saya bukan blogger. saya hanya ingin bercerita :)
Tampilkan postingan dengan label travelling. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label travelling. Tampilkan semua postingan

Selasa, 27 Februari 2018

Pelarian ke Yogya


Hello!
Sudah lama sekali ku tak menulis tentang kisah perjalanan. Kan sedih ya, kayak yang nggak pernah jalan-jalan aja. Padahal emang iya, hehe. Nggak juga sih, jalan mah sering. Cuma kebanyakan jadi perjalanan tersendiri buat hati aja. Seperti yang terjadi awal bulan lalu, perjalanan super dadakan (masih selalu suka untuk jalan dadakan) ke Jogja yang kurang dari 24 jam. Ku namai perjalanan kali ini sebagai Perjalanan Patah Hati karena memang saat itu hatiku sedang patah-patahnya karena lelaki yang kisah tentangnya aku tuangkan dalam tiga unggahan sebelum unggahan ini.
Oke lanjut. Oleh karena patah hati yang dikhawatirkan akan berkepanjangan itu, akhirnya aku memutuskan untuk harus escape ke suatu tempat. Entah kemana yang penting aku lupa sama remeh-temeh tentang patah hati sialan itu. Walau pun cuma sejenak, yang penting ada jeda untuk hati dan otakku bernapas. Pilihanku jatuh pada Yogyakarta. Masih dekat dengan Semarang, aksesnya mudah, banyak teman-teman di sana untuk direpotin hehe, dan banyak tujuan yang bisa ku datangi secara random tentunya. Sejak SMA dulu, Yogyakarta masih saja menjadi salah satu tempat lari paling ku sukai. Mengesampingkan semua kenangan yang pernah terjadi di tiap sudut kotanya, aku lebih suka membuat banyak kenangan lagi untuk diriku sendiri.
            Perjalanan Patah Hati-ku akan ku lakukan bersama salah satu teman kontrakan, sebut sama namanya eNur. Eh jangan deng, sebut saja namanya If. Takutnya nanti kalau dia baca tulisan ini, dia akan menggalang massa untuk demo besar-besaran karena eNur adalah panggilan kesayangan dari para penghuni kontrakan. Seharusnya kami pergi pada tanggal 6 Januari dengan sejumlah ancang-ancang perjalanan yang telah kami rancang. Bad luck, si If mendadak sakit perut parah dan kami harus mengundur perjalanan satu hari kemudian.
            7 Januari 2018. Setelah memastikan bahwa perut If tidak mengulah lagi, kami mantap berangkat ke Yogyakarta. Oh, hampir lupa. Sengaja aku dan If berangkat naik kereta api (rencananya) sebab kami berdua menyukai perjalanan dalam kereta api. Buatku pribadi, aku selalu suka atmosfer stasiun terutama di Semarang. Itu karena di stasiun-stasiun Semarang selalu diputar instrumen lagu-lagu Semarang seperti Empat Penari dan itu menenangkan di samping suara ting-tung-ting-tung pemberitahuan hehehe. Terkadang aku suka ke stasiun untuk hanya duduk, melihat kereta api datang dan pergi, mendengarkan instrumen-instrumen stasiun, beberapa kali sambil makan Roti-O.
            Kembali ke perjalanan. Fyi, jalur kereta api (aku selalu menyebut lengkap “kereta api”, sebab di Medan “kereta” berarti “sepeda motor” dan ku kadang salah arti) Semarang-Yogyakarta tidak ada. Kalau ingin ke Yogyakarta dari Semarang naik kereta api, maka jalurnya adalah Semarang-Solo-Yogyakarta, pun sebaliknya. Permasalahannya, jadwal kereta api Semarang-Solo dan sebaliknya hanya ada satu kali sehari. Semarang-Solo pada pukul 9 pagi dan Solo-Semarang pada pukul 5.20 pagi. Dan entah sejak kapan aku kurang tahu, tiket kereta Semarang-Solo dan sebaliknya hanya bisa dibeli secara go-show atau minimal 3 jam sebelum keberangkatan. Biasanya aku masih bisa pesan di Indomaret plus pilih tempat duduk. Hmm. Jadilah aku dan If harus berangkat pagi-pagi sekali ke stasiun mengingat jarak kontrakan ke stasiun memakan waktu kurang lebih 30-45 menit.
            Ekspektasi berangkat dari kontrakan pukul 6 pagi rupanya memang hanya sekadar angan belaka. Aku dan If sama-sama kesiangan dan baru berangkat dari kontrakan sekitar pukul 8.15. Kami sengaja naik Grab dan bapak Grabnya baik sekali sebab mau berkendara lebih cepat agar kami tak ketinggalan kereta api. Sampai di Stasiun Poncol pukul 8.50, masih ada waktu untuk beli tiket dan syukurnya nggak antri. Sialnya, tiket Semarang-Solo habis. Kami lupa bahwa saat itu masih suasana liburan terlebih hari itu adalah hari Minggu. Aku udah balik kanan dari loket ketika tiba-tiba If nyelonong ke depan.
            “Mbak, kalau tiket ke Surabaya masih ada?”
            Buset ini anak. Surabaya loh. Padahal besok paginya aku ada janji dengan dosen penguji. Untungnya tiket ke Surabaya juga habis. Hampir saja If nanya tiket ke Malang namun sebelum itu aku langsung narik dia untuk beli Roti-O karena aku lapar sekali. Sambil makan Roti-O, kami berdua duduk dan mikir. Pokoknya perjalanan ini harus tetap jadi, bagaimana pun caranya. Dan cara lain menuju Yogyakarta adalah dengan naik bus yang mana terminal busnya masih satu distrik dengan kontrakan kami. Selamat tinggal naik ongkos naik Grab, selamat tinggal pergi naik kereta api.

ma tummy's luvvv

            “Ayo kita coba naik BRT!” Aku yang memang nyaris nggak pernah naik BRT terlalu excited untuk mencoba. Apalagi dengan KTM, kemana pun naik BRT kami hanya perlu membayar Rp 1000 saja. Menarik bukan?
            Halte BRT ada tepat di seberang Stasiun Poncol. Dan untungnya kami tidak harus menunggu lama sampai BRT tujuan kami datang. Kami harus ganti BRT karena alurnya begini: Halte Poncol-Balaikota-Banyumanik. Oke, baru saja duduk di dalam BRT yang tidak begitu penuh dan menyerahkan KTM untuk dapat harga spesial, petugas BRTnya bilang,
            “Maaf, Mbak. KTM hanya bisa dipakai saat weekdays.”

menanti brt

            Tak apa. Toh tarif BRT juga tidak mahal, jauh-dekat hanya Rp 2500 meski pun ganti halte. Singkat cerita aku dan If sampai di Terminal Sukun. Bus Semarang-Yogyakarta ada di tiap jam di setiap harinya mulai pukul 6 pagi sampai 9 malam. Pilihan kami jatuh ke bus Ramayana atau Nusantara, tapi aku lebih condong ke Ramayana karena spacenya lebih lebar dan nggak engap. Tapi waktu itu bus yang sudah siap berangkat adalah Nusantara. Ya sudah sama saja yang penting sama-sama menuju Yogya. Kami naik ke bus lalu membeli jajan pada pedagang asongan yang naik ke bus sebelum berangkat. Roti-O tadi rupanya tidak cukup membungkam cacing di perut.
            “If, kamu masih ada uang kan buat bayar bus? Uangku tinggal 20 ribu soalnya tadi buat bayar Grab, Roti-O, BRT, beli jajan barusan.” Tiba-tiba aku teringat.
            “Ada kok tenang aja.” Santai banget si If ngomong. Aku pun baru ingat bahwa kami berdua sengaja bawa uang pas-pasan.
            “Coba cek dulu. Ini satu orang bayar 45 ribu, berarti kita berdua 90 ribu.” Barulah If ngerogoh saku celana, saku jaket, sampai tas buat menghitung rupiah.
            “Kok cuma ada 50 ribu, ya?” Dyar!
            “Ya udah ayo cepetan kita turun mumpung busnya belum jalan!” Panik aku langsung jalan turun dari bus. Baru keluar dari bus, pak kondektur teriak.
            “Mau ke mana, Mbak? Ini udah mau berangkat.”
            “Ke ATM, Pak. Uangnya kurang.”
            Lha ini gimana udah mau berangkat busnya.”
            “Tinggal aja pak.” Baru aku ngomong begitu, busnya udah mulai jalan dan aku tersadar lagi sesuatu.
            “Pak, teman saya ketinggalan! Belum turun dari bus!”
Agak bete sebenernya sama If, habisnya dia nggak cek ulang. Dan semakin bete ketika sesaat setelah dia turun dari bus (nggak jadi kebawa sampai Yogya), dia mengeluarkan 50 ribu rupiah lagi dari kantung celananya dan dengan muka lempeng bilang,
            “Eh, ini deng uangnya. Ada ternyata.”
            Aku hanya menghela napas panjang. Panjang banget. Saat itu Semarang lagi panas-panasnya ditambah polusi dari bus yang bertebaran di sekitar. Keringet udah bercucuran dan aku mulai nggak betah. Akhirnya aku mengajak If untuk nyebrang ke supermarket di seberang terminal. Mending sekalian ambil uang lebih di ATM dari pada nanti kejadian lagi kayak yang barusan. Lumayan, ngadem sebentar di supermarket dan nebeng ke kamar mandi. Sekalian benerin muka yang udah acak-acakan kena panas.

well thankyou, supermarket for the kamar mandi.
            Sekembalinya kami ke Terminal Sukun, Thank God, bus Ramayana favorit aku tiap ke Yogya udah datang dengan manis dan siap berangkat. Curiga ini konspirasi. Akhirnya aku dan If berhasil berangkat ke Yogya naik bus. Selama perjalanan hujan turun dan hampir saja ingat tersangka penyebab patah hatiku. Mending aku tidur saja kali ya.

hujan syahdu, hujan sendu.

            “If, aku mau tidur ya.”
            “Ya udah, Mbak. Tidur aja. Aku mau menikmati hujan di perjalanan kok, jadi nggak mau tidur.”
            Tapi nggak sampai lima menit kemudian, si If udah molor duluan dengan pulasnya. Hmm menikmati hujan di perjalanan banget ya. Memasuki Magelang, aku terbangun dan memilih untuk membalas satu per satu chat di gawai. Dan masih saja tidak ku temui namanya muncul di notifikasi gawaiku. Tuh kan, sendu lagi. Ku ingat lagi bahwa perjalanan ini bertujuan untuk melupakan (sejenak) patah hatiku untuk kemudian nanti aku bersiap membenahi hati kembali.
            Aku dan If memutuskan untuk turun di Terminal Giwangan yang lebih dekat dengan pusat kota. Kami sampai di Yogya sekitar pukul 2 siang. Ah, aku jadi ingat lagu Terminal Giwangan. Aku mung koyo Terminal Giwangan: mung mbok anggo sambat, mbok nggo istirahat. Rasane ora karuan, ning ati loro tenan. Cinta matiku kau anggap dolanan. Sudah, sudah ya sendunya. Oh iya, tujuan pertama secara random kami putuskan yaitu Taman Sari. Dari Giwangan kami memutuskan untuk naik Gojek. Kebetulan saat itu salah satu teman kontrakan kami mendapat voucher Gojek satu juta rupiah dan nganggur. Jadilah perjalanan ini secara tidak langsung disponsori oleh voucher nganggur teman kami. (Hai, Ida. Makasih banyak banyak loh.)
            Permasalahannya adalah gesekan antara angkutan online dan konvensional di Yogya ternyata lebih terasa dari pada di Semarang. Aku dan If tahu bahwa tidak mungkin kami pesan Gojek dari dalam Giwangan, maka kami jalan agak menjauh dari Giwangan. Baru keluar dari Giwangan, ada pos ojek konvensional dengan spanduk tertulis kurang lebih begini: ojek online dilarang menjemput penumpang dalam radius 100m kanan-kiri. Nah yang jadi pr, dalam setiap kurang lebih 200m itu ada pos ojek konvensional. Jadi di mana-mana nggak boleh mesen ojek online dong hiks. Jadilah aku dan If jalan lebih jauh lagi sampai ke SPBU di dekat situ. Yogya panas juga saat itu, untung ku bawa topi.
            Aku dan If turun tidak langsung di depan pintu masuk menuju Taman Sari. Nggak tahu deh kurang kerjaan banget emang jauh-jauhin jalan kaki aja. Tapi untungnya pas sampai di situ, Yogya sudah menuju sore syahdu. Angin asoy sekali mengiringi kami jalan kaki. Di Taman Sari pun, aku dan If memilih untuk duduk diam sambil menikmati angin asoy dan masing-masing sibuk dengan pikiran yang entah apa. Ah, aku selalu suka suasana seperti ini. Dan mengapa Taman Sari? Entah, tapi aku tidak salah pilih tempat karena di sana syahdu sekali. Thank God lagi, sama sekali waktu itu tak terpikir olehku ia yang membuat hatiku patah.

see you when i see you, Taman Sari.
            Dari Taman Sari, aku dan If jalan kaki ke Alun-alun Kidul untuk beli cilok Gajahan. Wahhh ini salah satu yang udah aku rencanakan di perjalanan sih. Ambil nomor antrian, ternyata lumayan juga. Ada 20an orang sebelum aku dan If, padahal kami udah lapar karena dari pagi belum makan berat. Jadilah sambil menunggu antrian kami makan di angkringan dekat situ. Sambil makan, sesekali aku dan If bergantian ngintip antrian. Hampir 2 jam ngantri, akhirnya cilok Gajahan mendarat ke tangan kami. Dan kalian harus tahu sih, demi apa pun ini enak banget!!!! Aku termasuk penyuka cilok dan sejauh ini, Gajahan adalah cilok terenak yang pernah aku makan. Aku seakan nggak rela menghabiskan cilok itu padahal perut pun terasa sudah penuh. Akhirnya aku bungkus sisa cilok dan ku bawa pulang Semarang. Besoknya pas sampai Semarang, aku lupa kalau aku punya cilok dan berakhir basi di tas. Jorok nggak tuh, hehehehe. (Ini kalau gebetan baca, ilfeel nggak ya doi wkwk.)
            Aku dan If masih kekeuh untuk naik kereta api. Maka tujuan kami selanjutnya harus ke Solo dan pulang ke Semarang naik kereta api dari sana. Dari Alun-alun Kidul sehabis makan cilok Gajahan, kami menuju ke Stasiun Tugu untuk beli tiket Yogya-Solo. Sampai di stasiun, ramai sekali rombongan berkoper. Wah berarti banyak juga nih wisatawan dari jauh. Sementara aku cuma pakai slingbag kecil dan If pakai totebag. Kendala datang lagi, tiket Yogya-Solo ludes. Otak kami sama-sama beku sesaat, bingung harus gimana tapi masih sama-sama yakin kalau kami harus pulang naik kereta api. Dan lagi, baterai gawai kami sama-sama sudah teriak minta diisi. Plus, Yogya hujan lumayan deras. Syahdu, kan?
            Aku dan If jalan kaki ke Malioboro karena seingat kami ada Indomaret Point di situ. Lumayan kan, numpang ngisi baterai. Wop tenang, kami beli kopi kok di kafenya. Lumayan kan bikin anget. Sambil ngangetin badan yang lumayan basah kena hujan dari stasiun ke Malioboro (plus sepatuku basah ke dalem gegara nginjek genangan air), kami mikir gimana caranya sampai Solo. Saat itu sudah pukul 8 dan akhirnya kami memutuskan untuk ke Terminal Jombor, naik bus sampai Solo. Kenapa Jombor? Karena tadi siang kami sudah datang lewat Giwangan dan If belum pernah ke Jombor, sederhana bukan? Setelah baterai dirasa cukup, kami jalan kaki dulu menyusuri Malioboro. Merasakan hawa Yogya yang sudah lama tak ku sambangi. Jalan kaki menyusuri Malioboro selalu menyenangkan. Setelah capek, kami pesan Grab ke Jombor. Grab-Gojek-Grab-Gojek, gitu ae. Dalam perjalanan ke Jombor, terjadi percakapan seputar perjalanan aku dan If ke Yogya dengan mas Grab.
            “Setahu saya, Jombor jam 9 malam sudah tutup deh, Mbak.” Kata Mas Grab. Aku lihat jam di gawai, sudah setengah sepuluh. Aku lupa kalau tadi sempat chat temanku yang di Yogya, nanya gimana caranya ke Solo naik bus. Temenku bilang, aku harus ke Giwangan karena di sana buka 24 jam. Tapi balik lagi ke alasan sederhana tadi, aku dan If tetap harus ke Jombor.
            “Ini kalau bener Jombor udah tutup, mengingat alasan tadi kenapa Mbak ke Jombor, sumpah ya Mbak adalah orang tergabut yang pernah saya temui.” Terima kasih, Mas Grab. Ku anggap itu sebuah pujian.
            Dyar! Sampai di Jombor sudah gelap. Sebenarnya aku tahu sih kalau Jombor tutup jam 9 malam karena dulu sering ke Yogya naik bus. Tapi aku pura-pura nggak tahu aja. Thank God, mas Grabnya baik. Kami dianterin sampai ke Jogja City Mall untuk pesen Grab/Gojek/apalah itu. Untung nggak ditinggal gitu aja di Jombor nan gulita. Di JCM, sedang ada live music. Lumayan, hiburan. Aku dan If akhirnya pesan Gojek pakai voucher karena jarak ke Giwangan lumayan jauh.
            Sampai Giwangan, pas sekali ada bus ke Solo yang mau berangkat. Aku hafal dengan bus itu karena beberapa kali naik, bus Eka. 15ribu dapet air mineral, AC dingin maksimal. Selama perjalanan ke Solo, ku melemaskan badan yang seharian pecicilan nemplok ke sana-sini. Aku baru sadar kalau perjalanan kali ini lebih banyak ku habiskan dengan jalan kaki. Hebat juga aku (bangga sendiri). Kemudian ku tertidur sampai Terminal Tirtonadi, Solo.
            Kami sampai di Tirtonadi sekitar pukul 2 pagi dan memutuskan untuk segera ke mushola, ketemu sama Tuhan dulu. Setelah itu langsung menuju Stasiun Balapan. Kereta api, here we go! Sampai di stasiun, cek loket tiket baru bisa beli pukul 3 pagi, Ya sudah, karena lapar aku dan If keluar lagi dari stasiun untuk cari makan. Kata If, ada nasi liwet enak di seberang stasiun. Dan beneran enak, entah karena lapar atau memang enak. Nggak mahal pula. Menjelang pukul 3, aku dan If balik untuk beli tiket kereta api. Asli, sebahagia itu rasanya bisa beli tiket kereta api karena yahhh finally!
            Selanjutnya tinggal menuju jam keberangkatan dan ku habiskan dengan gabut. Mau tidur udah nggak bisa lagi. Kami sengaja duduk dekat jalur 1 karena memang itu jalur kereta ke Semarang. Selama gabut itu, aku mengamati orang lalu lalang dan rutinitas dimulai. Orang pergi bekerja, sekolah, dan ke mana pun. Suka lihatnya. Bagaimana orang lalu lalang dengan tujuan dan kebutuhan masing-masing. Bagaimana orang datang dan pergi silih berganti. Menjelang 5.20, kok keretanya nggak dateng-dateng ya? Padahal biasanya udah nongkrong dengan manis. Eh ternyata pindah jalur hmm. Jadilah aku dan If lari-larian ke jalur di seberang karena kereta udah mau berangkat.
            Naik kereta api, yashhh!!!!! Akhirnyaaaaa!!!!! Kesampaian juga keinginanku untuk naik kereta api. Iya, sebahagia itu. Terima kasih, Yogya. Telah menampung pelarianku atas patah hati di Semarang. Terima kasih, Solo. Telah membuka jalanku naik kereta api. Terima kasih, If. Sudah menjadi teman jalanku yang super fun! Terima kasih, Hati. Sudah mau berbesar untuk menerima kenyataan ini. Semoga Hati tak jemu untuk mencoba dan merasakan patah lagi. Sebab tidak ada mencinta tanpa rasa sakit, bukan? Semua hanya perihal sinkronisitas.
            Perkara Perjalanan Patah Hati yang random ini, aku kembali disadarkan bahwa yang istimewa dari sebuah perjalanan adalah kisah-kisah tak terduga yang hadir di dalamnya. Dan aku tak sabar untuk segera berjalan lagi. Namun tidak untuk Perjalanan Patah Hati. Perjalanan Jatuh Cinta, perhaps? Malang? Lombok? Kiwww!



xoxo, me.

Sabtu, 12 September 2015

Bukit Jangli, Semarang

Jadi kemarin aku dapet kerjaan buat jadi cast video Orientasi Diponegoro Muda (ODM) 2015. Semacam rangkaian penerimaan mahasiswa baru di Universitas Diponegoro. Videonya ada dua: opening dan ending. Bisa dilihat di youtube yaaaa hehehe search aja: ODM / Orientasi Diponegoro Muda 2015. Jangan lupa like hahahaha.
Nah pembuatan video yang pertama berlatar di Bukit Jangli. Lokasinya deket sama kampus. Kalo ngambil jalan motong mah letaknya kayak di belakang kompleks kampus. Cuma yaaa memang jalannya jelek karena memang tidak terjamah oleh banyak orang sehingga kurang terawat. Bukit Jangli ini tergolong sedang hits ya di kalangan anak muda Semarang. Meski pun perjuangan untuk sampai kesana cukup menguras tenaga, tapi tidak mengecewakan. Sunset dari atas Bukit Jangli sangat indah.
Tapi menurutku ada pemandangan yang cukup kontras. Bukit Jangli terletak di perkampungan penduduk yang tergolong menengah ke bawah namun tepat di depan perkampungan tersebut terdapat komplek-komplek perumahan yang sangat mewah. Sungguh aku saja terpesona melihat keindahan rumah-rumah disana. Dan saat aku iseng bertanya pada satpam salah satu komplek, beliau bercerita bahwa harga tanah di kawasan itu per meternya saja bisa mencapai ratusan juta. Semakin berada di tempat yang tinggi maka semakin mahal. Belum lagi pembangunannya. Jadi intinya rumah-rumah mewah disana adalah rumah berharga miliaran rupiah. Kontras sekali bukan dengan perkampungan penduduk di belakangnya? Padahal masih berada dalam satu wilayah.

Ah sudahlah, lebih baik aku bagikan keindahan Bukit Jangli saja yaaaa.

Kucari kau kucari, kucari kau di kelengangan dalam. (Sutardji Calzoum Bachri)

Add caption



Entahlah ini gaya apa. Yang jelas ini gaya ala ala.

Teruntuk pacar yang ngeselin tapi selalu ngangenin.

Gaya ala-ala lagi

Kamis, 11 Juni 2015

Batu Pandang Ratapan Mantan.... Angin Maksudnya.

Batu Pandang Ratapan Mantan Angin terletak di Dieng, Wonosobo, Jawa Tengah. Kalau dari pertigaan Dieng, belok kiri ke arah Desa Sembungan. Setelah menemui Komplek Dieng Plateau Theater atau yang sering disebut DPT, belok kiri. Nanti ada kok papan penunjuk lokasinya. Nah, dari DPT itulah gerbang masuk menuju Batu Pandang Ratapan Mantan Angin. Untuk menuju kesana kita akan sedikit tracking tapi medannya sih biasa, nggak susah kok. Nah nanti ada loket tiket, beli yaa jangan ngutang. Hanya sepuluh ribu rupiah kok, demi kemajuan pariwisata Wonosobo.
Setelah itu lanjut tracking sampai ke kawasan Batu Pandang Ratapan Mantan Angin. Disana kita bebas memilih spot karena batunya banyak. Tapi bukan batu akik ya, jadi jangan ngarep pada nambang akik disana. Oh iya, peringatan banget ya buat temen-temen yang mau kesana: jangan ngerusak alam! *Mayang sudah berkata menggunakan tanda seru*
Soalnya pas aku kesana kemarin *sekalian observasi buat penelitian rambut gimbal* itu nggak sedikit komoditas asli Dieng berupa kacang babi yang rusak. Entah itu terinjak atau sengaja dipotek-potek oleh tangan-tangan nista, entahlah. Soalnya gini loh, Mas, Mbak, itu kan ditanam sama petani penduduk setempat untuk kemudian diharapkan menghasilkan uang. Kalau sudah rusak begitu, apa nggak mikir gimana nasib yang punya lahan dan tanaman? Think smart *nunjuk dengkul*
Dan lagi, ada juga batu-batu yang sudah dipenuhi coretan tangan-tangan nista. Duh please, don't be ndeso. Emang kalau coret-coret nama kamu, nama pacar kamu, atau apa pun itu di batu, itu berasa keren banget? Tulis nama pacar tuh di buku nikah.
Nggak ada kerennya sama sekali. Yang ada itu makin nunjukin identitas diri kamu sebagai seseorang yang ndeso. Ngerusak alam itu nggak asik.
Maka wahai teman-teman, piknik boleh tapi tetaplah menjadi asik dengan tidak merusak alam. Ndeso cyin.

Apa yang menarik dari kawasan Batu Pandang Ratapan Mantan Angin? Jika kita menaiki batu-batu disana, kita dapat melihat pemandangan berupa dua telaga yang ada di kawasan Dieng dan itu indah banget Subhanallah.... Dua telaga itu berupa Telaga Warna dan Telaga Pengilon.
Mengapa dinamakan Batu Pandang Ratapan Mantan Angin? Konon dulu, dulu banget, ketika angin kencang bertiup menghempas batu-batu di kawasan ini *angin disini kenceng FYI* akan terdengar suara yang terdengar seperti orang menangis atau meratap. Pernah nonton Spongebob yang pas keluar suara dari pori-pori batu yang ia pahat ketika diterpa angin? Nah kurang lebih begitu tapi ini real ya. Maka dari itu dinamakan Batu Pandang Ratapan Mantan Angin.
Ingat ya, ratapan angin, bukan ratapan mantan. Eh gimana mantan, udah nyesal belum?

Karena sesungguhnya ratapan mantan adalah kebahagiaan buat kita.

Oke fokus lagi, langsung aja ya ini aku bagiin foto-foto pas aku kesana. Yuk mari piknik ke Wonosobo! #visitWonosobo #exploreWonosobo #cintaiWonosobo #akuanakWonosobo #janganpanikmaripiknik #piknikasik #berasainstagram #banyakbanget #hastagnya #okebhay




pasangan terromantis~

adek menanti bang.....

Senin, 17 November 2014

Pantai Menganti, Kebumen

Hai.. selamat berjumpa lagi dengan edisi jalan-jalan ke pantai. Kali ini aku mau cerita perjalananku ke Pantai Menganti, yang ada di ujung kota Kebumen. Pantai Menganti ini masih tergolong tersembunyi dan nggak banyak yang tahu looh. Makanya pantainya juga masih sepi tapi indah bangettt. Justru aku lebih suka pantai yang sepi sih, soalnya berasa pantai milik pribadi hahaha. Selain Menganti, pantai-pantai tersembunyi ada di kawasan Gunung Kidul, Yogyakarta, yang bakalan aku review ntar-ntar yaa.

Perjalanan dari Wonosobo ke Menganti nggak memakan waktu lama. Paling sekitar dua setengah jam. Buat yang mau kesini, aku kasih patokan rute perjalanannya yaaa.

 Jadi dari Gombong, kalian bisa menuju ke Pasar Sangkal Putung *kebetulan daerah rumah nenekku*. Di seberang pasar ada jalan menuju ke kawasan pantai. Biasanya sih yang banyak dikunjungi itu Pantai Ayah, Pantai Suwuk, Pantai Logending, and else. Nah, rute ke Pantai Menganti ini sebenarnya hampir sama kokk sama pantai-pantai itu. Pokoknya dari jalan yang di seberang Pasar Sangkal Putung itu kalian luruuuuuussssss aja ikutin jalan besar. Mentok ada pos ojek, belok kanan dan terusssssss lagi. Pokoknya intinya mah ikutin jalan besar aja. Kalo misalnya merasa nggak yakin, bisa nanya ke penduduk sekitar kan. Kunci dalam nekat travelling mah jangan segan-segan nanya. Tapi pas kemarin aku ke Menganti dan nanya ke penduduk sekitar, sempet ada yang nggak tahu juga sih karena emang masih tersembunyi gitu deh.

Tapi tenang aja. Pokoknya mah lurusssss. Jalannya memang agak sempit sih dan sering papasan sama kendaraan lain dari arah berlawanan yang nggak jarang lebih besar hahaha. Oh iya hati-hati banyak ayam warga yang suka nyelonong tiba-tiba dan piknik di tengah jalan. Ayamnya suka nggak sadar diri soalnya dan nggak jarang ada yang jadi korban tabrak lari.

Aku sempet suntuk juga nungguin pantainya nggak muncul-muncul. Dan akhirnyaaaa terhamparlah lautan lepas di hadapan mata and I'm like: huaaaaaa laaautttttt, beneran ini laaauttttt huaaaaaaaaa.
Kelewat seneng karena akhirnya ketemu laut juga:')

Oh iya, Menganti ini banyak disamakan sama pantai-pantai di New Zealand lohh. Nggak percaya? Coba ya menurut kamu gimana:

senjata andalan buat touring.

di tepi pantai ada ban buat mecah ombak.

Menganti juga merupakan gerbang melaut buat nelayan, ada TPI nya juga.

air jernih, tebing-tebing, pasir putih bersih. yang katanya mirip New Zealand.

both.







kelapa muda dulu sambil menikmati laut~

jalan menuju Menganti.

ada laut lepas di balik ini.





Sampai jumpa di pantai selanjutnya.

Aku cinta pantai.

Kamis, 16 Oktober 2014

Ke Kebumen, Selalu Pantai.

menanti. mana tau dia muncul dari dasar laut.


karena dia nggak muncul-muncul, maka aku yang akan menyusul ke dasar laut

nggak kalah sama spa di salon-salon


inilah kenapa aku cinta pantai

mabro

sok ngelawan ombak

catet. termurah di indonesia. catet.


senja di perjalanan pulang

pacar sejak 15 tahun yang lalu

sumpah aku pernah kurus.

mainan wajib

Kebumen adalah kota yang terletak di Selatan Jawa Tengah. Berbatasan langsung dengan laut lepas. Nenekku dari Bapak tinggal disana. Makanya aku sering kesana dan wajib ke pantai. Aku jatuh cinta pada pantai. Pada ombaknya yang menghanyutkan. Pada wangi air laut yang menenangkan. Pada pasir-pasir lembut yang menggelitik. Pada angin segar yang menerpa. Lalu pada matahari yang timbul dan tenggelam di ufuknya.
Pantai-pantai yang ada di postingan ini beda-beda karena momennya juga beda. Ada Pantai Ayah, Pantai Suwuk, Pantai Karangbolong.

Try it.

Sindoro.

Beberapa bulan yang lalu -lupa tepatnya bulan apa- aku dan teman-teman mendaki Gunung Sindoro. Sebagai orang Wonosobo, katanya belum resmi jadi orang Wonosobo kalo belum mendaki Sindoro-Sumbing.
Rencana sudah disusun matang, logistik dan segala perbekalan aman, tanggal sudah fix, tinggal prepare lahir batin buat hari H. Aku sendiri waktu itu bener-bener prepare fisik dengan jogging tiap pagi di Alun-alun. Asli jogging tiap pagi, minimal 3 puteran. Kebetulan waktu itu udah liburan sekolah. Sorenya aku lari-lari di halaman rumah, kadang lari-lari di tempat. Bodo amat. Soalnya aku sadar diri kalau aku bakalan berhadapan dengan gunung setinggi 3 ribu sekian meter dengan medan yang nggak main-main. Kalo aku nanggepinnya juga main-main, ya mamam aja tuh.

Hari H, semua ngumpul di kantor Bapak soalnya tenda dan sebagainya aku simpan disana. Setelah packing ulang dan memastikan nggak ada yang terlewat, ba'da ashar kami berangkat. Naik pick-up yang kebetulan punya tetanggaku. Pecah bro. Naik pick-up, mau mendaki gunung. Keren aja sih rasanya hahaha.
Kami mengambil jalur pendakian Tambi, yang lebih deket. Dan FYI aja kami langsung menuju pos 3, bahkan tanpa registrasi. Gesrek. Pick-up dengan susah payah membawa kami sampai pos 3 diiringi beberapa kali selip karena medannya lumayan terjal. Sampai di pos 3, kami prepare ulang. Menyiapkan segala sesuatunya. Lalu doa bersama. Setelah dirasa semuanya siap, here we go.

7 jam lamanya kami mendaki sampai akhirnya tiba di puncak. Hujan mengiringi pendakian kami sehingga harus menggunakan jas hujan. Kebayang nggak gimana serunya? Mendaki gunung, dengan petir menyambar yang siap menemani di depan, belakang, samping kiri dan kanan. Belum lagi melawan hawa dingin yang semakin dingin karena hujan, serta beban yang dibawa. Saat itu rasanya benar-benar pertaruhan hidup dan mati.
Saat gelap datang kami belum sampai puncak. Senter mati semua karena kedinginan. Terpaksa satu-satunya penerangan adalah hape senterku. Waktu itu kami sudah sampai di bebatuan yang harus benar-benar kami panjat. Aku memimpin di depan, dengan menggigit hape lalu memanjat, berhenti sebentar lalu mengarahkan senter ke teman-teman di bawah. Berasa keren pake banget. Sempet kepikiran, kalo kami kenapa-kenapa selama disini, nggak bakal ada yang tahu kecuali keluarga karena kami nggak registrasi.
Jadi buat para pemula, jangan pernah lupa registrasi di basecamp saat akan mendaki yaaa. Penting pake banget.

Sampai di puncak kami langsung mendirikan tenda. Angin kenceng banget plus hujan yang lumayan. Lumayan deres maksudnya. Tapi hangat pertemanan dan persaudaraan mampu mengalahkannya. Sebisa mungkin kami semua memejam hingga besok pagi. Tendaku bocor, bajuku basah, sleeping bag nggak berasa hangat, badan asli menggigil parah, tapi ya nikmati aja. Itu dia sensasi naik gunung.
Besok paginya sunrise nggak begitu kelihatan karena tertutup kabut. Tapi tetep asik. Dari atas, kami benar-benar berada tinggi sekali. Subhanallah.... aku memikirkan sedang apa ya manusia-manusia di bawah sana. Kami disini sedang mencari kehangatan mentari pagi. Jauh sekali. Di puncak gunung.

Pulangnya perjalanan lebih lama. Nggak tahu kenapa. Karena nggak ada sinyal, sempet terjadi lost contact antara kami dan jemputan kami. Hujan deres banget sementara kami naik pick-up. Nikmati saja. Aku sampe rumah jam 8 malam dengan badan yang rasanya remuk redam. Tapi sekali lagi, itulah sensasinya. Apalagi jika kita mendaki bersama orang-orang yang kita sayang.

Oh iya, aku juga dapet oleh-oleh dari Sindoro. Wajah iritasi karena kedinginan selama di puncak.

Pecah bro.

prepare.

ditunggu puncak Sindoro.
nggak kalah sama Jeep.
pos 3. prepare terakhir.

naik-naik ke puncak gunung~ sambil ujan-ujanan~


indah.. tapi serem

salah atur letak foto. harusnya di atas soalnya ini pas otw huehehe
wajah-wajah lelah namun berusaha #akurapopo

mencari kehangatan.

selamat pagi dari Puncak Sindoro.


sarapan ceritanya.

pulang.
idungnya Sindoro. katanya kalo udah sampe sini berarti hampir sampai Puncak

the power of mendaki pake sendal jepit


gerbang pendakian dari pos 3

kelakuan bocah-bocah pas aku lagi tidur kecapekan

nyari air dan tempat buat boker

nunggu jemputan. kayak nunggu jodoh. lama.

pulang keujanan deres. sedih...

see you kapan-kapan kalo pengen, Sindoro.