"Ngebut aja. Nanti telat," kataku pada laki-laki yang sedang memboncengku ini.
"Ah, enggak deh. Aku lagi bawa kamu. Aku nggak mau ngebut,"
"Gayamu mas. Kayak nggak biasanya kebut-kebutan," aku mencibir.
"Iya, kebut-kebutan. Tapi tidak saat bersama kamu,"
Yap. Akhirnya sampai juga. Hari ini aku akan mengambil sejumlah berkas di sekolah --koreksi, mantan sekolah tepatnya-- yang akan aku gunakan untuk mendaftar kuliah. Memasuki mantan sekolahku itu, suasana sudah nampak lengang. Tinggal terlihat beberapa sepeda motor dan mobil milik guru dan beberapa siswa yang sedang ekstrakurikuler.
"Tunggu sebentar ya," kataku sambil mengangsurkan helmku pada laki-laki yang kini sedang tersenyum padaku.
Lalu segera aku melenggang menuju kantor tata usaha. Tak ingin membuat laki-laki itu menunggu lama. Lagipula, sedetik saja waktu terasa begitu berharga untuk kulalui bersamanya. Untuk menerka hal apalagi yang akan kami lakukan demi membuat memori-memori indah.
Beres. Aku merapikan sejumlah kertas dalam map yang aku pegang sembari berjalan keluar.
"Ge.." seperti ada yang memanggilku. Namun tidak aku acuhkan. Dalam pikiranku hanya ingin cepat keluar dari mantan sekolah ini, dan menembus waktu bersama laki-laki yang kini mengisi separuh hatiku.
"Ge.." suara itu terdengar seperti mengejarku, disusul langkah kaki yang berderap. Aku hafal suara langkah itu. Suara langkah yang pernah menemaniku berjalan menyusuri jalanan ibukota tetangga. Suara langkah yang pernah tergopoh-gopoh membawaku saat aku sakit. Suara langkah yang berkejar-kejaran denganku seperti anak kecil tanpa peduli tatapan aneh dari orang-orang di sekeliling. Suara langkah yang...
"Gea!" kini sebuah tangan mencengkeram lenganku. Tangan kokoh yang aku kenal. Tangan yang membelai peluh di wajahku. Tangan yang mengusap manja kepalaku. Tangan yang menggenggam tanganku saat menyeberang jalan. Tangan yang memakaikan jaket saat aku kedinginan. Tangan yang membukakan pintu untukku. Tangan yang jemarinya mencubit gemas pipi dan hidungku. Tangan yang jemarinya menggelitikku mesra.
"Aku sudah memanggilmu dari tadi, tapi sekedar menoleh atau berhenti pun kamu tidak. Gea!" aku sudah berdiri berhadapan dengan sosok yang aku kenal, sejak lama.
Aku tersenyum tipis. "Maaf, aku pikir bukan aku yang dipanggil,"
Dia menghela nafas. Antara nafas kelelahan dan ragu. "Kamu masih saja Gea yang dulu. Tidak berubah,"
"Tidak aku. Mungkin hatiku," aku menjawab lugas sambil tersenyum seolah ceria.
Dia terlihat kaget. Mungkin tak menyangka dengan jawaban yang aku keluarkan.
"Ge.. Aku.. Kamu.. Maksudku.." dia menjadi kehilangan kosakata. Dia yang biasanya paling bawel.
"Hey, mengapa kamu tiba-tiba menjadi seperti gugup begitu? Nah, apakah kamu yang kini bukan kamu yang dulu?"
"Maafkan aku, Ge. Maaf telah membuatmu bertanya-tanya. Maaf telah menyalahgunakan perasaanmu terhadapku. Maaf atas kebodohanku. Maaf, maaf, maaf. Maaf Ge, aku terlalu pengecut untuk mengakui perasaanku terhadapmu, untuk membalas segala yang telah kamu beri padaku. Aku... aku terlalu bodoh,"
"Berhenti menyalahkan diri sendiri. Grow up. Bukankah itu yang selalu kamu ingatkan kepadaku?"
Dia menghela nafas berat. Untuk kesekian kalinya sejak kami berhadapan sekitar sepuluh menit lalu.
Wait, sepuluh menit??
"Aku rasa aku harus segera pergi. Ada yang menungguku di depan," aku teringat laki-laki yang sedang menungguku di parkiran depan.
Aku melangkah pergi. Dia mengikutiku. Langkahnya semakin cepat saat dia melihat laki-laki itu.
"Gea, tunggu!" tangannya kembali mencengkeram lenganku. Aku mengalihkan pandangan cepat kepada laki-laki di parkiran. Khawatir dia melihat kejadian itu.
"Dia, Ge?" dia bertanya kepadaku. Aku mengerling.
"Pacarmu?" dia kembali bertanya. Aku diam.
"Apa kamu meninggalkanku karena dia, Ge?" Kini aku mulai menatap tajam ke arahnya.
"Mengapa? Apa karena dia lebih kaya dari aku? Dia bisa memboncengmu lebih mesra dari aku karena tunggangannya?"
"Sehina itukah kamu menilaiku?" aku berkata padanya, pelan. Namun sinis. Dia terperanjat.
"Seperti itukah aku di matamu? Apa selama ini aku minta uangmu? Aku hanya ingin materi darimu? Apa selama ini aku tidak tulus menyayangimu? Serendah itukah aku?"
"Ge, bukan begitu maksudku.."
"Dan jangan memutarbalikkan fakta. Siapa yang meninggalkan dan ditinggalkan? Siapa yang menkhianati dan dikhianati? Siapa yang menyakiti dan disakiti? Berhenti. Berhenti bertingkah seolah kamulah pihak yang paling tersakiti dan dirugikan. Lihat aku! A-k-u! Grow up!" aku mengatakan itu semua dengan tenang.
"Aku pergi dulu," aku melangkah meninggalkan dia yang tercenung menatapku.
"Oh iya. Dia mungkin tidak lebih dari kamu. Namun setidaknya dia benar-benar tulus menyayangiku dan tidak menyakiti hatiku," aku tersenyum manis. Dia diam. Mukanya memerah. Tidak tahu tanda emosi atau merasa kupermalukan.
Aku menghampiri laki-laki yang menyambutku dengan senyuman termanisnya sambil mengulurkan helm kepadaku. Aku naik ke boncengan motornya dan memeluk pinggangnya erat. Supaya dia tahu, aku sama sekali tidak mengambil langkah yang salah dengan meninggalkannya.
Sebulan setelah perpisahan kita. Semoga kamu tahu, ini bukan karena aku yang berubah. Namun kita yang memang tidak bisa terus bersama. Kita mungkin ditakdirkan untuk bersama, tapi tidak untuk bersatu.
Sebulan setelah perpisahan kita, semoga ini yang terbaik.
cieee..... hahahahahahahahahaha
BalasHapus