Kau putar sekali lagi Champs-Elysees
Lidah kita bertaut a la Francais
Langit sungguh jingga itu sore
Dan kau masih milikku
Kita tak pernah suka air mata
Berangkatlah sendiri ke Juanda
Tiap kali langit meremang jingga
Aku kan merindukanmu
Ah, kau Puan Kelana
Mengapa musti ke sana?
Jauh-jauh Puan kembara
Sedang dunia punya luka yang sama
Mari, Puan Kelana
Jangan tinggalkan hamba
Toh, hujan sama menakjubkannya
Di Paris atau di tiap sudut Surabaya
Rene Descartes, Moliere, dan Maupassant
Kau penuhi kepalaku yang kosong
Dan Perancis membuat kita sombong
Saat kau masih milikku
Kita tetap membenci air mata
Tiada kabar tiada berita
Meski senja tak selalu tampak jingga
Aku terus merindukanmu
Ah, kau Puan Kelana
Mengapa musti ke sana?
Jauh-jauh Puan kembara
Sedang dunia punya luka yang sama
Mari, Puan Kelana
Jangan tinggalkan hamba
Toh, anggur sama memabukkannya
Entah Merlot entah Cap Orang Tua
Aih, Puan Kelana
Mengapa musti ke sana?
Paris pun penuh mara bahaya dan duka nestapa
Seperti Surabaya
Sedang jatuh cinta dan terhipnotis dengan lagu-lagu Silampukau. Tapi yang sedang paling mengena, ya lagu yang ini. Entah, seperti sedang mendengarkan lagu tentang diri sendiri. Di lagu ini, mungkin saya dalam hati mengganti lirik "Puan" menjadi "Tuan" sebab saya seolah sedang menyanyikan lagu ini untuk Tuan yang gemar berkelana, yang selalu membuat saya rindu, yang saya cari keberadaannya, yang memberi harga mahal untuk setiap kabarnya.
Silampukau, band folks indie yang bukan cuma lagunya saja yang bagus dan enak didengarkan. Liriknya indah, sederhana tapi cantik. Personelnya jelas serba bisa dan mengagumkan. Filosofi di setiap lirik dan lagunya, membuai. Kemarin malam akhirnya saya memutuskan untuk membeli cd albumnya setelah berhasil menemukan satu distro yang menjual. Dan untungnya masih ada stok. Saya senang.
Silampukau, saya jatuh cinta pada dengar yang pertama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar