Kalau kau menduga isi dari tulisan ini adalah lirik lagu Payung Teduh, sayangnya aku telah mengecewakanmu. Tapi yang pasti, setiap orang butuh resah untuk menuju ke atas.
Pernah tidak, kau merasa begitu resah
tapi bahkan kau tidak tahu apa sebabnya? Seperti kau harus menemukan sesuatu
untuk menjadi jawaban yang nantinya dapat meredam keresahanmu. Lalu kau
mendadak menjadi orang lain, bukan karena kau berubah melainkan kau dalam
pencarian jawaban yang entah dimana pun kau tak tahu. Terkadang dalam mencari sebuah
jawaban kau perlu merenung, mengosongkan pikiran untuk kemudian membiarkan
banyak hal datang untuk mengisi. Atau bertingkah gila seolah jiwamu sedang tak
sehat. Atau pergi dari kebiasaanmu, keluar dari zona nyaman demi mendapat
suasana baru. Atau apa pun itu, kau sebutlah sendiri.
Resah, hal itu pasti pernah dirasakan
siapa saja dan untuk hal apa saja. Bisa karena hal sederhana macam cinta,
isu-isu yang terus bergulir bergantian, dirimu sendiri, atau bahkan tentang zat
Maha Agung; Tuhan. Bersyukurlah jika kau masih bisa merasa resah sebab artinya
pikiran dan perasaanmu masih bekerja dengan tepat, meski kadang keluar dari
relnya. Dadamu begitu bergejolak, otakmu terus mencari, dan perasaanmu tajam
diasah. Indah, kan?
Sudah beberapa hari ini aku didera
keresahan. Ku kira perihal cinta sebab belakangan aku diserang beberapa jerawat
yang kunamai jerawat rindu. Hei, bukankah jerawat sering dikaitkan dengan
masalah perasaan? Logika sih, sebenarnya. Jerawat datang salah satunya karena masalah
produksi hormonal yang kaitannya dengan perasaan. Nah, kembali ke keresahan.
Sejak hari pertama pulang ke rumah,
resah itu sudah ada. Entah karena meninggalkan banyak hal di Semarang atau
masalah hati, itu yang jadi perkiraanku. Hati. Mengapa selalu tentang hati?
Rasanya hati adalah topik yang universal
dan tak pernah habis dibahas. Ku kira, jeda yang kembali tercipta antara aku
dan seseorang yang aku sayangi tanpa henti beberapa tahun belakangan ini yang
menciptakan kebisuan dan keabsurdan
di hari-hariku, kemudian. Entah berapa tulisan yang tercipta, berangkat dari
masalah hati itu. Di catatan dalam handphone,
di lini masa media sosial pribadi, di perkataan, di hati, dan di blog ini
sendiri. Entah tersurat jelas atau pun hanya tersirat. Entah berapa waktu yang
habis untuk sekedar melamun. Tak ada yang terpikirkan. Namanya juga melamun. Yahh,
meski kadang terlintas satu dua angan dan kenangan, juga harapan. Entah berapa
pejam yang tertunda sebab tiap malam pikiranku semakin menggelora dan susah
untuk beristirahat. Padahal, malam kan
waktunya istirahat, ya? Tapi setiap malam semakin merangkak naik, otakku justru
semakin penuh. Menyebalkan, kadang.
Semua itu ku kira sebab permasalahan
klasik yang menyerang hati. Ah, mengapa aku tak berpikir lagi? Hati, hati,
hati. Tak bisakah sejenak kita berpaling pada jantung, usus, atau paru-paru?
Dini hari tadi, selepas sahur baru
aku merasa menemukan jawaban atas keresahan beberapa hari terakhir. Berawal
dari melihat tulisan seorang teman yang dipublikasikan ke salah satu laman web.
Rasanya aku mendapat pukulan keras, tepat di hati dan pikiran. Duh, mengapa tak
sadar dari dulu, ya? Tapi aku bersyukur akhirnya tersadar, dan semoga tidak
hanya sesaat.
“Hidup itu paradoks”, begitu Sudjiwo
Tejo pernah berkata. Ya, hidup ini memang paradoks. Kau mungkin merasa segala
hal yang kau perbuat dan pikiran adalah sebenar-benarnya hal di hidup ini. Dan
orang-orang pun mestinya demikian. Namun pada kenyataannya banyak yang menentangmu.
Bersimpangan jalan. Berada di sisi yang berbeda denganmu. Lalu kau merasa
jengah, kemudian memandang yang lain dari sudut yang kecil.
Ah, kau ternyata tak bisa memaksakan
orang lain untuk sama seperti dirimu. Kau boleh berpendapat, semua orang bebas
berpendapat, bukankah negeri ini selalu mengagungkan demokrasi? Namun pada
akhirnya kau dan semua orang tak bisa memaksakan pendapat itu menjadi suatu
kehendak pribadi. Ya, memang. Kepala setiap orang pasti memiliki tendensi
masing-masing, apalagi jika didasari oleh suatu kepentingan. Begitulah salah
seorang seniorku di kampus pernah berkata. Tendensi, hmm. Setiap orang pasti
punya tendensi, entah kecil atau besar. Entah baik, maupun jahat. Atau kurang
baik mungkin lebih tepatnya. Ketika itulah diri diuji, seberapa bijak kau bisa
menyikapi tendensi itu.
Tadi paradoks, sekarang tendensi.
Maumu apa, sih?
Mauku, ya terkadang aku hanya ingin
berada bersama orang-orang yang sejalan denganku. Berbicara dan berkembang
bersama orang yang memiliki tujuan yang sama rasanya lebih menyenangkan.
Prosesnya mungkin berbeda-beda, tapi tujuan tetap sama. Kecewa kadang jika
mendapati seorang yang begitu dekat namun sayangnya jauh dalam tujuan. Kadang
aku sadar, mereka punya jalan dan cara masing-masing. Namun hanya terkadang.
Ah, ternyata aku masih belum mengerti
benar, ya. Ada banyak orang di sekelilingku yang mengekspresikan kebisaannya
dengan caranya masing-masing. Dan dilandasi oleh alasan dan kepentingan masing-masing.
Tak semua harus sama melulu. Bukankah kau sering berkata, bahwa menjadi sama
adalah hal yang membosankan?
Paradoks. Hidup ini memang paradoks. Selalu
ada pertentangan. Yang kau anggap benar belum tentu diterima dengan benar dan
lapang dada oleh orang lain. Selalu ada konflik di setiap sisinya. Kau suka
minum bir, meracuni dirimu dengan nikotin, mendengarkan musik yang
berdentum-dentum, pulang menjelang pagi, berbicara dan bertingkah bebas, tapi
kau menghasilkan sesuatu bahkan lebih. Kau punya sesuatu yang bisa kau
tunjukkan, dan kau puas akan hal itu. Kau bebas. Kau punya banyak hal yang
orang lain tidak punya. Kau keluar dari kotak yang membuat orang-orang nyaman,
bahkan terlena. Kau hebat, dalam jalanmu sendiri.
Mayoritas orang melihatmu sebagai
berandal yang hanya sedang berada dalam fase yang tidak jelas. Nol, tanpa isi
apa-apa. Sebagian lagi menganggapmu hanya gangguan, tanpa melihat kemampuan
yang kau punya, yang padahal jauh melampaui mereka.
Sayangnya, seringkali kaum mayoritas
merasa menang dan paling benar sedangkan kaum minoritas merasa mereka istimewa
dan menjadi prioritas. Terkadang jalan memang tidak melulu hanya satu, untuk
itulah gunanya persimpangan.
Hmm.. hidup memang paradoks. Semua
hal bisa berubah kapan saja. Yang perlu kau lakukan hanyalah mampu bertahan dan
tetap bersinar dalam situasi apa saja.
Kalau kau merasa tulisan ini kurang menarik, tak apa. Tingkat ketertarikan orang berbeda-beda. Lagi pula apalah bagusnya tulisan ini, cuma hasil dari sebagian keresahanku saja.
Selamat pagi.
Dapat salam dari embun yang menari.
Selamat resah, ya!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar