saya bukan blogger. saya hanya ingin bercerita :)

Sabtu, 16 Desember 2017

Bicara Kehilangan

Kehilangan itu menyakitkan, bukan? Sesuatu yang kau genggam dan kau jaga mati-matian akhirnya harus terlepas juga. Tentu tanpa kau inginkan apalagi kau harapkan. Lagi pula, siapa yang ingin merasakan kehilangan? Ku rasa tidak ada. Semua menginginkan apa yang ia jaga dan ia sayangi tetap mendampingi sepenuh hati.
Kembali lagi pada awal tulisan ini, bahwa kehilangan memang menyakitkan. Seperti menggenggam pasir di tangan: semakin kencang kau genggam maka perlahan sedikit demi sedikit pasir-pasir itu akan berjatuhan juga, pun sebaliknya jika kau biarkan genggamanmu terlalu longgar maka pasir-pasir di tanganmu akan habis dengan sendirinya. Serba salah, bukan? Lantas apakah pada akhirnya setiap kepemilikan pasti akan berakhir pada kehilangan? Bagaimana tentang menjaga mati-matian?
Ku pikir iya, setiap kepemilikan pasti akan berakhir pada kehilangan bagaimana pun nanti bentuknya. Yang paling penting adalah bagaimana kita menjaga sesuatu sebaik mungkin sebelum tiba masanya nanti ia akan hilang. Sementara kita hanya terdiam tanpa tahu harus memberi makna macam apa mengenai kehilangan. Memaknai kehilangan tentu tak semudah kelihatannya. Entah perasaan macam apa yang tertoreh di hati. Entah perlakuan macam apa yang harus kau lakukan.

Aku sedang merasakan kehilangan. Tentu bukan yang pertama kali, sebab boleh dibilang ini adalah kehilanganku yang ketiga. Sedari awal ku jaga ia sepenuh jiwa sampai akhirnya ku sadar bahwa sekeras apa pun usahaku menjaganya, jika ia memang harus pergi maka ia akan pergi. Boleh jadi ia memang bukan ditakdirkan untuk jadi milikku.
Tapi kehilangan, ah pahit sekali rasanya. Sekali lagi, sebab ini yang ketiga kalinya. Pernah pula aku bersikap masa bodoh sebab ku yakin jika ia milikku maka ia akan tetap jadi milikku. Bukankah hati tak pernah salah memilih di mana ia akan berlabuh? Tapi lagi-lagi kehilangan menjadi takdirku. Lantas harus seperti apa lagi caraku menjaga?

Kau tahu, kini aku sudah mendapat yang baru. Kehilangan berkali-kali membuatku belajar lagi. Dan tak ayal aku jadi lebih meningkatkan proteksi. Dalam diam ku berharap bahwa apa pun yang terjadi, ia akan tetap berada di sampingku lalu aku bahagia hahahahahaha.

Catatan: Ia yang ku maksud adalah helm. Hati-hati, zaman sekarang maling helm semakin bangsat. Helm pertamaku yang hilang, ink biru tua. Nyaris 4 tahun menemaniku sejak SMA. Dimaling di parkiran kampus sendiri. Ku beli baru helm ink biru muda. Tak lama, dimaling pula ia di teras kontrakan sendiri. Taik. Ya sudah, aku pakai helm bawaan motor. Ku pikir dengan demikian tak akan menarik maling-maling bangsat di luar sana. Salah, saudara! Kembali helmku dimaling orang di kontrakan sendiri. Ya, helm bawaan motor yang untuk mendapatkannya harus beli motor dulu. Taik.
Lalu di sela-sela tipis dompetku, ku putuskan beli helm bogo. Siapa berani maling lagi, mandul!

hehehehe

Tidak ada komentar:

Posting Komentar