saya bukan blogger. saya hanya ingin bercerita :)

Senin, 06 Juni 2016

Incomplete.

Salam.

Malam ini saya tidak kunjung bisa memejam. Bukan karena insomnia saya yang kembali datang. Terlebih karena perasaan gundah yang telah lama mengendap dan semakin lama terbentuk jelas. Rindu. Perasaan itu sudah hadir jauh sebelumnya dan akan selalu hadir meski telah terusap sebuah temu. Justru rindu yang baru kembali hadir sesaat setelah pertemuan usai.
Malam ini saya kembali mendapat berita bahagia, setidaknya untuk diri saya sendiri. Berita itu berupa hasil dan pencapaian diri saya dalam bidang yang boleh dikatakan saya kuasai. Setelah lolos seleksi peksiminas tingkat fakultas kemudian maju ke tingkat universitas, kali ini saya dipercaya untuk kembali lolos. Entah nanti saya dapat melaju kembali ke tingkat kota atau provinsi, saya harap iya. Alhamdulillah. Yang penting bersyukur dahulu.
Seharusnya saya bahagia dengan sempurna sebab usaha keras saya begadang sekian malam dan menggila mencari ide serta inspirasi demi menghasilkan suatu karya yang dianggap layak maju mewakili fakultas, akhirnya membuahkan hasil yang bisa dikatakan seimbang. Seharusnya, iya. Namun saya merasa ada yang janggal. Ada sesuatu yang kurang untuk menyempurnakan kebahagiaan saya. Keluarga, teman-teman, sudah menyumbang kebahagiaan berita itu. Tapi tidak dengan kamu.
Ya, saya tahu penyebab rasa janggal itu. Tentu kamu. Seharusnya saya bisa membagi kebahagiaan ini dengan kamu sehingga lengkap sudah rasa bahagia saya. Seharusnya saya bisa berceloteh manja kepada kamu tentang berita ini sampai kamu kewalahan menghadapi bawelnya saya. Dan kamu akan dengan lembut mendekap saya. Membuat saya merasa bahwa bersama kamu, saya lengkap. Seharusnya kita, saya dan kamu, bisa merayakan keberhasilan saya ini berdua. Kita, saya dan kamu, akan berkeliling kota melewati waktu berdua, bercerita tentang cinta. Kita, saya dan kamu, akan bercerita banyak tentang apa saja. Random. Sederhana namun membahagiakan. Kita, saya dan kamu, akan mengenang masa-masa kita dahulu yang selalu bisa mengungkit tawa dan sipu malu. Kita, saya dan kamu, akan mencinta tanpa bosan. Seperti sejak empat tahun yang lalu kita bermula.
Namun saya tahu, seharusnya hanya tetap menjadi seharusnya, untuk saat ini. Saya tahu saya salah. Entahlah, saya tidak tahu dalam jangka waktu dekat saya harus berbuat apa. Tanpa kamu, hidup saya terasa ada yang kurang.
Bukan satu dua hari saya merasa kacau. Pikiran saya sering mengembara entah kemana. Kantung mata saya semakin berkuasa. Air mata saya tak bisa jatuh, terlebih karena saya sudah terlalu lunglai. Saya rindu. Saya butuh kamu. Namun biarkan ego kita masing-masing bergerilya, sampai nanti kita sama-sama sadar. Seperti biasanya.
Entahlah, saya juga suka melakukan hal bodoh sebab rindu. Terakhir, atm saya terblokir karena saya lupa password. Saya ingat beberapa kemungkinan yang semuanya berkenaan dengan kamu. Ya, masih dan selalu saja kamu.
Empat tahun berlalu, saya tidak juga jenuh. Banyak yang sudah saya dan kamu lalui. Saya dan kamu tumbuh dewasa bersama, beriringan. Dan saya bahagia, sebab masa remaja saya telah saya habiskan dengan sosok random yang mengesankan. Kamu.

Sudah. Saya tidak hancur berkeping-keping. Kamu masih ada. Saya tak perlu risau atau khawatir. Kita, saya dan kamu, masih bersama. Terima kasih. Saya menyayangi kamu sebagaimana adanya kamu. Tak pernah kurang, namun selalu berlebihan. Selalu begitu, semenjak empat tahun yang lalu.

Oh, iya. Untuk seorang yang mungkin saja membaca unggahan ini lalu merasa dia bisa menertawakan saya karena ini. Boleh tidak saya minta tolong? Tolong sampaikan pada dia, simpan saja tawa itu, sebegitu yakinkah dia bisa menertawakan saya tanpa dia sadar siapa yang seharusnya ditertawai? Saya, atau dia? Tolong sampaikan juga pada dia, rasa sayang yang pernah ada dari saya untuk dia sama sekali tidak ada apa-apanya dibanding rasa sayang saya untuk kamu yang telah tertanam sejak bertahun-tahun lalu. Jadi, dia tak perlu repot berbangga diri.
Begitu, ya?

Hmm. Saya tidak akan ngomel lagi kalau nanti, kamu salah ambil jalur tol, yang harusnya ke Jatingaleh malah kita berkelana jauh sampai Gayamsari. Saya tidak akan ngomel lagi kalau nanti, kamu menambah lemak di tubuh saya sebab setiap kelaparan tengah malam pasti yang kamu tuju adalah restoran sang Kolonel Sanders. Saya tidak akan protes lagi kalau nanti, kamu tiba-tiba jemput saya dari kampus tanpa kemudian saya sempat mandi dan bersiap, hanya untuk mengajak saya pulang ke rumah, terlebih karena kamu peka bahwa saya sedang rindu rumah. Mari kita ulangi lagi.



yang pernah kamu bela-belain pulang ngampus pukul 5 sore langsung jemput ke Undip,

Saya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar