saya bukan blogger. saya hanya ingin bercerita :)

Kamis, 16 Oktober 2014

Sindoro.

Beberapa bulan yang lalu -lupa tepatnya bulan apa- aku dan teman-teman mendaki Gunung Sindoro. Sebagai orang Wonosobo, katanya belum resmi jadi orang Wonosobo kalo belum mendaki Sindoro-Sumbing.
Rencana sudah disusun matang, logistik dan segala perbekalan aman, tanggal sudah fix, tinggal prepare lahir batin buat hari H. Aku sendiri waktu itu bener-bener prepare fisik dengan jogging tiap pagi di Alun-alun. Asli jogging tiap pagi, minimal 3 puteran. Kebetulan waktu itu udah liburan sekolah. Sorenya aku lari-lari di halaman rumah, kadang lari-lari di tempat. Bodo amat. Soalnya aku sadar diri kalau aku bakalan berhadapan dengan gunung setinggi 3 ribu sekian meter dengan medan yang nggak main-main. Kalo aku nanggepinnya juga main-main, ya mamam aja tuh.

Hari H, semua ngumpul di kantor Bapak soalnya tenda dan sebagainya aku simpan disana. Setelah packing ulang dan memastikan nggak ada yang terlewat, ba'da ashar kami berangkat. Naik pick-up yang kebetulan punya tetanggaku. Pecah bro. Naik pick-up, mau mendaki gunung. Keren aja sih rasanya hahaha.
Kami mengambil jalur pendakian Tambi, yang lebih deket. Dan FYI aja kami langsung menuju pos 3, bahkan tanpa registrasi. Gesrek. Pick-up dengan susah payah membawa kami sampai pos 3 diiringi beberapa kali selip karena medannya lumayan terjal. Sampai di pos 3, kami prepare ulang. Menyiapkan segala sesuatunya. Lalu doa bersama. Setelah dirasa semuanya siap, here we go.

7 jam lamanya kami mendaki sampai akhirnya tiba di puncak. Hujan mengiringi pendakian kami sehingga harus menggunakan jas hujan. Kebayang nggak gimana serunya? Mendaki gunung, dengan petir menyambar yang siap menemani di depan, belakang, samping kiri dan kanan. Belum lagi melawan hawa dingin yang semakin dingin karena hujan, serta beban yang dibawa. Saat itu rasanya benar-benar pertaruhan hidup dan mati.
Saat gelap datang kami belum sampai puncak. Senter mati semua karena kedinginan. Terpaksa satu-satunya penerangan adalah hape senterku. Waktu itu kami sudah sampai di bebatuan yang harus benar-benar kami panjat. Aku memimpin di depan, dengan menggigit hape lalu memanjat, berhenti sebentar lalu mengarahkan senter ke teman-teman di bawah. Berasa keren pake banget. Sempet kepikiran, kalo kami kenapa-kenapa selama disini, nggak bakal ada yang tahu kecuali keluarga karena kami nggak registrasi.
Jadi buat para pemula, jangan pernah lupa registrasi di basecamp saat akan mendaki yaaa. Penting pake banget.

Sampai di puncak kami langsung mendirikan tenda. Angin kenceng banget plus hujan yang lumayan. Lumayan deres maksudnya. Tapi hangat pertemanan dan persaudaraan mampu mengalahkannya. Sebisa mungkin kami semua memejam hingga besok pagi. Tendaku bocor, bajuku basah, sleeping bag nggak berasa hangat, badan asli menggigil parah, tapi ya nikmati aja. Itu dia sensasi naik gunung.
Besok paginya sunrise nggak begitu kelihatan karena tertutup kabut. Tapi tetep asik. Dari atas, kami benar-benar berada tinggi sekali. Subhanallah.... aku memikirkan sedang apa ya manusia-manusia di bawah sana. Kami disini sedang mencari kehangatan mentari pagi. Jauh sekali. Di puncak gunung.

Pulangnya perjalanan lebih lama. Nggak tahu kenapa. Karena nggak ada sinyal, sempet terjadi lost contact antara kami dan jemputan kami. Hujan deres banget sementara kami naik pick-up. Nikmati saja. Aku sampe rumah jam 8 malam dengan badan yang rasanya remuk redam. Tapi sekali lagi, itulah sensasinya. Apalagi jika kita mendaki bersama orang-orang yang kita sayang.

Oh iya, aku juga dapet oleh-oleh dari Sindoro. Wajah iritasi karena kedinginan selama di puncak.

Pecah bro.

prepare.

ditunggu puncak Sindoro.
nggak kalah sama Jeep.
pos 3. prepare terakhir.

naik-naik ke puncak gunung~ sambil ujan-ujanan~


indah.. tapi serem

salah atur letak foto. harusnya di atas soalnya ini pas otw huehehe
wajah-wajah lelah namun berusaha #akurapopo

mencari kehangatan.

selamat pagi dari Puncak Sindoro.


sarapan ceritanya.

pulang.
idungnya Sindoro. katanya kalo udah sampe sini berarti hampir sampai Puncak

the power of mendaki pake sendal jepit


gerbang pendakian dari pos 3

kelakuan bocah-bocah pas aku lagi tidur kecapekan

nyari air dan tempat buat boker

nunggu jemputan. kayak nunggu jodoh. lama.

pulang keujanan deres. sedih...

see you kapan-kapan kalo pengen, Sindoro.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar