saya bukan blogger. saya hanya ingin bercerita :)
Tampilkan postingan dengan label random post. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label random post. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 16 Maret 2019

Aku dan Retorika dengan Diriku Sendiri


Seiring dengan bertambahnya angka pada usia, aku semakin dipenuhi oleh pertanyaan-pertanyaan yang nggak jarang bikin otak pegal. Quarter life crisis? Jujur aku juga nggak begitu paham sih, gimana dan seperti apa tanda kalau krisis itu hadir.

            Ok balik lagi pertanyaan tadi. Pertanyaan-pertanyaan yang hadir itu nggak jarang berubah menjadi kekhawatiran dan kegalauan. Bahkan terhadap hal yang sebenarnya belum pasti. Misalnya:

“Setelah diwisuda nanti, aku bakal jadi apa?”
“Aku bakal kerja di mana dan bagaimana?”
“Berapa penghasilan yang bisa aku hasilkan setiap bulannya nanti?”
“Bisa nggak ya, benar-benar lepas dari sokongan dana orang tua?”
“Bisa nggak ya, hidup murni dari penghasilan sendiri?”

            Itu baru pertanyaan yang benar-benar melibatkan diri sendiri. Belum lagi pertanyaan yang datang dengan melibatkan orang lain seperti:

“Dari penghasilanku nanti, bisa nggak ya aku gantian transfer uang ke orang tua?”
“Apakah aku harus mulai nabung untuk masa depan? Misalnya beli rumah, kendaraan, dan modal menikah.”

            Dan sederet pertanyaan lainnya yang rasanya nggak bakal habis kalau dituliskan satu persatu. Hei, jangan bilang kalau semua itu masih jauh dari batas kenyataan. Terutama soal nabung untuk masa depan.

            Di usia awal 20 seperti aku mungkin memang baiknya fokus memberi nafkah pada diri sendiri dulu, dibanding harus memikirkan masa depan bersama orang lain. Tapi kalau ku pikir kembali, kalau nggak dimulai dari sekarang ya kapan lagi?

            Namanya juga nabung. Semua diawali dari sedikit demi sedikit. Ok, skip dialektika tentang masa depan. Mari kembali berbicara tentang retorika dengan diri sendiri.

            Nah, usiaku awal 20. Baru saja dinyatakan lulus dari universitas dan sedang menanti diwisuda sebagai peresmian kelulusanku (atau status penggangguranku?) Aku memiliki pekerjaan lepas yang sudah hampir satu tahun aku jalani. Dan tentunya pekerjaan itu nggak bisa aku katakan sebagai sumber penghasilan tetap. Maka aku tetap pada prinsip bahwa saat ini aku hanyalah seorang pengangguran yang bergantung pada sokongan dana orang tua.

            Aku yakin sih, orang tuaku bukan tipe yang langsung lepas tangan begitu saja bahkan ketika aku sudah diwisuda nanti. Thank God, lucky me. Tapi sisi tanggung jawabku terusik. 

Belakangan ini (bahkan sebelum dinyatakan lulus) aku sudah mulai malu saat menerima transferan uang dari orang tua. Malu, karena terus-terusan jadi beban orang tua meski tentu orang tua nggak pernah menganggap anaknya sebagai beban.

Aku sempat ada di titik di mana aku bingung harus menjalani hidup dengan cara yang bagaimana. Aku hanya ingin bertahan hidup atas usahaku sendiri. Tapi ternyata aku belum sanggup. Akhirnya kembali lagi, aku dirundung kekhawatiran atas hidupku sendiri.

Tapi aku nggak mau terpuruk. Otakku yang pegal memikirkan kekhawatiran ini harus berubah memikirkan bagaimana caranya untuk survive.

Kembali aku teringat pada masa-masa peralihan idealis ke realistisku. Saat itu aku menemukan satu konsep baru bahwa: you must know your priorities.

Yap, kita tentu punya skala prioritas dalam hidup kita. Dalam hal apapun. Maka aku akan berusaha untuk menerapkan konsep itu kembali dalam hidupku. Konsep itu aku padankan dengan materi ekonomi sejak SMP: kebutuhan primer, sekunder, tersier.

Misalnya, kalau dulu aku nggak pernah mikir dua kali untuk sekadar nongkrong di kafe dalam intensitas sering, sekarang aku berusaha mengurangi intensitasnya. Atau bahkan menghentikannya sama sekali, kecuali jika benar-benar perlu.

Yap, aku memang hobi nongkrong sejak dulu. Bahkan untuk hal kecil semacam nulis skripsi, menyelesaikan pekerjaan, atau ngobrol bersama teman. Untuk saat ini, lebih baik menyelesaikan pekerjaan di kamar kosan dan ngobrol dengan teman di tempat lain yang nggak kalah nyaman. Setidaknya sampai nanti aku benar-benar bisa menghidupi diriku sendiri.

Kemudian membeli benda-benda penting yang nggak penting. Entah ini naluri atau apa, tapi aku termasuk salah seorang yang sering membeli barang yang nggak penting-penting amat, tapi aku beli karena aku merasa bakal berguna.

Kembali lagi ke konsep primer, sekunder, tersier. Saat ini pun aku sedang berusaha untuk selalu menelaah skala itu sebelum memutuskan untuk membeli sesuatu. Wish me luck. Haha!

Oya, juga dalam mengeluarkan uang. Biasanya aku ringan mengeluarkan uang untuk hal-hal sepele dengan dalih, “Ah, cuma segini kok harganya. Aku masih punya pegangan lebih banyak.”

Demi apa pun aku baru sadar kalau “harga yang cuma segini” itu kalau terus menerus dikeluarkan juga akan berubah menjadi nominal yang nggak sedikit.

Pada intinya aku sedang menantang diriku sendiri untuk hidup berdikari. Meski orang tuaku nggak akan lepas tangan, tapi kelihatannya aku sudah mulai tahu diri.

Oya, bagiku konsep skala prioritas dan primer, sekunder, tersier itu juga nggak boleh menyakiti diriku sendiri. Dengan kata lain, boleh hemat asal jangan pelit dengan diri sendiri. Aku nggak akan mau menyiksa diriku sendiri. I love myself!

Aku yakin sih, aku nggak sendirian dalam merasakan hal ini. Dan aku perlu berterima kasih pada diriku sendiri. Kenapa? Karena aku nggak mudah ingin dengan pencapaian orang lain. Sisi masa bodohku ternyata berguna untuk hal ini.

Misalnya, ketika banyak orang yang ingin tutup aku di instagram karena merasa bahwa instagram penuh dengan binar-binar duniawi. Mereka nggak ingin sakit hati lihat gaya hidup orang yang serba ada.

Aku? Bodo amat. I’m happy with my own life. Selagi aku bisa makan kenyang dan tidur pulas, serta tertawa karena hal sepele,  then I’m happy! Persetan dengan gaya hidup orang lain. Kalau dituruti, kemauan manusia mah nggak akan ada habisnya. Gaya hidup akan terus berubah dan bertambah kan?

Nah, aku jadi teringat dengan adagium ini: Hidup itu mudah dan murah, gaya hidupnya saja yang susah dan mahal.

Ok, cukup sudah aku bercerita. Ini bukan seutas sambatan. Aku hanya ingin bercerita dan berbagi. Doakan aku agar istiqomah di jalan ninjaku untuk berdikari ya! Doakan juga agar aku lekas dapat pekerjaan tetap yang bisa bikin aku hidup bahagia untuk diri sendiri dan orang lain.

            See ya!

Rabu, 29 Juni 2016

Payung Teduh - Resah


Kalau kau menduga isi dari tulisan ini adalah lirik lagu Payung Teduh, sayangnya aku telah mengecewakanmu. Tapi yang pasti, setiap orang butuh resah untuk menuju ke atas.
 
Pernah tidak, kau merasa begitu resah tapi bahkan kau tidak tahu apa sebabnya? Seperti kau harus menemukan sesuatu untuk menjadi jawaban yang nantinya dapat meredam keresahanmu. Lalu kau mendadak menjadi orang lain, bukan karena kau berubah melainkan kau dalam pencarian jawaban yang entah dimana pun kau tak tahu. Terkadang dalam mencari sebuah jawaban kau perlu merenung, mengosongkan pikiran untuk kemudian membiarkan banyak hal datang untuk mengisi. Atau bertingkah gila seolah jiwamu sedang tak sehat. Atau pergi dari kebiasaanmu, keluar dari zona nyaman demi mendapat suasana baru. Atau apa pun itu, kau sebutlah sendiri.
Resah, hal itu pasti pernah dirasakan siapa saja dan untuk hal apa saja. Bisa karena hal sederhana macam cinta, isu-isu yang terus bergulir bergantian, dirimu sendiri, atau bahkan tentang zat Maha Agung; Tuhan. Bersyukurlah jika kau masih bisa merasa resah sebab artinya pikiran dan perasaanmu masih bekerja dengan tepat, meski kadang keluar dari relnya. Dadamu begitu bergejolak, otakmu terus mencari, dan perasaanmu tajam diasah. Indah, kan?
Sudah beberapa hari ini aku didera keresahan. Ku kira perihal cinta sebab belakangan aku diserang beberapa jerawat yang kunamai jerawat rindu. Hei, bukankah jerawat sering dikaitkan dengan masalah perasaan? Logika sih, sebenarnya. Jerawat datang salah satunya karena masalah produksi hormonal yang kaitannya dengan perasaan. Nah, kembali ke keresahan.
Sejak hari pertama pulang ke rumah, resah itu sudah ada. Entah karena meninggalkan banyak hal di Semarang atau masalah hati, itu yang jadi perkiraanku. Hati. Mengapa selalu tentang hati? Rasanya hati adalah topik yang universal dan tak pernah habis dibahas. Ku kira, jeda yang kembali tercipta antara aku dan seseorang yang aku sayangi tanpa henti beberapa tahun belakangan ini yang menciptakan kebisuan dan keabsurdan di hari-hariku, kemudian. Entah berapa tulisan yang tercipta, berangkat dari masalah hati itu. Di catatan dalam handphone, di lini masa media sosial pribadi, di perkataan, di hati, dan di blog ini sendiri. Entah tersurat jelas atau pun hanya tersirat. Entah berapa waktu yang habis untuk sekedar melamun. Tak ada yang terpikirkan. Namanya juga melamun. Yahh, meski kadang terlintas satu dua angan dan kenangan, juga harapan. Entah berapa pejam yang tertunda sebab tiap malam pikiranku semakin menggelora dan susah untuk beristirahat. Padahal, malam kan waktunya istirahat, ya? Tapi setiap malam semakin merangkak naik, otakku justru semakin penuh. Menyebalkan, kadang.
Semua itu ku kira sebab permasalahan klasik yang menyerang hati. Ah, mengapa aku tak berpikir lagi? Hati, hati, hati. Tak bisakah sejenak kita berpaling pada jantung, usus, atau paru-paru?
Dini hari tadi, selepas sahur baru aku merasa menemukan jawaban atas keresahan beberapa hari terakhir. Berawal dari melihat tulisan seorang teman yang dipublikasikan ke salah satu laman web. Rasanya aku mendapat pukulan keras, tepat di hati dan pikiran. Duh, mengapa tak sadar dari dulu, ya? Tapi aku bersyukur akhirnya tersadar, dan semoga tidak hanya sesaat.
“Hidup itu paradoks”, begitu Sudjiwo Tejo pernah berkata. Ya, hidup ini memang paradoks. Kau mungkin merasa segala hal yang kau perbuat dan pikiran adalah sebenar-benarnya hal di hidup ini. Dan orang-orang pun mestinya demikian. Namun pada kenyataannya banyak yang menentangmu. Bersimpangan jalan. Berada di sisi yang berbeda denganmu. Lalu kau merasa jengah, kemudian memandang yang lain dari sudut yang kecil.
Ah, kau ternyata tak bisa memaksakan orang lain untuk sama seperti dirimu. Kau boleh berpendapat, semua orang bebas berpendapat, bukankah negeri ini selalu mengagungkan demokrasi? Namun pada akhirnya kau dan semua orang tak bisa memaksakan pendapat itu menjadi suatu kehendak pribadi. Ya, memang. Kepala setiap orang pasti memiliki tendensi masing-masing, apalagi jika didasari oleh suatu kepentingan. Begitulah salah seorang seniorku di kampus pernah berkata. Tendensi, hmm. Setiap orang pasti punya tendensi, entah kecil atau besar. Entah baik, maupun jahat. Atau kurang baik mungkin lebih tepatnya. Ketika itulah diri diuji, seberapa bijak kau bisa menyikapi tendensi itu.
Tadi paradoks, sekarang tendensi. Maumu apa, sih?
Mauku, ya terkadang aku hanya ingin berada bersama orang-orang yang sejalan denganku. Berbicara dan berkembang bersama orang yang memiliki tujuan yang sama rasanya lebih menyenangkan. Prosesnya mungkin berbeda-beda, tapi tujuan tetap sama. Kecewa kadang jika mendapati seorang yang begitu dekat namun sayangnya jauh dalam tujuan. Kadang aku sadar, mereka punya jalan dan cara masing-masing. Namun hanya terkadang.
Ah, ternyata aku masih belum mengerti benar, ya. Ada banyak orang di sekelilingku yang mengekspresikan kebisaannya dengan caranya masing-masing. Dan dilandasi oleh alasan dan kepentingan masing-masing. Tak semua harus sama melulu. Bukankah kau sering berkata, bahwa menjadi sama adalah hal yang membosankan?
Paradoks. Hidup ini memang paradoks. Selalu ada pertentangan. Yang kau anggap benar belum tentu diterima dengan benar dan lapang dada oleh orang lain. Selalu ada konflik di setiap sisinya. Kau suka minum bir, meracuni dirimu dengan nikotin, mendengarkan musik yang berdentum-dentum, pulang menjelang pagi, berbicara dan bertingkah bebas, tapi kau menghasilkan sesuatu bahkan lebih. Kau punya sesuatu yang bisa kau tunjukkan, dan kau puas akan hal itu. Kau bebas. Kau punya banyak hal yang orang lain tidak punya. Kau keluar dari kotak yang membuat orang-orang nyaman, bahkan terlena. Kau hebat, dalam jalanmu sendiri.
Mayoritas orang melihatmu sebagai berandal yang hanya sedang berada dalam fase yang tidak jelas. Nol, tanpa isi apa-apa. Sebagian lagi menganggapmu hanya gangguan, tanpa melihat kemampuan yang kau punya, yang padahal jauh melampaui mereka.
Sayangnya, seringkali kaum mayoritas merasa menang dan paling benar sedangkan kaum minoritas merasa mereka istimewa dan menjadi prioritas. Terkadang jalan memang tidak melulu hanya satu, untuk itulah gunanya persimpangan.
Hmm.. hidup memang paradoks. Semua hal bisa berubah kapan saja. Yang perlu kau lakukan hanyalah mampu bertahan dan tetap bersinar dalam situasi apa saja.

Kalau kau merasa tulisan ini kurang menarik, tak apa. Tingkat ketertarikan orang berbeda-beda. Lagi pula apalah bagusnya tulisan ini, cuma hasil dari sebagian keresahanku saja.

Selamat pagi.
Dapat salam dari embun yang menari.
Selamat resah, ya!

Rabu, 08 Juni 2016

Andra, Ali, Rakha!

Teman yang baik memang selalu menjadi idaman, tapi konco asu lebih membahagiakan.

Satu-satunya alasan mengapa aku menulis blog ini tepat ketika aku baru saja pulang ke kost setelah capek ketawa di kampus, adalah tiga nama yang ada di judul blog, yang sore ini berhasil membuatku tertawa lepas hingga lupa rasanya sedih. Iya, kemarin kan aku baru saja mengunggah blog tentang kerinduanku pada sosok yang selalu bisa membuat hatiku menari.
Hari ini hari ketiga puasa tapi aku sama sekali belum puasa. Besok mungkin, atau lusa. Aku jadi sama sekali belum merasakan suasana ramadhan. Mungkin juga karena sedang di rantauan, jauh dari keluarga. Sore ini aku ke kampus. Niatnya sih mau ngobrolin proker bareng departemen paling pekok se-HMJ Sastra Indonesia; Mikat.
Ngobrolnya lima belas menit, ketawanya berjam-jam. Setelah yang dirasa harus diomongin cukup, yaudah enceng. Gantian bully Rakha; pengusaha sego kucing yang tampan mempesona.
Dear Rakha, kalau suatu saat kamu baca tulisan ini, aku pengen kamu tahu kalau kehadiranmu selalu membawa kebahagiaan untuk semua orang. Meskipun itu sama artinya dengan membully kamu habis-habisan. Percayalah, Kha, tanpamu kami tak lengkap. Percayalah juga, Kha, selalu ada kebahagiaan dimana pun kamu berada asal kamu coba ciptakan sendiri. Percaya lagi, mengapa aku jadi sok motivator begini?
Entah mengapa, bersama ketiga laki-laki rak cetho itu aku bahagia. Mereka selalu bisa mencipta tawa ketika aku membutuhkannya, meski dengan cara yang aneh dan nggilani. Nyatanya memang kalau tidak bertemu mereka sehari saja rasanya aneh. Seperti misalnya ketika liburan, atau saat salah satu ada yang pulang ke rumah.
Kerusuhan terjadi sore tadi. Ngabuburit yang bener-bener rak cetho. Bermula ketika ketiga laki-laki itu ngajakin aku ke KFC, tapi harus aku yang bayarin sebagai syukuran aku menang seleksi Peksiminas dua kali. Iya, ideku adalah ide mereka juga sebab ide-ide untuk tulisanku seringnya aku dapat dari ngobrol dengan mereka. Maka dari itu, aku memang ngajakin mereka syukuran. Tapi aku ngajaknya ke kopi klothok! Hmm.. dasar nggatheli.
Nah, karena aku nggak mau, mereka terus ngajakin pulang. Permasalahannya adalah aku nggak bawa motor karena berangkatnya dijemput Andra, terus pas pada ngajakin pulang Andra nggak mau boncengin aku. Yaudah aku inisiatif dudukin aja motornya Andra, biar nggak pada bisa ninggalin aku. Eh, kelakuan itu bocah tiga malah boncengan pake motornya Ali, ninggalin aku yang cengo. Tinggallah aku di kampus sendirian.
Mereka balik lagi, cuma buat ngeledekin aku, dan ninggalin aku lagi. Gitu terus sampai berapa kali. Ya Allah, ini hiburan macam apa. Yang jelas aku capek ketawa.
Akhirnya aku berhasil nyabut kontak motornya Ali dan aku simpen di tas. Korban bully pun berganti. Seharusnya Ali yang jadi korban bully, tapi malah jadi Rakha. Rakha kami tinggalin sendirian di kampus dengan muka yang minta ditabok banget. Tapi akhirnya kami pulang berempat dengan normal.

Ah, terima kasih cah. Hari ini aku ketawa lepas sekali. Aku lupa rasanya galau, nggak jelas. Tetap temani aku ya, cah. Nggak ada pencitraan, nggak ada pura-pura. Busuk bareng, bersinar bareng.

Ini menggelikan sih, tapi what the fvck, I love you cah!

Senin, 06 Juni 2016

Incomplete.

Salam.

Malam ini saya tidak kunjung bisa memejam. Bukan karena insomnia saya yang kembali datang. Terlebih karena perasaan gundah yang telah lama mengendap dan semakin lama terbentuk jelas. Rindu. Perasaan itu sudah hadir jauh sebelumnya dan akan selalu hadir meski telah terusap sebuah temu. Justru rindu yang baru kembali hadir sesaat setelah pertemuan usai.
Malam ini saya kembali mendapat berita bahagia, setidaknya untuk diri saya sendiri. Berita itu berupa hasil dan pencapaian diri saya dalam bidang yang boleh dikatakan saya kuasai. Setelah lolos seleksi peksiminas tingkat fakultas kemudian maju ke tingkat universitas, kali ini saya dipercaya untuk kembali lolos. Entah nanti saya dapat melaju kembali ke tingkat kota atau provinsi, saya harap iya. Alhamdulillah. Yang penting bersyukur dahulu.
Seharusnya saya bahagia dengan sempurna sebab usaha keras saya begadang sekian malam dan menggila mencari ide serta inspirasi demi menghasilkan suatu karya yang dianggap layak maju mewakili fakultas, akhirnya membuahkan hasil yang bisa dikatakan seimbang. Seharusnya, iya. Namun saya merasa ada yang janggal. Ada sesuatu yang kurang untuk menyempurnakan kebahagiaan saya. Keluarga, teman-teman, sudah menyumbang kebahagiaan berita itu. Tapi tidak dengan kamu.
Ya, saya tahu penyebab rasa janggal itu. Tentu kamu. Seharusnya saya bisa membagi kebahagiaan ini dengan kamu sehingga lengkap sudah rasa bahagia saya. Seharusnya saya bisa berceloteh manja kepada kamu tentang berita ini sampai kamu kewalahan menghadapi bawelnya saya. Dan kamu akan dengan lembut mendekap saya. Membuat saya merasa bahwa bersama kamu, saya lengkap. Seharusnya kita, saya dan kamu, bisa merayakan keberhasilan saya ini berdua. Kita, saya dan kamu, akan berkeliling kota melewati waktu berdua, bercerita tentang cinta. Kita, saya dan kamu, akan bercerita banyak tentang apa saja. Random. Sederhana namun membahagiakan. Kita, saya dan kamu, akan mengenang masa-masa kita dahulu yang selalu bisa mengungkit tawa dan sipu malu. Kita, saya dan kamu, akan mencinta tanpa bosan. Seperti sejak empat tahun yang lalu kita bermula.
Namun saya tahu, seharusnya hanya tetap menjadi seharusnya, untuk saat ini. Saya tahu saya salah. Entahlah, saya tidak tahu dalam jangka waktu dekat saya harus berbuat apa. Tanpa kamu, hidup saya terasa ada yang kurang.
Bukan satu dua hari saya merasa kacau. Pikiran saya sering mengembara entah kemana. Kantung mata saya semakin berkuasa. Air mata saya tak bisa jatuh, terlebih karena saya sudah terlalu lunglai. Saya rindu. Saya butuh kamu. Namun biarkan ego kita masing-masing bergerilya, sampai nanti kita sama-sama sadar. Seperti biasanya.
Entahlah, saya juga suka melakukan hal bodoh sebab rindu. Terakhir, atm saya terblokir karena saya lupa password. Saya ingat beberapa kemungkinan yang semuanya berkenaan dengan kamu. Ya, masih dan selalu saja kamu.
Empat tahun berlalu, saya tidak juga jenuh. Banyak yang sudah saya dan kamu lalui. Saya dan kamu tumbuh dewasa bersama, beriringan. Dan saya bahagia, sebab masa remaja saya telah saya habiskan dengan sosok random yang mengesankan. Kamu.

Sudah. Saya tidak hancur berkeping-keping. Kamu masih ada. Saya tak perlu risau atau khawatir. Kita, saya dan kamu, masih bersama. Terima kasih. Saya menyayangi kamu sebagaimana adanya kamu. Tak pernah kurang, namun selalu berlebihan. Selalu begitu, semenjak empat tahun yang lalu.

Oh, iya. Untuk seorang yang mungkin saja membaca unggahan ini lalu merasa dia bisa menertawakan saya karena ini. Boleh tidak saya minta tolong? Tolong sampaikan pada dia, simpan saja tawa itu, sebegitu yakinkah dia bisa menertawakan saya tanpa dia sadar siapa yang seharusnya ditertawai? Saya, atau dia? Tolong sampaikan juga pada dia, rasa sayang yang pernah ada dari saya untuk dia sama sekali tidak ada apa-apanya dibanding rasa sayang saya untuk kamu yang telah tertanam sejak bertahun-tahun lalu. Jadi, dia tak perlu repot berbangga diri.
Begitu, ya?

Hmm. Saya tidak akan ngomel lagi kalau nanti, kamu salah ambil jalur tol, yang harusnya ke Jatingaleh malah kita berkelana jauh sampai Gayamsari. Saya tidak akan ngomel lagi kalau nanti, kamu menambah lemak di tubuh saya sebab setiap kelaparan tengah malam pasti yang kamu tuju adalah restoran sang Kolonel Sanders. Saya tidak akan protes lagi kalau nanti, kamu tiba-tiba jemput saya dari kampus tanpa kemudian saya sempat mandi dan bersiap, hanya untuk mengajak saya pulang ke rumah, terlebih karena kamu peka bahwa saya sedang rindu rumah. Mari kita ulangi lagi.



yang pernah kamu bela-belain pulang ngampus pukul 5 sore langsung jemput ke Undip,

Saya.

Senin, 21 Maret 2016

Random-ing

Entah kenapa malam ini mendadak random serandom-randomnya orang random. Yang niatnya ngerjain tugas Pengkajian Puisi (udah setengah jalan btw nugasnya) tapi endingnya malah scroll hape dan guling-guling nggak jelas. Yang niatnya mau mandi biar seger (udah nyiapin handuk segala macem) endingnya malah handuknya menggelepar di kasur doang. Lagi nggak pengen ketemu siapa-siapa, lagi nggak pengen diajak ngobrol, lagi nggak pengen ngapa-ngapain.
Tapi pengen apa kek gitu, es kopi kek, cokelat panas kek, marshmallow yang dicelupin cokelat slurrrp, atau pasta dengan keju mozarella yang meler-meler kek ingus. Eh kenapa makanan semua ya yang dipengenin?
Hmm pengen juga ada gitu yang ngepuk-puk sambil bilang, "Ngga apa-apa, peluk dulu sini."
Di saat random kayak gini, rasanya semuanya tuh jadi musuh buat diri sendiri. Nggak ada yang bisa ngertiin, nggak ada yang bisa nenangin, nggak ada yang bisa nemenin apa lagi diandalin. Cuma diri sendiri.
Cocok lah yaa sama salah satu prinsip hidup yang aku ciptakan bahwa "Jangan pernah percaya siapa pun di dunia ini, bahkan keluarga sendiri". Kenapa? Ya karena setiap orang pasti memiliki sisi lain yang nggak pernah kita tahu dan bisa aja itu berkaitan dengan diri kita kan?'
Kalo udah gitu, cuma diri sendiri yang bisa dipercaya dan diandalkan. Ndakpapah. Kudu strong. Kenapa? Ya karena aku strong.

Di saat random kayak gini, rasanya mendengar hal-hal yang nggak penting pun rasanya aku pengen ngebacok orang.
Haaaaaaa benci situasi kekgini.



Pms, perhaps?

I hope so.

Minggu, 06 Juli 2014

Happy Fasting^^

Heyhoooo. Happy fasting everyone^^

Sudah hari kesembilan bulan puasa ya. Eh, delapan apa sembilan sih? Whatever, you count it. Sekian hari tapi aku baru puasa tiga hari ini huehehe.
Kesannya sihh kayaknya tahun ini lebih lempeng aja ya. Secara status udah MAHAsiswa wanna be, pastinya hidup udah jauuuhhh lebih dewasa. Atau malah tua?
Oh damn, I hate it. Aku paling sebel kalo sampe dibilang udah tua hahahaha *lirik KTP*

Secara tua itu pasti, dewasa itu pilihan. Yagak yagak? Dan umur itu cuma perkara angka *mandi shower karena sebentar lagi tanggal 2 November which is umurku nambah satu angka lagi*

Puasa hari pertama, aku udah stay cool aja nih. Rencana untuk melewati satu hari itu udah tersusun rapi. Mampir pasar sebentar jahitin sepatu - ke kantor, isi formulir UNDIP sama UII - ke ATM bayar tagihannya - balik lagi ke kantor buat cetak kartu - online sebentar sambil nunggu jam satu - rental dvd di Ultra - ambil sepatu - beli takjil - pulang dengan cool.

But guess what? Semua acakadut. Ke pasar, tukangnya belum buka - ke kantor - dan ini nih bagian yang paling nyesek, ke ATM deket kantor, transfer ke UII dan ternyata aku salah prosedur! 150ribu melayang indah sambil dadah-dadah unyu dan kissbye ke arahku - nggak jadi rental dvd - nunggu sepatu yang lamanyaaaaaa nyaingin masa pedekate - pulang dengan nelangsa.

Seratus lima puluh ribu. Ilang. Hangus. Aku males ngejelasin penyebabnya tapi padahal aku baru dapet transferan uang dan terpaksa, registrasi UNDIP aku tunda. Then aku bayar lagi ke UII. Iya. Dua kali. Tiga ratus ribu.

Aku mikir, mungkin ini cobaan kali yaa secara lagi puasa. Nah, pas kemarin lusa aku ke Jogja buat nyerahin dokumen ke UII, ada harapan nihh siapa tahu duitnya bisa balik yakan. Ternyata bisa, tapi ditukerin sama pin yang buat kita daftar. Guess whaaaatttt, aku udah beli pin lagiiii. Jadi percumaaaa *lap air mata*

Oke. Fix banget say goodbye ke uang 150ribu.

Tapi yaudalahyaaa gapapa. Anggap aja cobaan hahaha.
Oh iya, tahun ini cobaan puasaku nambah satu. Seorang cowok mutungan, yang kebo, yang hobinya ngambek kalo aku jailin, yang manja, yang bikin pengen ngegetok palanya tiap waktu.


Bubbye.
Cabut dulu dari kantor
Mau meet up sama para maho

Sabtu, 24 Mei 2014

Pengangguran nan Elegan

Hai..
Ok then, I officially graduated. Yes, fresh graduate. Dan semenjak itu juga aku officially jadi pengangguran. Semoga saja sih nggak lama, cukup sampai tanggal 28 besok saja. If you know what I mean. Aamiin!
Jadi pengangguran itu nggak enak ya. Bangun tidur bisa rada siang, cuci muka, sarapan, mandi, nonton tv, movie marathon, ngiter-ngiter nggak jelas, makan lagi, kadang sorenya mandi lagi kalo nggak males, nonton masha sama spongebob, lalu malemnya begadang terutama kalo ada bola. Besoknya bangun siang lagi. Gitu aja terus. Kasihan juga sama pemerintah, beban mereka untuk menanggulangi pengangguran semakin bertambah.

Tapi sorry, I'm not that type. Hidupku sebagai seorang pengangguran tidak semonoton itu. Aku pengacara. Pengangguran banyak acara. Pengangguran nan elegan. Tiap hari aku melakukan apa yang aku dan orang-orang di sekitarku ingin lakukan. Mencoba hal-hal baru yang mungkin dulu tidak bisa kami lakukan saat masih menjadi pelajar manis nan polos.
Dan ini juga jadi kesempatanku buat ngiter keliling tempat yang belum pernah aku kunjungi. Explore da world!

Kayak film yang kemarin baru aja aku tonton lagi. Sang Pemimpi. "Dunia ini bukan hanya tempatmu berpijak saja. Kelilingilah duniamu yang luas. Keliling Asia yang luas, jelajahi Afrika yang eksotis, lalu singgah ke Eropa yang megah, dan berhentilah di altar ilmu dimana sains, seni dan sastra bersatu dengan indah: Universite de Sorbonne, Paris"

Oke yang terakhir itu planning jangka panjang hahahaha. Yang jelas sih keliling yang deket-deket aja dulu deh. Soalnya emang bener loh, dunia ini luas. Dan hidupmu nggak akan berkembang kalo kamu cuma di tempat yang itu-itu saja dan dengan orang yang itu-itu saja. Oh come on man, go on! Hidup terlalu sia-sia untuk tidak mencoba banyak hal baru.

Oh iya, dari liburan kemarin sebelum kelulusan, lumayan juga sih hal yang udah aku jamah. Nginep dan touring ke rumahnya Htt dalam rangka bantuin Berry ngasih surprise ke bribikannya, then gila-gilaan as a family there. Lalu 3 hari 2 malam get lost di Semarang, muter Simpang Lima lima kali setiap kami bingung harus menentukan arah jalan. Kemudian menemukan telaga tersembunyi di ujung desa yang nyaris lenyap di kawasan Dieng, Ranu Kumbolonya Wonosobo. Harusnya sih kami mau ngecamp disana, tapi belum nemu waktu yang klik. Lalu jalan-jalan malam dengan sok cool, bergaya ala eksmud di kota kami sendiri. Nongkrong dengan kece di coffeshop demi coffeshop yang belum pernah kami datangi. Wah banyak sih. Ntar deh aku update lagi detailnya. Dan masih ada beberapa plan yang belum kami lancarkan.

Sekarang aku lagi ngerusuh di kantornya bokap. Eceknya jadi sekretaris gitu, duduk di depan pc dengan setumpuk data, padahal sih buka-buka situs, download gratisan, ngeprint foto cowok ganteng (baca: Austin Mahone)
Yahh itu tadi, setidaknya jadi pengangguran elegan lah. Jadi pemerintah tidak makin kasihan hahaha. Eh bbku rusak lagi btw-_-
Udah dulu ahh, mau download-download kece nih.




Bubbye.
Pacarnya Austin.

Jumat, 16 Mei 2014

Bertukar Pikiran.

Aku sedang bertukar pikiran dengan seorang teman yang alhamdulillah otaknya lagi bener. Banyak yang kami diskusikan. Tentang problem demi problem, kehidupan, and else. Kami mencoba mendiskusikan semuanya dengan pikiran jernih dan dengan pikiran yang dewasa. Think like adult.
Dari situ semuanya mulai terbuka. Dari mana semua bermula. Bukan, bukan  sejak negara api menyerang. Dan dia berpikiran yang sama denganku. Komentar pertama setelah aku bertukar pikiran: sakit sih.
Bagaimana tidak sakit hati? Piye perasaanmu nek kabeh dilimpahke ng awakmu? Piye perasaanmu nek ditekani pas dibutuhke tok? Aku sih cuek. Aku pororo, katanya.
Temanku, seseorang yang selalu tersakiti *halaaah* Selalu disalahkan, dibohongi, tidak pernah didengarkan. Poor him. Dia curhat semuanya ke aku dan I'm like: shit, poor him. Shit y'all who make him like this!
Temanku bisa bebas berekspresi dengan kami, makanya dia lebih nyaman dengan hal itu. Hal-hal yang bisa dinalar dengan logis dan rasional lainnya seringkali ditafsirkan lain.

Mengapa ya, intropeksi diri itu sulit sekali?

Ah sudah ah, es burjo sudah datang. Sebelum disikat manusia-manusia kelaparan, aku done dulu. Seeya next time.
Masih banyak kata-kata mario teguh yang lain.

Hypocritus Paleomirronicus. Ha-ha.


pacarnya Austin *gross*

Rabu, 14 Mei 2014

HAPPY BDAY BRO!!

Hari ini kakak asuhku tambah tua nihh. Walaupun sebenernya dia paling nggak suka kalo ultahnya dirayain atau dibikin something special, tapi tetep aja kami selalu punya cara untuk bikin dia surprised. Dulu juga aku usaha banget nyari tau tanggal ultahnya.

Oh iya btw, dia ini kakak asuhku di teater. Sama-sama plenger, sama-sama sok cool tapi emang cool, sama-sama sok mario teguh, dan beberapa kesamaan lainnya bikin kami akhirnya bisa jadi kakak-adek asuh. Great sih punya kakak asuh kek dia. Awet muda tapi darah tinggi *nahloh* soalnya dia kerjaannya melece orang.
 Tapi dia partner menggilak yang cool sih. Kami pernah nongkrong di BSM, Binjai Super Mall, yang notabene di kota tetangga dan kesananya naik motor macet-macetan panas-panasan-_- terus lari muter-muter Smanpat karena waktu itu rencananya dia mau kurus,and else, terus jadi kakak-adek paling tentram, cool sih punya kakak asuh kek dia.

Panggilannya aku ke dia KakNyu, kakak unyu. Terus dia dulu manggil aku DekLeng, adek keleng. -_-
Then dia sekarang lagi pendidikan di IPDN nih. Semoga kegilaan dan kenekatannya nggak terulang lagi-_-

Wishku sih, semoga jadi calon presiden yang baik, nggak kek farhat abbas. Soalnya kaknyu nggak mau dibilang calon camat/walikota/gubernur. Nanggung katanya, langsung presiden lah.
Terus semoga cepet move on atau cepet dapetin kakaktu. Bener-bener sixpack badannya. Dan jangan pernah galau lagi hahahaha aamiin!

Sampe detik ini aku belum ngucapin padahal haha. Padahal dari tadi pagi juga masih smsan. Sengaja. Tadi aku telfon juga tapi nggak diangkat, masih ada jam kaliya. Ntar aja tengah malem hahaha.

Pokoke happy birthday bro!! Kangen bingitttt.  Oh iya, namanya A. Alfareza Siregar btw. Panggilannya Jagen. Reja gendut. Kalo Kak Ronald *pelatih kami* manggilnya Jagem. Reja gembul kaliyak hahaha

awas patah leher tu baang

HAPPY BDAY!!




Rabu, 07 Mei 2014

Berpikir Rasional.

Nacht. Malam ini aku begadang di kantornya bapak. Dan nyebelinnya, aku sakbo. Yaudah terpaksa aku boker dengan cantik di wc belakang kantor yang gelap aduhai. Daripada wc depan yang lebih horor?
Oke fokus.

Belakangan ini pasien yang konsultasi makin banyak. Ceilehh gaya. Dan belakangan ini juga aku menemukan fakta dan cara baru untuk memecahkan masalah dan menjawab persoalan. Selain intuisi atau kepekaan hati, ternyata kita juga butuh berpikir realistis dan rasional.
Iya memang seringkali firasat itu mendekati benar, tapi jika dipikir secara realistis, maka kebenaran itu akan semakin benar.

Dulu, aku memecahkan masalah dan menarik kesimpulan serta memberi saran berdasarkan intuisiku. Tapi makin kesini, aku makin sadar. Tidak semua masalah dapat dipecahkan dengan hati. Kalau kita hanya mengikuti insting hati kita tanpa menggunakan pikiran rasional kita, yaudah. Yang ada kita hanya bergantung sama insting yang sayangnya seringkali hadir karena imajinasi kita sendiri.

Dan belakangan, setelah aku berpikir secara rasional dan realistis, iya memang aku jadi lebih tahu mana yang benar. Dilihat dari sudut pandang masing-masing pihak yang bermasalah, tentu akan berbeda. Makanya aku kadang jadi dicap 'pengkhianat'. Mungkin kasarnya seperti itu. Yang tadinya aku di pihak A, kini malah aku di pihak B. Sungguh aku tidak memihak. Aku hanya menempatkan diri pada pemikiran yang lebih tepat. Ya karena menerapkan pola pikir rasional tadi. Dulu aku berpikir dengan hati, sekarang ditambah realistis. No matter what kok, aku juga punya alasan tersendiri.

Nah, menurutku sih, coba berpikir rasional dan realistis. Apakah kamu menemukan jawaban yang lain dengan yang selama ini kamu pikirkan? Jangan takut sakit hati jika itu kemudian membawamu ke tujuan yang lebih tepat.

Udah dulu deh. Mau download lagu hehehehe.

Bubbye.
Yang lagi kangen.

Minggu, 04 Mei 2014

Be Mature.

Aku pernah bertukar pikiran dengan seorang teman yang jika otaknya sedang benar, dia akan berubah menjadi bijak sekali. Aku curiga, saat itu ia sedang dirasuki Ki Jarotnya.

Aku bertanya, "Bro, kenapa ya, jadi orang baik itu susah? Orang baik selalu berusaha berbuat baik biar bisa berkontribusi baik buat orang lain di sekitarnya dan niat dia beneran baik untuk berbuat baik. Tapi, seringkali orang baik yang udah berbuat baik itu disangka tidak baik dan diragukan ketulusan baiknya. Jadi, orang baik itu harus gimana biar jadi orang baik?"
Nahloh, berapa kata baik yang aku sebutkan?

Lalu temanku menjawab. Aku lupa sih apa saja yang dia bilang, soalnya captureannya ilang. Intinya, dia memberiku wejangan. Katanya, tetaplah jadi orang baik, apapun tanggapan yang didapatkan. Yang penting kita konsisten menjadi orang baik, bukan hanya sekedar berpura-pura baik.

Yes I see.

You know, dalam hidup selalu ada pilihan. Yes. No. There is no maybe. And on every problems, go face it. Just carry on. Sesungguhnya setiap masalah itu hadir untuk mendewasakan hati dan pikiranmu. Juga dirimu.
And oh, apa bahasa inggrisnya berkaca? Mirror-ing? Hahahaha oke ini absurd. Yes of course menurutku,  jika masalah datang dalam hidupmu, go to mirror. Coba deh lihat ke dalam, apa sih yang sebenarnya membuat masalah itu hadir? Yakin nggak ada sesuatu dalam dirimu yang membuatnya hadir?

Don't put blame on someone, without look deep on yourself. Coba deh, jika kamu bisa melakukan sesuatu itu sendiri dan dahulu, mengapa harus menunggu orang lain? Apalagi jika orang tersebut tidak tahu duduk perkaranya.

Aku sudah biasa disalahkan. Tanpa melihat lebih jauh. Tapi aku biasa saja selama aku merasa aku benar. Toh if I did something wrong, aku pasti dengan besar hati mau mengakui dan minta maaf. And I never hate people even people hate me. Aku sih tetap menganggap those people as part of my life. Nggak ada istilah 'pernah kenal', 'dulu kenal', and else.
At least, something true will be approved. Soon. Or whenever.

Dari situ aku makin  yakin, kedewasaan itu bukan perkara umur. Tapi emang dari dalam.

So, be mature. Ini bukan waktunya think and act like a child again. We are grown up. So does our maturity. Harusnya..


Regards,
Turunannya Mario Teguh.

Senin, 21 April 2014

Pasca UN

Kami.
Angkatan pertama UASBN --> pas SD
Angkatan pertama UN 5 paket --> pas SMP
Angkatan pertama UN berstandar internasional --> pas SMA
Then kurang hebat apa coba kami? Jadi kepikiran mau daftar Oxford atau Havard buat kuliah. Secara kan UNnya udah standar internasional.
Gila. Itu aja sih yang dipikirkan soal UN. Nggak berasa, kayaknya baru kemarin pake seragam putih abu-abu, ikut MOS dengan batin tersiksa, pura-pura sakit biar bisa kabur dari acara MOS.
Ehh sekarang udah mau jadi mahasiswi aja. Wait, what?? Yes I am. MAHAsiswi. Keren nggak tuh? *nyengir sok cool*

Malam sebelum UN matematika, aku nangis parah. Serius. Secara aku terlalu pintar dalam mapel ini. Saking pintarnya, UN kemarin aku bisa menyelesaikan 5 soal dari 40 soal yang ada.Hahahahahaha
Tapi untungnya ada yang bilang padaku, "Nggak apa. Tenang aja. Banyakin berdoa sama sholat, biar makin tenang. Pasti bisa kok,"
Dan setelah itu aku berhenti nangis. Not actually.... aku makin nangis parah sebentar *terharu ceritanya* lalu kemudian berhenti nangis dan tidur dengan unyu.

Sudahlah.... sekarang UNnya udah selesai. Tinggal nunggu hasil. Doain ya, semoga nilaiku bagus-bagus, angkatanku lulus semua, dan bahasa inggrisku maksimal. Amin!

Now, waktunya liburaaaaaannnnn.
Semarang, here we go!

Rabu, 02 April 2014

k.i.f.f.e.

KIFFE. K        I           F          F          E. KIFFE.KIFFE.KIFFE.KIFFE.KIFFE.K.I.F.F.E. kiffeKIFFEkiffeKIFFEkiffeKIFFEkiffe.K-I-F-F-E-kiffekiffekiffekiffekiffekiffekiffekiffekiffekiffekiffekiffekiffekiffekiffekiffekiffekiffekiffekiffekiffekiffekiffekiffekiffekiffeKIFFEKIFFEKIFFEKIFFEKIFFEKIFFEKIFFEKIFFEKIFFEKIFFEKIFFEKIFFEKIFFEKIFFEKIFFEKIFFEKIFFEKIFFEKIFFEKIFFEKIFFEKIFFEKIFFEKIFFE


awkward man. ucuuuuul. cubit-able. peluk-able. love-able. jitak-able. aaaaaaaaaaaakiffeeeeeeeeeeeeee. MEKIFFEYU. adoreadoreadoreadoreadore.kgnkgnkgnkgnkgnkgnkgnkgnkgnkgnkgnkgnkgnkgn.


Je Kiffe,
kiffe=*
Can't wait for 20days to go hehehe. Would it be true? I hope>< It will be the greatest time and moment I've ever had. Amin.
This guy is turning 18th on 2days to go!!!!! Damn if only I can be near you on your bday Austin!!!! Aaaaaa now I realize that I really really really addicted to this narsis guy-_-


FROZEN.

Belum nonton film ini sih. Ya iyalah, nggak ada 21 bro disini:''''') Jadi nungguin cdnya available di tempat aku biasa nyewa aja deh hehehe. Tapi I'm totally sure ini film recommended banget dan bagus bangetss. Nih, aku nemu quotes dari film ini.


yes please



absolutely yes.




yes!



strong woman can hold everything by herself.


sooo me.

my pleasure :)

keliatan banget cerdas dan cantiknya><

how beautiful she is.