Beberapa bulan yang lalu -lupa tepatnya bulan apa- aku dan
teman-teman mendaki Gunung Sindoro. Sebagai orang Wonosobo, katanya
belum resmi jadi orang Wonosobo kalo belum mendaki Sindoro-Sumbing.
Rencana
sudah disusun matang, logistik dan segala perbekalan aman, tanggal
sudah fix, tinggal prepare lahir batin buat hari H. Aku sendiri waktu
itu bener-bener prepare fisik dengan jogging tiap pagi di Alun-alun.
Asli jogging tiap pagi, minimal 3 puteran. Kebetulan waktu itu udah
liburan sekolah. Sorenya aku lari-lari di halaman rumah, kadang
lari-lari di tempat. Bodo amat. Soalnya aku sadar diri kalau aku bakalan
berhadapan dengan gunung setinggi 3 ribu sekian meter dengan medan yang
nggak main-main. Kalo aku nanggepinnya juga main-main, ya mamam aja
tuh.
Hari H, semua ngumpul di kantor Bapak soalnya
tenda dan sebagainya aku simpan disana. Setelah packing ulang dan
memastikan nggak ada yang terlewat, ba'da ashar kami berangkat. Naik
pick-up yang kebetulan punya tetanggaku. Pecah bro. Naik pick-up, mau
mendaki gunung. Keren aja sih rasanya hahaha.
Kami mengambil jalur
pendakian Tambi, yang lebih deket. Dan FYI aja kami langsung menuju pos
3, bahkan tanpa registrasi. Gesrek. Pick-up dengan susah payah membawa
kami sampai pos 3 diiringi beberapa kali selip karena medannya lumayan
terjal. Sampai di pos 3, kami prepare ulang. Menyiapkan segala
sesuatunya. Lalu doa bersama. Setelah dirasa semuanya siap, here we go.
7
jam lamanya kami mendaki sampai akhirnya tiba di puncak. Hujan
mengiringi pendakian kami sehingga harus menggunakan jas hujan. Kebayang
nggak gimana serunya? Mendaki gunung, dengan petir menyambar yang siap
menemani di depan, belakang, samping kiri dan kanan. Belum lagi melawan
hawa dingin yang semakin dingin karena hujan, serta beban yang dibawa.
Saat itu rasanya benar-benar pertaruhan hidup dan mati.
Saat gelap
datang kami belum sampai puncak. Senter mati semua karena kedinginan.
Terpaksa satu-satunya penerangan adalah hape senterku. Waktu itu kami
sudah sampai di bebatuan yang harus benar-benar kami panjat. Aku
memimpin di depan, dengan menggigit hape lalu memanjat, berhenti
sebentar lalu mengarahkan senter ke teman-teman di bawah. Berasa keren
pake banget. Sempet kepikiran, kalo kami kenapa-kenapa selama disini,
nggak bakal ada yang tahu kecuali keluarga karena kami nggak registrasi.
Jadi buat para pemula, jangan pernah lupa registrasi di basecamp saat akan mendaki yaaa. Penting pake banget.
Sampai
di puncak kami langsung mendirikan tenda. Angin kenceng banget plus
hujan yang lumayan. Lumayan deres maksudnya. Tapi hangat pertemanan dan
persaudaraan mampu mengalahkannya. Sebisa mungkin kami semua memejam
hingga besok pagi. Tendaku bocor, bajuku basah, sleeping bag nggak
berasa hangat, badan asli menggigil parah, tapi ya nikmati aja. Itu dia
sensasi naik gunung.
Besok paginya sunrise nggak begitu kelihatan
karena tertutup kabut. Tapi tetep asik. Dari atas, kami benar-benar
berada tinggi sekali. Subhanallah.... aku memikirkan sedang apa ya
manusia-manusia di bawah sana. Kami disini sedang mencari kehangatan
mentari pagi. Jauh sekali. Di puncak gunung.
Pulangnya
perjalanan lebih lama. Nggak tahu kenapa. Karena nggak ada sinyal,
sempet terjadi lost contact antara kami dan jemputan kami. Hujan deres
banget sementara kami naik pick-up. Nikmati saja. Aku sampe rumah jam 8
malam dengan badan yang rasanya remuk redam. Tapi sekali lagi, itulah
sensasinya. Apalagi jika kita mendaki bersama orang-orang yang kita
sayang.
Oh iya, aku juga dapet oleh-oleh dari Sindoro. Wajah iritasi karena kedinginan selama di puncak.
Pecah bro.
 |
| prepare. |
 |
| ditunggu puncak Sindoro. |
 |
| nggak kalah sama Jeep. |
 |
| pos 3. prepare terakhir. |
 |
| naik-naik ke puncak gunung~ sambil ujan-ujanan~ |
 |
| indah.. tapi serem |
 |
| salah atur letak foto. harusnya di atas soalnya ini pas otw huehehe |
 |
| wajah-wajah lelah namun berusaha #akurapopo |
 |
| mencari kehangatan. |
 |
| selamat pagi dari Puncak Sindoro. |
 |
| sarapan ceritanya. |
 |
| pulang. |
 |
| idungnya Sindoro. katanya kalo udah sampe sini berarti hampir sampai Puncak |
 |
| the power of mendaki pake sendal jepit |
 |
| gerbang pendakian dari pos 3 |
 |
| kelakuan bocah-bocah pas aku lagi tidur kecapekan |
 |
| nyari air dan tempat buat boker |
 |
| nunggu jemputan. kayak nunggu jodoh. lama. |
 |
| pulang keujanan deres. sedih... |
 |
| see you kapan-kapan kalo pengen, Sindoro. |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar