Menjelang
senja di sudut taman kota. Sudah hampir dua jam aku menghabiskan waktu bersama
laki-laki di sebelahku hanya dengan kebisuan. Ya, kami memang tidak benar-benar
hanya diam. Kami sibuk dengan pikiran masing-masing, dengan kata yang coba
untuk kami ucapkan namun tak juga terucap. Beberapa percakapan yang berhasil
meluncur dari mulut kami justru berupa percakapan-percakapan sepele yang tak
berarti banyak.
“Sudah pamit
Ibu kan, kalau hari ini kamu akan pulang agak malam?”
“Anak kecil
yang digendong ibunya itu lucu sekali,”
“Kaca matamu
mulai berembun lagi,”
“Perutku
sudah tidak buncit lagi, bukan?”
Aku melirik
laki-laki itu sekali lagi, entah tatapan dan tolehan keberapa yang telah aku
lakukan. Ia duduk terpekur, menatapi ujung-ujung sepatunya—ah tidak biasanya
dia bersepatu seperti ini, biasanya ia lebih nyaman dengan koleksi sandalnya.
Nafasnya sesekali terdengar dihembuskan berat. Jari-jarinya saling merekat,
meski sesekali ia gunakan untuk menyisir rambutnya ke belakang dengan gerakan
frustasi, atau mengusap pelan kepalaku. Aku sangat menyukainya. Maksudku, saat
ia mengusap pelan kepalaku dengan sayang.
“Sedari tadi
kita menunggu apa?” aku bertanya karena sudah mulai dirundung rasa bosan. Ia
menoleh kepadaku dan tersenyum tipis.
“Langit
gamboges kesukaanmu,” ia kembali mengusap kepalaku dengan lembut.
“Lalu
mengapa hanya diam?”
“Bukankah
kamu sendiri yang bilang, terkadang kita tidak perlu kata-kata untuk
mengungkapkan segalanya. Diam saja sudah cukup untuk mengartikan sesuatu,” ia
menjawab setelah terdiam beberapa saat.
“Tapi aku
bingung. Aku tidak dapat mengartikan apapun dari kebisuan yang kita ciptakan
sedari tadi,” aku menatap matanya, mencari apa maksud yang sesungguhnya hendak
ia sampaikan. Bukankah banyak yang bilang bahwa mata berbicara jujur tentang
segalanya?
“Lihat,
gambogesnya sudah mulai kelihatan,” ia mengalihkan pembicaraan. Aku mendengus
sebal.
“Jangan
merajuk dulu, Nona. Biarkan langit gamboges menciptakan persembahan untuk kita
nikmati berdua, setidaknya untuk bekal setahun ke depan. Mulai besok, kita
harus menikmatinya masing-masing, di tempat yang berjauhan,” ditatapnya mataku
dalam-dalam. Aku baru saja hendak memprotes kata-katanya jika ia tidak
mendekapku dan menguncinya dengan tatapan sarat makna. Maka aku turuti
kata-katanya untuk menyaksikan langit senja berwarna gamboges hari itu dengan
sejuta pikiran yang berkecamuk. Meskipun seharusnya aku tenang dan nyaman,
karena di pelukannya selalu kudapatkan itu.
Senja kali
ini adalah senja paling menyebalkan di sepanjang hidup yang telah aku jalani.
Karena pada senja hari ini adalah senja terakhir yang dapat aku nikmati bersama
laki-laki itu, setidaknya dalam setahun ke depan atau bahkan bisa lebih. Senja
hari ini memaksaku berpikir lebih banyak. Tentang kemungkinan demi kemungkinan,
perasaan yang beradu jauh di lubuk hati, dan cinta yang belum selesai untuk
ditinggalkan. Entah mengapa warna gamboges pada senja hari itu seakan
menyuruhku untuk segera menumpahkan air mata yang susah payah aku bendung.
Hingga senja
berganti malam dan bintang satu persatu hadir, aku dan dia masih berada di
taman kota. Entah untuk apa. Taman kota memang telah menyimpan banyak sekali
cerita tentang kami. Setiap sudutnya merekam kisah demi kisah yang telah kami
ukir.
Rumput-rumput
tetap bersabar ketika kaki-kaki kami berlarian di atasnya dengan penuh gelak
tawa. Pendopo di sudut utara memayungi kami yang dihadang hujan deras, lalu
saling menghangatkan di bawahnya. Jalanan di sepanjang taman bersenandung saat
kami berjalan bergandengan seolah menabur benih cinta kepadanya. Lampu taman
itu menyaksikan ketika ia berlutut memberiku sebuket bunga kemudian mencium
keningku, hangat.
Aku belum
siap. Ralat, aku tidak siap untuk meninggalkan semuanya.
“Besok aku
akan pergi,”
Sudah
kubilang aku tidak siap! Jangan katakan apapun tentang hal itu!
“Aku tahu
kita seharusnya tidak terpisah seperti ini, namun ini juga demi kita,”
“Jangan
menangis. Sungguh aku tak sanggup melihatmu terus membuang air matamu karena
kesedihan. Aku hanya rela jika air matamu jatuh karena bahagia,” ia mengusap
air mata yang justru makin menderas di pipiku.
“Ini tidak
akan lama jika kita percaya cinta akan menjaga kita. Dan jodoh pasti akan
bertemu, iya, kan?” ia terus berkata-kata namun aku hanya diam.
“Hei.. aku
tidak akan bisa meninggalkanmu dengan tenang jika kamu terus menangis seperti
ini. Aku pergi untuk kembali kepadamu, bukan untuk meninggalkanmu. Aku
berjanji. Aku meninggalkan tulang rusukku padamu, bagaimana mungkin aku tidak
kembali?”
Aku tidak
dapat berkata-kata. Aku hanya merangsek ke pelukannya. Erat. Kuat. Tak ingin
kulepaskan lagi. Kutumpahkan bendungan air mata yang kini telah hancur. Aku
lemah. Tanpanya aku lemah. Ia adalah sosok pelindungku nomor satu. Aspirin yang
selalu ada mengobati segala sakitku. Madu termanis yang mengusir pahit hariku.
“Maaf. Aku
hanya memperberat kepergianmu. Tapi aku hanya belum sanggup terbiasa tanpamu.
Kita selalu bersama di setiap hari. Tak bisa kubayangkan mulai esok aku akan
menjalani hariku, tanpamu…” kataku setelah berhasil menguasai emosi.
“Kamu cuma
belum terbiasa,” ia mengusap pipiku.
“Berjanjilah
untuk menjaga hatimu disana. Sejuta wanita tangguh disana tetap kalah dengan
aku yang lemah ini,” aku mengacungkan jari kelingking.
“Dan
berjanjilah untuk menjaga hatimu disini. Jika disana ada sejuta wanita tangguh,
maka disini ada bermilyar-milyar lelaki dengan segala jenis yang siap untuk
menggodamu. Berjanjilah untuk takluk hanya padaku, karena sesungguhnya akulah
yang paling bisa melengkapimu,” ia mengaitkan kelingkingnya.
“Sudah
packing?” akhirnya aku bertanya dengan normal.
“Sudah.
Besok pagi datang ke rumah ya. Bantu aku memastikan tidak ada yang terlewat,”
“Pergilah.
Kejarlah semua impianmu. Impian kita. Jemputlah aku ketika kamu sudah siap
untuk menjemputku untuk bersanding. Pergilah. Namun jangan lupa untuk kembali.
Karena akulah rumahmu,”
Kemudian ia
mendekapku. Erat. Erat sekali. Sungguh aku tidak merelakannya melepaskan
pelukan ini. Aku ingin terus mendekapnya. Tanpa pernah melepasnya.
“Aku pergi.
Jangan bosan untuk menungguku sembari kamu ikut bersiap,”
Aku
menyadari matanya berkaca-kaca. Hatiku semakin trenyuh karenanya.
“Lihat! Ada
bintang jatuh,” ia menunjuk langit gemerlap. Lalu kami saling menutup mata.
Memanjatkan harapan-harapan yang kami tahu, sama.
Jika
gamboges senja mengacaukan perasaanku hari itu, ternyata gelap malam mampu
menatanya kembali. Meskipun esok ia akan meninggalkanku, namun aku yakin ia
akan kembali. Menjemputku. Menuju masa depan bersama.
Malam itu
aku menghantarnya pergi. Membangun masa depan, meraih impian. Kepergian tidak selamanya
menyakitkan.
Kamar kos.
101014. 10:33 pm. Hari ketika kamu pergi menjemput impian.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar