Ada
rasa perih tertanam dalam hatiku. Ku kira pisau belati, ternyata cuma rindu.
“Cuma?
Kau bilang cuma, tapi “cuma” itu mampu membuatmu terjaga siang malam menahan
kantuk, lelah, dan dahaga. Cuma demi
dia. Lihat, tubuhmu kian kerontang dihisap rindu yang kau bilang cuma.” Rahne
kesal. Belakangan ini Adriana semakin aneh saja. Sebentar tertawa bahagia
seolah ia baru saja naik tahta, sebentar kemudian murung seperti habis
kehilangan uang sejuta dollar. Sebegitu
absurd kah orang patah hati?
Patah
hati memang ajaib. Ia dapat bekerja dengan instant. Bayangkan kau telah
menampung air di bak mandi begitu lama, menantinya dari kosong hingga penuh,
kemudian dengan sekali hentakan seseorang menarik penutup bak. Flop! Air yang
susah payah kau tampung mengalir deras begitu saja menyisakan bak mandi kosong
kembali.
Atau
bayangkan kau sedang bermain layang-layang. Layang-layangmu mengudara angkuh
sekali. Tinggi, dari atas sana ia bisa melihat semuanya. Paling tinggi, tak ada
yang menandingi. Layang-layangmu adalah yang terhebat. Lalu angin dengan sekali
sapuan memutuskan benang. Layang-layangmu hilang, terbang tak tentu arah.
Mungkin tersangkut di pohon atau tiang listrik. Mungkin juga terjatuh di tanah,
lalu koyak. Kau sudah berlari sekencang mungkin, mencoba mengejar untuk
dapatkan milikmu kembali. Namun tetap lepas, tanganmu tak lagi mampu
menggapainya. Kehilangan memang rasanya begitu menyakitkan. Layang-layangmu
bisa saja kemudian jatuh ke tangan orang lain yang tanpa sengaja menemukannya,
lalu memutuskan untuk merawatnya. Layang-layangmu kemudian pergi dan menjadi milik
orang lain.
“Bisa
tidak, hati yang patah utuh kembali? Bukankah sesuatu yang patah tak akan
pernah kembali seperti pertama kali? Utuh, namun tetap berbekas.” kata Adriana.
“Yang
tak akan bisa kembali seperti pertama kali itu goresan luka, Dri. Hatimu akan
tetap sama, tak lebih tak kurang. Hati itu kan, milikmu sendiri.” Rahne
menjawab sambil memainkan rambut Adriana yang hitam dan panjang terurai.
“Kau
pernah tidak sih, patah hati?”
Rahne
berpikir sejenak. Matanya menerawang. Dahinya sampai berkerut. Bibirnya
bergerak lucu. Pernah tidak, ya? Kalau dipikir-pikir, selama ini dia santai
sekali. Pernah mungkin, tapi tidak pernah sampai seperti yang Adriana atau
orang lain rasakan. Semuanya langsung menguap begitu saja setelah ia berdiam
diri dan merenung. Rahne sampai curiga, hatinya terbuat dari apa? Kadang ia
ingin juga menjadi sedikit lebih peka dan dapat merasa lebih dalam seperti
orang kebanyakan. Bukan apa, tak jarang ia mendapat protes dari keluarga,
teman, bahkan pacar karena ketidakpekaannya. Tak luput juga dari Adriana,
temannya bertahan hidup jauh dari rumah selama nyaris tiga tahun ini.
Rahne
kadang iri pada Adriana. Sahabatnya itu bukan main pekanya. Tak jarang Adriana
bisa mengetahui hal-hal yang bahkan niatnya dirahasiakan oleh Rahne. Ada
perubahan sedikit, Adriana tahu. Ada yang dipendam sedikit, Adriana juga tahu
meski Rahne sudah berusaha bertingkah sewajarnya. Kata Adriana, justru mudah
mengetahui sesuatu yang aneh atau dirahasiakan. Orang yang sedang memendam dan
merahasiakan sesuatu biasanya bertingkah aneh. Mencurigakan sehingga mengundang
intuisi Adriana bekerja. Maka dari itu Adriana pasti menang banyak jika
menjalin suatu hubungan dengan lelaki. Ia serba tahu. Eh, tapi mengapa dengan
Rio ia mendadak bodoh, ya? Buktinya sampai sekarang Adriana masih kacau saja.
“Dri,
udah sih. Buang saja Rio. Yang lain masih banyak, kan? Aku tahu loh, kau itu
bukannya tidak punya penggemar dan gebetan yang diam-diam kau simpan meski jauh
di lubuk hati.”
Semenjak
pertemuan di kedai kopi dengan Rio sebulan yang lalu, Adriana memang tetap
sama. Sama kacaunya, sama patahnya. Rio pergi, dan Adriana tak tahu adakah
keinginan untuk kembali. Ditinggal begitu, siapa yang mau? Tak ada yang mau
ditinggal apalagi saat sedang sayang-sayangnya. Seperti ditinggal seorang di
hutan sepi tak berpenghuni. Mau apa? Mau kemana? Harus bagaimana? Otak rasanya
susah sekali berpikir jernih.
“Aku
mencoba, Ne. Tapi selalu saja semua datang kembali. Aku tidak ingin, bahkan aku
sudah membuang semua tentang dia jauh sekali. Tapi masih saja semua bisa datang
lagi.”
“Hmm..
baiklah, aku salah. Aku ubah, ya. Kau tak perlu susah payah membuang semua
tentang Rio. Sebab semakin kau berusaha menghapus dan melupakan, ingatan dan
kenangan tentangnya justru akan semakin hadir dan susah hilang. Biarkan saja,
Dri. Biarkan semua mengalir begitu saja. Aku mungkin memang tidak pernah merasa
patah seperti yang kau rasakan saat ini. Tapi aku tahu, kau harus membiarkan
semuanya alami saja. Nanti, ia akan hilang sendiri.”
Adriana
rasanya tidak rela jika harus melepaskan semua tentang Rio begitu saja. Biarlah
sakit, asal tetap ada Rio di hatinya. Pembodohan. Seringkali cinta dan
pembodohan berada bersebelahan dengan sekat yang amat tipis hingga tak bisa
dibedakan. Ayolah, cinta boleh, goblok jangan.
“Dri,
minum coklat, yuk! Tambahkan kopi sedikit seperti kesukaanmu. Pahit, Dri. Biar
menyatu dulu dengan rasa sakitmu. Setelah itu kita makan es krim. Rasa buah saja,
kau kan tidak suka es krim yang penuh susu. Eneg,
kan? Lagi pula rasa buah itu segar. Pas untuk penawar setelah muak dengan rasa
pahit.”
Adriana
malas bangkit namun tangan Rahne lebih cekatan untuk menariknya bangun dan
memaksanya mandi serta bersiap diri.
***
Jalanan yang ramai
mendadak lengang saat memasuki komplek kost Adriana. Pukul sebelas lewat lima
belas malam. Udara dingin sekali merengkuh Adriana sampai ke sudut paling
dalam. Sebentar lagi mungkin hatinya beku. Kabut begitu tebal, mengaburkan pandangan. Sebenarnya entah pandangannya kabur karena kabut atau karena air mata yang menggantung sedari tadi. Ada rasa sedih yang semakin nyata saat Adriana menembus kabut untuk pulang.
Begitu tebal dan jelas terasa kabut di depan mata namun nyatanya tak bisa
benar-benar tergapai. Kabut hadir sepintas lalu, menyisakan rasa dingin yang
tercekat di rongga dada.
Sampai. Adriana membuka
topeng yang sedari tadi dipakainya. Ah, berpura-pura bahagia ternyata
melelahkan. Ya, topeng yang Adriana adalah mukanya yang pura-pura bahagia dan baik baik saja. Begitu topeng dibuka, yang terlihat adalah wajah kuyu seorang
perempuan dengan sisa-sisa air mata yang mengering dan sebagian tertahan di
kelopak. Riasan di matanya berantakan, memperlihatkan kantung mata yang semakin
beranak dan lingkaran hitam tanda lelah. Mata itu, mata yang biasanya selalu
berbinar cerah malah terlihat sayu. Pandangannya kosong, menerawang
kemana-mana. Raut muka yang nampak disana pun datar, tanpa emosi apa pun.
Sepintas hanya dapat dikatakan, Adriana begitu mengerikan.
Rasanya Adriana
langsung ingin tidur saja. Jika beruntung, ia dapat bertemu dengan Rio di
mimpi. Sebab di mimpi, banyak hal yang tak dapat terjadi di dunia nyata mampu
terjadi. Mereka bisa berdua saja melakukan apa saja yang tak tuntas di dunia
nyata. Berdua saja, tanpa ada yang menyela. Bahagia, tak ada luka. Dan ketika
bangun nanti, Adriana harap Rio akan datang dan berkata bahwa semua luka yang
ia ciptakan di dunia nyata hanya bercanda. Namun pikirannya penuh, membuat mata susah sekali terpejam lalu lelap.
“Aku kuat. Aku tegar.
Aku pasti bisa.” Berulang kali Adriana mengulang perkataan itu sebelum akhirnya
memberanikan diri bertemu dengan Rio di kedai kopi kala itu. Pertemuan yang
pada mulanya Adriana pikir bakal menjadi titik awal yang baru bagi hubungan
keduanya. Adriana telah mempersiapkan diri sesempurna mungkin bahkan sejak
jauh-jauh hari. Setiap inci tubuhnya tak ada yang terlewat sebab ia ingin Rio
melihatnya dengan bahagia.
Siapa yang mengira jika
akhirnya Rio datang dengan seorang wanita yang ia kenalkan sebagai pacar
barunya? Segala kekuatan yang Adriana miliki saat itu rasanya hampir runtuh. Ia
tak percaya Rio begitu tega. Lebih dari itu, apa maksudnya? Beruntung Adriana
cepat menguasai keadaan dan memasang topeng sebelum air mata benar-benar tumpah
di pipinya.
Di balik topeng ada
yang tak mampu terucapkan sehingga terganti tawa dan candaan palsu seolah ia
benar-benar bahagia. Ah, munafik sekali jika Adriana tak patah hati. Tawa
laki-laki itu pernah tercipta lebih lepas saat bersama Adriana. Badannya yang
tegap pernah menjadi tempat merebah paling nyaman. Tak lupa pelukan hangat yang
selalu menjadi penenang saat keduanya merasa kacau. Perutnya yang sedikit
tambun pernah menjadi sasaran keisengan Adriana hingga laki-laki itu tak kuasa
menahan tawa dan balas mengerjai Adriana dengan pelukan erat dan ciuman
bertubi-tubi. Ah, ciuman itu.. Adriana benar-benar merindukannya. Bibir
laki-laki itu terasa nikmat sekali sehingga Adriana suka melumatnya
habis-habisan. Terlebih lagi laki-laki itu adalah a good kisser. Ralat, a great
kisser. Bagi Adriana. Tangan yang menggenggam tanpa pernah ingin melepas.
Mata yang menatap dengan tajam namun sayang. Kata-kata sayang, perhatian yang
tercurah, pikiran dan bahkan waktu yang selalu sempat sesempit apa pun. Setiap
jengkal dari laki-laki itu adalah milik Adriana. Pernah, dulunya. Sakit sekali
rasanya menyadari bahwa ia tak lagi milik Adriana. Tepatnya, ia direnggut paksa
dari kepemilikan Adriana.
“Bahkan kata maaf pun
tak terucap olehnya. Begitu mahalkah kata maaf sehingga ia tak mampu membeli? Atau begitu tinggi kah harga dirinya sehingga aku yang tak mampu membeli?” Adriana
tak habis pikir.
Ada hati yang terluka
sebab tak ada hati yang besar untuk mengucap maaf. Padahal, satu kata itu saja
sudah mampu mengurangi rasa sakit. Meski hanya sedikit. Adriana jatuh ke jurang
yang paling dalam yang diciptakan oleh sosok kecintaannya. Dalam, tak terlihat
dasarnya. Yang lebih menyakitkan adalah kenyataan bahwa di masa Adriana hidup
saat ini ternyata ada kosakata baru berbunyi “baper” atau “bawa perasaan” yang
kemudian menggeser pentingnya kata “maaf”. Sosok baper hadir sebagai pembelaan
bagi mereka yang tak dapat menghadirkan sosok maaf di hidupnya.
“Kamu sih, baper. Kalau nggak baper kan, nggak
akan begini jadinya.”
Hei, seseorang tak akan
terhanyut dalam perasaannya sendiri yang mendadak biru jika tak kau beri lautan
berisi keindahan yang memabukkan. Mengapa tak berbesar hati dan berkata, “Maaf.
Aku mengaku salah. Tak seharusnya aku mempermainkan perasaanmu seperti ini.”
Atau jika itu saja
terasa berat, cukup kau katakan, “ Maaf.” Satu kata saja. Tak lebih. Biarkan ia
melebihkan makna dirinya sendiri.
Hancur. Hati Adriana
telah terberai menjadi keping-keping. Mengapa tak sekalian saja Rio membunuhnya
langsung dari pada harus membunuhnya secara perlahan seperti ini?
Bertahun-tahun lamanya Adriana tertawan oleh hati Rio. Dan ia tak ingin bebas.
Entah, Adriana merasa ada yang bersembunyi di balik hati Rio. Tak terlihat.
Letaknya jauh sekali melintasi liku-liku hati utama Rio. Dan topeng itu, topeng
yang Rio pakai sebenarnya tak lebih baik dari kepunyaan Adriana. Mata Rio
diam-diam menatap sendu setiap Adriana tergelak. Napas Rio terhembus berat saat
memalingkan tatapan dari Adriana. Ada yang tak terkatakan meski harus
dikeluarkan.
Sebulan berlalu,
Adriana tengah menikmati es krim rasa strawberry traktiran Rahne. Asam, membuat
Adriana teringat bahwa hidup memang sesekali butuh ditertawakan. Namun ada rasa
manis yang diam-diam bersembunyi di balik rasa asam. Sesekali secara
mengejutkan menyentuh lidah Adriana. Ya, selalu ada pelangi setelah badai
pergi.
Setiap patah hati
rasanya Adriana ingin tertawa kencang. Entah menertawakan apa, entah
menertawakan siapa. Mungkin dirinya sendiri atau untuk ia yang telah membuatnya
patah hati. Namun kini Adriana sudah tahu harus apa yang pasti. Topeng yang
melekat di wajah Rio itu harus ia lepas sebelum benar-benar menjadi lapisan
kulit, melekat, lalu abadi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar