saya bukan blogger. saya hanya ingin bercerita :)

Sabtu, 18 Juni 2016

Putar Arah

Ada yang mengatakan bahwa setiap kisah pasti memiliki akhir yang bahagia. Jika belum bahagia, itu berarti kisah tersebut belum mencapai akhirnya dan masih menanti untuk terus digali. Adriana tersenyum sinis. Setiap kisah pasti berakhir bahagia? Maka selamat datang pada kisah terbaru yang penuh dekonstruksi; kisah-kisah yang berakhir tidak bahagia.
Bahagia adalah sebuah kewajiban dan keharusan. Ya. Adriana tahu karena ia sendiri yang membuat prinsip tersebut. Bahagia juga tidak perlu diingatkan.
"Jangan lupa bahagia, ya!"
Adriana hanya melengos. Masa untuk bahagia saja perlu diingatkan? Tapi... sebentar. Rasanya akhir-akhir ini memang ia seperti butuh diingatkan untuk tetap berbahagia.
Seingat Adriana, ia selalu berbahagia di setiap harinya dengan melakukan apa saja yang dapat membuatnya tertawa. Apa pun hal yang bisa membuatnya bahagia, akan ia dekap erat dalam hidupnya. Sederhana saja. Adriana bahagia pada secangkir kopi panas yang menguarkan bau harum menenangkan. Ia selalu menyesap cairan hitam pekat itu dengan perlahan, merasakan setiap teguknya mengalirkan hormon-hormon senyuman. Atau kadang ia beralih pada botol-botol bir yang ditenggak bersama beberapa teman. Musik berputar hingga fajar. Cerita-cerita mengalir hingga akhirnya ia menyerah pada tegukan terakhir.
Adriana juga bahagia akan musik yang mengalun keras melalui headset ke kupingnya. Kepalanya mengangguk-angguk mengikuti ritme. Tenang. Rasanya ia ikut menari bersama nada-nada yang terputar di kepala.
Oh, juga jalan-jalan malam hingga fajar. Mengelilingi kota sambil melihat berbagai hal di gemerlap malam. Lihat, sekumpulan penjaja kehangatan itu berderet menanti lelaki cabul yang haus belaian. Hati-hati ada razia, nanti kau akan dibawa, dan pak petugas mencuri pandang ke isi di balik bajumu yang terbuka. Hmm.. kalau mereka para penjaja tak ada, berapa lelaki tukang beli cinta yang akan meradang? Eh, itu laki-laki tapi cantik dan seksi sekali. Adriana sampai iri dibuatnya. Mengapa ia tak secantik laki-laki itu, ya? Ah, langkahnya gemulai sekali. Senyumnya genit menarik perhatian.
Adriana merasa bahagia, namun ketika suatu waktu ia hanya sendiri di kamar kostnya yang penuh aksara, ia sepi. Entahlah, ada potongan yang hilang dari hidup Adriana. Potongan serupa puzzle yang menyusun hatinya.
Sekilas disibakkannya anak rambut yang menghalangi pandangan sebelum kemudian Adriana menerawang. Terakhir kali ia jatuh cinta pada seorang teman yang selalu membuatnya tertawa. Kadang ia merasa jenuh memang, namun tetap saja ia merasa kehilangan jika sosok itu tidak ada. Sebentar, apa benar baru saja Adriana bilang ia jatuh cinta?
Kata Rahne, teman satu kostnya, bisa jadi itu hanya suatu kebiasaan yang terus terulang seperti rutinitas. Jika tiba-tiba terhenti, tentu akan terasa canggung dan janggal. Ah, tapi Adriana tak percaya. Ia rindu. Ada rasa yang mendesak untuk bertemu atau sekedar menyapa lewat handphone, tapi desakan itu tak pernah sanggup menjadi nyata.
Adriana menyentuh dada, meredam rasa sakit yang mendadak timbul kala mengingat hal barusan. Ia bingung, seharusnya tak perlu demikian.
Sosok itu telah terabai habis-habis olehnya. Berani sekali ia masih berharap sosok itu akan tetap mencinta?
Adriana ingat, rasa cintanya yang kelewat besar kepada Rio --laki-laki yang ia kenal sejak tujuh tahun lalu-- membuatnya mengabaikan sosok yang tiba-tiba sangat ia rindukan. Adriona, begitu ia menyebut namanya dan Rio. Norak sekali. Mengingat itu Adriana hanya bisa menghela napas dalam. Betapa ia telah menyia-nyiakan seseorang yang mencintainya habis-habisan demi orang yang ia cintai habis-habisan?
Sebentar. Manakah yang lebih membahagiakan? Mencintai, atau dicintai? Adriana berpikir sejenak. Matanya berputar lucu. Nanti mungkin ia akan mengerti jawabannya.
Ah, iya. Adriana juga pernah mengabaikan sosok yang selalu ia buat patah hatinya, demi orang yang bahkan baru saja ia kenal. Hmm.. coba ingat dulu ceritanya. Nah, waktu itu adalah bulan kesekian bagi Adriana dan sosok itu menghabiskan waktu bersama dan mulai membuka diri satu sama lain. Bulan kesekian bagi sosok itu mendamba Adriana dan terus memupuk harapan. Bulan kesekian hingga akhirnya Adriana goyah dan berpaling pada orang baru yang tak pernah ia harapkan hadir. Celakanya, orang baru itu tak lebih dari seorang pecundang. Untungnya,  Adriana cepat berlalu dan terus melaju. Sayangnya, orang baru itu terus merasa bahwa ia berhasil mengelabui Adriana, tanpa ia sadar bahwa sesungguhnya ia lah yang selama ini dipecundangi oleh Adriana. Jika kau tanya siapa tokoh jahatnya, jawabannya tentu Adriana.
Adriana kembali, dan sosok yang sempat terabaikan itu tetap menanti. Namun Adriana tinggi hati. Ia terus saja datang dan pergi sementara sosok itu mungkin lelah menanti.

Sepi. Adriana, bukankah ini karena ulahmu sendiri? Kau sibuk mencari padahal kau selalu dinanti. Adriana lalu sadar, jawaban itu! Jawabannya adalah dicintai. Menerima orang yang mencintaimu habis-habisan adalah menerima kado terindah. Adriana rebah. Kosong. Ia tak tahu harus apa. Sosok itu kini telah melangkah pergi. Bahkan untuk datang kembali, rasanya Adriana tak pantas dan tak sampai hati.
Karma? Ya, mungkin. Sadar. Benar juga, karma tahu tapi menunggu. Sosok yang dulu mencintainya habis-habisan kini hanya bisa Adriana lihat sebatas punggungnya saja. Sepintas lalu. Diam-diam Adriana selalu berusaha mencuri pandang. Merekam banyak-banyak agar bisa ia putar kembali di malam hari.
Tunggu, rasanya semakin sakit. Adriana meraba dadanya, menahan perih yang kian mencabik. Maaf. Kata itu mungkin tak akan sanggup tersampaikan.

1 komentar: