saya bukan blogger. saya hanya ingin bercerita :)

Minggu, 03 Juli 2016

Adriana: Patah Hati


Ada rasa perih tertanam dalam hatiku. Ku kira pisau belati, ternyata cuma rindu.
“Cuma? Kau bilang cuma, tapi “cuma” itu mampu membuatmu terjaga siang malam menahan kantuk, lelah, dan dahaga. Cuma demi dia. Lihat, tubuhmu kian kerontang dihisap rindu yang kau bilang cuma.” Rahne kesal. Belakangan ini Adriana semakin aneh saja. Sebentar tertawa bahagia seolah ia baru saja naik tahta, sebentar kemudian murung seperti habis kehilangan uang sejuta dollar. Sebegitu absurd kah orang patah hati?
Patah hati memang ajaib. Ia dapat bekerja dengan instant. Bayangkan kau telah menampung air di bak mandi begitu lama, menantinya dari kosong hingga penuh, kemudian dengan sekali hentakan seseorang menarik penutup bak. Flop! Air yang susah payah kau tampung mengalir deras begitu saja menyisakan bak mandi kosong kembali.
Atau bayangkan kau sedang bermain layang-layang. Layang-layangmu mengudara angkuh sekali. Tinggi, dari atas sana ia bisa melihat semuanya. Paling tinggi, tak ada yang menandingi. Layang-layangmu adalah yang terhebat. Lalu angin dengan sekali sapuan memutuskan benang. Layang-layangmu hilang, terbang tak tentu arah. Mungkin tersangkut di pohon atau tiang listrik. Mungkin juga terjatuh di tanah, lalu koyak. Kau sudah berlari sekencang mungkin, mencoba mengejar untuk dapatkan milikmu kembali. Namun tetap lepas, tanganmu tak lagi mampu menggapainya. Kehilangan memang rasanya begitu menyakitkan. Layang-layangmu bisa saja kemudian jatuh ke tangan orang lain yang tanpa sengaja menemukannya, lalu memutuskan untuk merawatnya. Layang-layangmu kemudian pergi dan menjadi milik orang lain.
“Bisa tidak, hati yang patah utuh kembali? Bukankah sesuatu yang patah tak akan pernah kembali seperti pertama kali? Utuh, namun tetap berbekas.” kata Adriana.
“Yang tak akan bisa kembali seperti pertama kali itu goresan luka, Dri. Hatimu akan tetap sama, tak lebih tak kurang. Hati itu kan, milikmu sendiri.” Rahne menjawab sambil memainkan rambut Adriana yang hitam dan panjang terurai.
“Kau pernah tidak sih, patah hati?”
Rahne berpikir sejenak. Matanya menerawang. Dahinya sampai berkerut. Bibirnya bergerak lucu. Pernah tidak, ya? Kalau dipikir-pikir, selama ini dia santai sekali. Pernah mungkin, tapi tidak pernah sampai seperti yang Adriana atau orang lain rasakan. Semuanya langsung menguap begitu saja setelah ia berdiam diri dan merenung. Rahne sampai curiga, hatinya terbuat dari apa? Kadang ia ingin juga menjadi sedikit lebih peka dan dapat merasa lebih dalam seperti orang kebanyakan. Bukan apa, tak jarang ia mendapat protes dari keluarga, teman, bahkan pacar karena ketidakpekaannya. Tak luput juga dari Adriana, temannya bertahan hidup jauh dari rumah selama nyaris tiga tahun ini.
Rahne kadang iri pada Adriana. Sahabatnya itu bukan main pekanya. Tak jarang Adriana bisa mengetahui hal-hal yang bahkan niatnya dirahasiakan oleh Rahne. Ada perubahan sedikit, Adriana tahu. Ada yang dipendam sedikit, Adriana juga tahu meski Rahne sudah berusaha bertingkah sewajarnya. Kata Adriana, justru mudah mengetahui sesuatu yang aneh atau dirahasiakan. Orang yang sedang memendam dan merahasiakan sesuatu biasanya bertingkah aneh. Mencurigakan sehingga mengundang intuisi Adriana bekerja. Maka dari itu Adriana pasti menang banyak jika menjalin suatu hubungan dengan lelaki. Ia serba tahu. Eh, tapi mengapa dengan Rio ia mendadak bodoh, ya? Buktinya sampai sekarang Adriana masih kacau saja.
“Dri, udah sih. Buang saja Rio. Yang lain masih banyak, kan? Aku tahu loh, kau itu bukannya tidak punya penggemar dan gebetan yang diam-diam kau simpan meski jauh di lubuk hati.”
Semenjak pertemuan di kedai kopi dengan Rio sebulan yang lalu, Adriana memang tetap sama. Sama kacaunya, sama patahnya. Rio pergi, dan Adriana tak tahu adakah keinginan untuk kembali. Ditinggal begitu, siapa yang mau? Tak ada yang mau ditinggal apalagi saat sedang sayang-sayangnya. Seperti ditinggal seorang di hutan sepi tak berpenghuni. Mau apa? Mau kemana? Harus bagaimana? Otak rasanya susah sekali berpikir jernih.
“Aku mencoba, Ne. Tapi selalu saja semua datang kembali. Aku tidak ingin, bahkan aku sudah membuang semua tentang dia jauh sekali. Tapi masih saja semua bisa datang lagi.”
“Hmm.. baiklah, aku salah. Aku ubah, ya. Kau tak perlu susah payah membuang semua tentang Rio. Sebab semakin kau berusaha menghapus dan melupakan, ingatan dan kenangan tentangnya justru akan semakin hadir dan susah hilang. Biarkan saja, Dri. Biarkan semua mengalir begitu saja. Aku mungkin memang tidak pernah merasa patah seperti yang kau rasakan saat ini. Tapi aku tahu, kau harus membiarkan semuanya alami saja. Nanti, ia akan hilang sendiri.”
Adriana rasanya tidak rela jika harus melepaskan semua tentang Rio begitu saja. Biarlah sakit, asal tetap ada Rio di hatinya. Pembodohan. Seringkali cinta dan pembodohan berada bersebelahan dengan sekat yang amat tipis hingga tak bisa dibedakan. Ayolah, cinta boleh, goblok jangan.
“Dri, minum coklat, yuk! Tambahkan kopi sedikit seperti kesukaanmu. Pahit, Dri. Biar menyatu dulu dengan rasa sakitmu. Setelah itu kita makan es krim. Rasa buah saja, kau kan tidak suka es krim yang penuh susu. Eneg, kan? Lagi pula rasa buah itu segar. Pas untuk penawar setelah muak dengan rasa pahit.”
Adriana malas bangkit namun tangan Rahne lebih cekatan untuk menariknya bangun dan memaksanya mandi serta bersiap diri.
***
Jalanan yang ramai mendadak lengang saat memasuki komplek kost Adriana. Pukul sebelas lewat lima belas malam. Udara dingin sekali merengkuh Adriana sampai ke sudut paling dalam. Sebentar lagi mungkin hatinya beku. Kabut begitu tebal, mengaburkan pandangan. Sebenarnya entah pandangannya kabur karena kabut atau karena air mata yang menggantung sedari tadi. Ada rasa sedih yang semakin nyata saat Adriana menembus kabut untuk pulang. Begitu tebal dan jelas terasa kabut di depan mata namun nyatanya tak bisa benar-benar tergapai. Kabut hadir sepintas lalu, menyisakan rasa dingin yang tercekat di rongga dada.
Sampai. Adriana membuka topeng yang sedari tadi dipakainya. Ah, berpura-pura bahagia ternyata melelahkan. Ya, topeng yang Adriana adalah mukanya yang pura-pura bahagia dan baik baik saja. Begitu topeng dibuka, yang terlihat adalah wajah kuyu seorang perempuan dengan sisa-sisa air mata yang mengering dan sebagian tertahan di kelopak. Riasan di matanya berantakan, memperlihatkan kantung mata yang semakin beranak dan lingkaran hitam tanda lelah. Mata itu, mata yang biasanya selalu berbinar cerah malah terlihat sayu. Pandangannya kosong, menerawang kemana-mana. Raut muka yang nampak disana pun datar, tanpa emosi apa pun. Sepintas hanya dapat dikatakan, Adriana begitu mengerikan.
Rasanya Adriana langsung ingin tidur saja. Jika beruntung, ia dapat bertemu dengan Rio di mimpi. Sebab di mimpi, banyak hal yang tak dapat terjadi di dunia nyata mampu terjadi. Mereka bisa berdua saja melakukan apa saja yang tak tuntas di dunia nyata. Berdua saja, tanpa ada yang menyela. Bahagia, tak ada luka. Dan ketika bangun nanti, Adriana harap Rio akan datang dan berkata bahwa semua luka yang ia ciptakan di dunia nyata hanya bercanda. Namun pikirannya penuh, membuat mata susah sekali terpejam lalu lelap.
“Aku kuat. Aku tegar. Aku pasti bisa.” Berulang kali Adriana mengulang perkataan itu sebelum akhirnya memberanikan diri bertemu dengan Rio di kedai kopi kala itu. Pertemuan yang pada mulanya Adriana pikir bakal menjadi titik awal yang baru bagi hubungan keduanya. Adriana telah mempersiapkan diri sesempurna mungkin bahkan sejak jauh-jauh hari. Setiap inci tubuhnya tak ada yang terlewat sebab ia ingin Rio melihatnya dengan bahagia.
Siapa yang mengira jika akhirnya Rio datang dengan seorang wanita yang ia kenalkan sebagai pacar barunya? Segala kekuatan yang Adriana miliki saat itu rasanya hampir runtuh. Ia tak percaya Rio begitu tega. Lebih dari itu, apa maksudnya? Beruntung Adriana cepat menguasai keadaan dan memasang topeng sebelum air mata benar-benar tumpah di pipinya.
Di balik topeng ada yang tak mampu terucapkan sehingga terganti tawa dan candaan palsu seolah ia benar-benar bahagia. Ah, munafik sekali jika Adriana tak patah hati. Tawa laki-laki itu pernah tercipta lebih lepas saat bersama Adriana. Badannya yang tegap pernah menjadi tempat merebah paling nyaman. Tak lupa pelukan hangat yang selalu menjadi penenang saat keduanya merasa kacau. Perutnya yang sedikit tambun pernah menjadi sasaran keisengan Adriana hingga laki-laki itu tak kuasa menahan tawa dan balas mengerjai Adriana dengan pelukan erat dan ciuman bertubi-tubi. Ah, ciuman itu.. Adriana benar-benar merindukannya. Bibir laki-laki itu terasa nikmat sekali sehingga Adriana suka melumatnya habis-habisan. Terlebih lagi laki-laki itu adalah a good kisser. Ralat, a great kisser. Bagi Adriana. Tangan yang menggenggam tanpa pernah ingin melepas. Mata yang menatap dengan tajam namun sayang. Kata-kata sayang, perhatian yang tercurah, pikiran dan bahkan waktu yang selalu sempat sesempit apa pun. Setiap jengkal dari laki-laki itu adalah milik Adriana. Pernah, dulunya. Sakit sekali rasanya menyadari bahwa ia tak lagi milik Adriana. Tepatnya, ia direnggut paksa dari kepemilikan Adriana.
“Bahkan kata maaf pun tak terucap olehnya. Begitu mahalkah kata maaf sehingga ia tak mampu membeli? Atau begitu tinggi kah harga dirinya sehingga aku yang tak mampu membeli?” Adriana tak habis pikir.
Ada hati yang terluka sebab tak ada hati yang besar untuk mengucap maaf. Padahal, satu kata itu saja sudah mampu mengurangi rasa sakit. Meski hanya sedikit. Adriana jatuh ke jurang yang paling dalam yang diciptakan oleh sosok kecintaannya. Dalam, tak terlihat dasarnya. Yang lebih menyakitkan adalah kenyataan bahwa di masa Adriana hidup saat ini ternyata ada kosakata baru berbunyi “baper” atau “bawa perasaan” yang kemudian menggeser pentingnya kata “maaf”. Sosok baper hadir sebagai pembelaan bagi mereka yang tak dapat menghadirkan sosok maaf di hidupnya.
“Kamu sih, baper. Kalau nggak baper kan, nggak akan begini jadinya.”
Hei, seseorang tak akan terhanyut dalam perasaannya sendiri yang mendadak biru jika tak kau beri lautan berisi keindahan yang memabukkan. Mengapa tak berbesar hati dan berkata, “Maaf. Aku mengaku salah. Tak seharusnya aku mempermainkan perasaanmu seperti ini.”
Atau jika itu saja terasa berat, cukup kau katakan, “ Maaf.” Satu kata saja. Tak lebih. Biarkan ia melebihkan makna dirinya sendiri.
Hancur. Hati Adriana telah terberai menjadi keping-keping. Mengapa tak sekalian saja Rio membunuhnya langsung dari pada harus membunuhnya secara perlahan seperti ini? Bertahun-tahun lamanya Adriana tertawan oleh hati Rio. Dan ia tak ingin bebas. Entah, Adriana merasa ada yang bersembunyi di balik hati Rio. Tak terlihat. Letaknya jauh sekali melintasi liku-liku hati utama Rio. Dan topeng itu, topeng yang Rio pakai sebenarnya tak lebih baik dari kepunyaan Adriana. Mata Rio diam-diam menatap sendu setiap Adriana tergelak. Napas Rio terhembus berat saat memalingkan tatapan dari Adriana. Ada yang tak terkatakan meski harus dikeluarkan.
Sebulan berlalu, Adriana tengah menikmati es krim rasa strawberry traktiran Rahne. Asam, membuat Adriana teringat bahwa hidup memang sesekali butuh ditertawakan. Namun ada rasa manis yang diam-diam bersembunyi di balik rasa asam. Sesekali secara mengejutkan menyentuh lidah Adriana. Ya, selalu ada pelangi setelah badai pergi.
Setiap patah hati rasanya Adriana ingin tertawa kencang. Entah menertawakan apa, entah menertawakan siapa. Mungkin dirinya sendiri atau untuk ia yang telah membuatnya patah hati. Namun kini Adriana sudah tahu harus apa yang pasti. Topeng yang melekat di wajah Rio itu harus ia lepas sebelum benar-benar menjadi lapisan kulit, melekat, lalu abadi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar