Semua itu ku kira sebab permasalahan
klasik yang menyerang hati. Ah, mengapa aku tak berpikir lagi? Hati, hati,
hati. Tak bisakah sejenak kita berpaling pada jantung, usus, atau paru-paru?
Dini hari tadi, selepas sahur baru
aku merasa menemukan jawaban atas keresahan beberapa hari terakhir. Berawal
dari melihat tulisan seorang teman yang dipublikasikan ke salah satu laman web.
Rasanya aku mendapat pukulan keras, tepat di hati dan pikiran. Duh, mengapa tak
sadar dari dulu, ya? Tapi aku bersyukur akhirnya tersadar, dan semoga tidak
hanya sesaat.
“Hidup itu paradoks”, begitu Sudjiwo
Tejo pernah berkata. Ya, hidup ini memang paradoks. Kau mungkin merasa segala
hal yang kau perbuat dan pikiran adalah sebenar-benarnya hal di hidup ini. Dan
orang-orang pun mestinya demikian. Namun pada kenyataannya banyak yang menentangmu.
Bersimpangan jalan. Berada di sisi yang berbeda denganmu. Lalu kau merasa
jengah, kemudian memandang yang lain dari sudut yang kecil.
Ah, kau ternyata tak bisa memaksakan
orang lain untuk sama seperti dirimu. Kau boleh berpendapat, semua orang bebas
berpendapat, bukankah negeri ini selalu mengagungkan demokrasi? Namun pada
akhirnya kau dan semua orang tak bisa memaksakan pendapat itu menjadi suatu
kehendak pribadi. Ya, memang. Kepala setiap orang pasti memiliki tendensi
masing-masing, apalagi jika didasari oleh suatu kepentingan. Begitulah salah
seorang seniorku di kampus pernah berkata. Tendensi, hmm. Setiap orang pasti
punya tendensi, entah kecil atau besar. Entah baik, maupun jahat. Atau kurang
baik mungkin lebih tepatnya. Ketika itulah diri diuji, seberapa bijak kau bisa
menyikapi tendensi itu.
Tadi paradoks, sekarang tendensi.
Maumu apa, sih?
Mauku, ya terkadang aku hanya ingin
berada bersama orang-orang yang sejalan denganku. Berbicara dan berkembang
bersama orang yang memiliki tujuan yang sama rasanya lebih menyenangkan.
Prosesnya mungkin berbeda-beda, tapi tujuan tetap sama. Kecewa kadang jika
mendapati seorang yang begitu dekat namun sayangnya jauh dalam tujuan. Kadang
aku sadar, mereka punya jalan dan cara masing-masing. Namun hanya terkadang.
Ah, ternyata aku masih belum mengerti
benar, ya. Ada banyak orang di sekelilingku yang mengekspresikan kebisaannya
dengan caranya masing-masing. Dan dilandasi oleh alasan dan kepentingan masing-masing.
Tak semua harus sama melulu. Bukankah kau sering berkata, bahwa menjadi sama
adalah hal yang membosankan?
Paradoks. Hidup ini memang paradoks. Selalu
ada pertentangan. Yang kau anggap benar belum tentu diterima dengan benar dan
lapang dada oleh orang lain. Selalu ada konflik di setiap sisinya. Kau suka
minum bir, meracuni dirimu dengan nikotin, mendengarkan musik yang
berdentum-dentum, pulang menjelang pagi, berbicara dan bertingkah bebas, tapi
kau menghasilkan sesuatu bahkan lebih. Kau punya sesuatu yang bisa kau
tunjukkan, dan kau puas akan hal itu. Kau bebas. Kau punya banyak hal yang
orang lain tidak punya. Kau keluar dari kotak yang membuat orang-orang nyaman,
bahkan terlena. Kau hebat, dalam jalanmu sendiri.
Mayoritas orang melihatmu sebagai
berandal yang hanya sedang berada dalam fase yang tidak jelas. Nol, tanpa isi
apa-apa. Sebagian lagi menganggapmu hanya gangguan, tanpa melihat kemampuan
yang kau punya, yang padahal jauh melampaui mereka.
Sayangnya, seringkali kaum mayoritas
merasa menang dan paling benar sedangkan kaum minoritas merasa mereka istimewa
dan menjadi prioritas. Terkadang jalan memang tidak melulu hanya satu, untuk
itulah gunanya persimpangan.
Hmm.. hidup memang paradoks. Semua
hal bisa berubah kapan saja. Yang perlu kau lakukan hanyalah mampu bertahan dan
tetap bersinar dalam situasi apa saja.
Kalau kau merasa tulisan ini kurang menarik, tak apa. Tingkat ketertarikan orang berbeda-beda. Lagi pula apalah bagusnya tulisan ini, cuma hasil dari sebagian keresahanku saja.
Selamat pagi.
Dapat salam dari embun yang menari.
Selamat resah, ya!
Langganan:
Postingan (Atom)
