saya bukan blogger. saya hanya ingin bercerita :)

Minggu, 12 Oktober 2014

Mengantarmu Pergi.


Menjelang senja di sudut taman kota. Sudah hampir dua jam aku menghabiskan waktu bersama laki-laki di sebelahku hanya dengan kebisuan. Ya, kami memang tidak benar-benar hanya diam. Kami sibuk dengan pikiran masing-masing, dengan kata yang coba untuk kami ucapkan namun tak juga terucap. Beberapa percakapan yang berhasil meluncur dari mulut kami justru berupa percakapan-percakapan sepele yang tak berarti banyak.

“Sudah pamit Ibu kan, kalau hari ini kamu akan pulang agak malam?”
“Anak kecil yang digendong ibunya itu lucu sekali,”
“Kaca matamu mulai berembun lagi,”
“Perutku sudah tidak buncit lagi, bukan?”

Aku melirik laki-laki itu sekali lagi, entah tatapan dan tolehan keberapa yang telah aku lakukan. Ia duduk terpekur, menatapi ujung-ujung sepatunya—ah tidak biasanya dia bersepatu seperti ini, biasanya ia lebih nyaman dengan koleksi sandalnya. Nafasnya sesekali terdengar dihembuskan berat. Jari-jarinya saling merekat, meski sesekali ia gunakan untuk menyisir rambutnya ke belakang dengan gerakan frustasi, atau mengusap pelan kepalaku. Aku sangat menyukainya. Maksudku, saat ia mengusap pelan kepalaku dengan sayang.

“Sedari tadi kita menunggu apa?” aku bertanya karena sudah mulai dirundung rasa bosan. Ia menoleh kepadaku dan tersenyum tipis.
“Langit gamboges kesukaanmu,” ia kembali mengusap kepalaku dengan lembut.
“Lalu mengapa hanya diam?”
“Bukankah kamu sendiri yang bilang, terkadang kita tidak perlu kata-kata untuk mengungkapkan segalanya. Diam saja sudah cukup untuk mengartikan sesuatu,” ia menjawab setelah terdiam beberapa saat.

“Tapi aku bingung. Aku tidak dapat mengartikan apapun dari kebisuan yang kita ciptakan sedari tadi,” aku menatap matanya, mencari apa maksud yang sesungguhnya hendak ia sampaikan. Bukankah banyak yang bilang bahwa mata berbicara jujur tentang segalanya?
“Lihat, gambogesnya sudah mulai kelihatan,” ia mengalihkan pembicaraan. Aku mendengus sebal.
“Jangan merajuk dulu, Nona. Biarkan langit gamboges menciptakan persembahan untuk kita nikmati berdua, setidaknya untuk bekal setahun ke depan. Mulai besok, kita harus menikmatinya masing-masing, di tempat yang berjauhan,” ditatapnya mataku dalam-dalam. Aku baru saja hendak memprotes kata-katanya jika ia tidak mendekapku dan menguncinya dengan tatapan sarat makna. Maka aku turuti kata-katanya untuk menyaksikan langit senja berwarna gamboges hari itu dengan sejuta pikiran yang berkecamuk. Meskipun seharusnya aku tenang dan nyaman, karena di pelukannya selalu kudapatkan itu.

Senja kali ini adalah senja paling menyebalkan di sepanjang hidup yang telah aku jalani. Karena pada senja hari ini adalah senja terakhir yang dapat aku nikmati bersama laki-laki itu, setidaknya dalam setahun ke depan atau bahkan bisa lebih. Senja hari ini memaksaku berpikir lebih banyak. Tentang kemungkinan demi kemungkinan, perasaan yang beradu jauh di lubuk hati, dan cinta yang belum selesai untuk ditinggalkan. Entah mengapa warna gamboges pada senja hari itu seakan menyuruhku untuk segera menumpahkan air mata yang susah payah aku bendung.

Hingga senja berganti malam dan bintang satu persatu hadir, aku dan dia masih berada di taman kota. Entah untuk apa. Taman kota memang telah menyimpan banyak sekali cerita tentang kami. Setiap sudutnya merekam kisah demi kisah yang telah kami ukir.

Rumput-rumput tetap bersabar ketika kaki-kaki kami berlarian di atasnya dengan penuh gelak tawa. Pendopo di sudut utara memayungi kami yang dihadang hujan deras, lalu saling menghangatkan di bawahnya. Jalanan di sepanjang taman bersenandung saat kami berjalan bergandengan seolah menabur benih cinta kepadanya. Lampu taman itu menyaksikan ketika ia berlutut memberiku sebuket bunga kemudian mencium keningku, hangat.

Aku belum siap. Ralat, aku tidak siap untuk meninggalkan semuanya.

“Besok aku akan pergi,”
Sudah kubilang aku tidak siap! Jangan katakan apapun tentang hal itu!
“Aku tahu kita seharusnya tidak terpisah seperti ini, namun ini juga demi kita,”
“Jangan menangis. Sungguh aku tak sanggup melihatmu terus membuang air matamu karena kesedihan. Aku hanya rela jika air matamu jatuh karena bahagia,” ia mengusap air mata yang justru makin menderas di pipiku.
“Ini tidak akan lama jika kita percaya cinta akan menjaga kita. Dan jodoh pasti akan bertemu, iya, kan?” ia terus berkata-kata namun aku hanya diam.
“Hei.. aku tidak akan bisa meninggalkanmu dengan tenang jika kamu terus menangis seperti ini. Aku pergi untuk kembali kepadamu, bukan untuk meninggalkanmu. Aku berjanji. Aku meninggalkan tulang rusukku padamu, bagaimana mungkin aku tidak kembali?”

Aku tidak dapat berkata-kata. Aku hanya merangsek ke pelukannya. Erat. Kuat. Tak ingin kulepaskan lagi. Kutumpahkan bendungan air mata yang kini telah hancur. Aku lemah. Tanpanya aku lemah. Ia adalah sosok pelindungku nomor satu. Aspirin yang selalu ada mengobati segala sakitku. Madu termanis yang mengusir pahit hariku.

“Maaf. Aku hanya memperberat kepergianmu. Tapi aku hanya belum sanggup terbiasa tanpamu. Kita selalu bersama di setiap hari. Tak bisa kubayangkan mulai esok aku akan menjalani hariku, tanpamu…” kataku setelah berhasil menguasai emosi.
“Kamu cuma belum terbiasa,” ia mengusap pipiku.
“Berjanjilah untuk menjaga hatimu disana. Sejuta wanita tangguh disana tetap kalah dengan aku yang lemah ini,” aku mengacungkan jari kelingking.
“Dan berjanjilah untuk menjaga hatimu disini. Jika disana ada sejuta wanita tangguh, maka disini ada bermilyar-milyar lelaki dengan segala jenis yang siap untuk menggodamu. Berjanjilah untuk takluk hanya padaku, karena sesungguhnya akulah yang paling bisa melengkapimu,” ia mengaitkan kelingkingnya.

“Sudah packing?” akhirnya aku bertanya dengan normal.
“Sudah. Besok pagi datang ke rumah ya. Bantu aku memastikan tidak ada yang terlewat,”
“Pergilah. Kejarlah semua impianmu. Impian kita. Jemputlah aku ketika kamu sudah siap untuk menjemputku untuk bersanding. Pergilah. Namun jangan lupa untuk kembali. Karena akulah rumahmu,”
Kemudian ia mendekapku. Erat. Erat sekali. Sungguh aku tidak merelakannya melepaskan pelukan ini. Aku ingin terus mendekapnya. Tanpa pernah melepasnya.
“Aku pergi. Jangan bosan untuk menungguku sembari kamu ikut bersiap,”
Aku menyadari matanya berkaca-kaca. Hatiku semakin trenyuh karenanya.

“Lihat! Ada bintang jatuh,” ia menunjuk langit gemerlap. Lalu kami saling menutup mata. Memanjatkan harapan-harapan yang kami tahu, sama.
Jika gamboges senja mengacaukan perasaanku hari itu, ternyata gelap malam mampu menatanya kembali. Meskipun esok ia akan meninggalkanku, namun aku yakin ia akan kembali. Menjemputku. Menuju masa depan bersama.
Malam itu aku menghantarnya pergi. Membangun masa depan, meraih impian. Kepergian tidak selamanya menyakitkan.



Kamar kos. 101014. 10:33 pm. Hari ketika kamu pergi menjemput impian.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar