saya bukan blogger. saya hanya ingin bercerita :)

Rabu, 02 April 2014

Dari Sapardi Djoko Damono

“tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan Juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan Juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu

tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan Juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu”
Sapardi Djoko Damono, Hujan Bulan Juni 

“Aku mencintaimu.
Itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendoakan
keselamatanmu”
Sapardi Djoko Damono, Hujan Bulan Juni  


“DI RESTORAN

Kita berdua saja, duduk. Aku memesan
ilalang panjang dan bunga rumput --
kau entah memesan apa. Aku memesan
batu ditengah sungai terjal yang deras --

kau entah memesan apa. Tapi kita berdua
saja, duduk. Aku memesan rasa sakit
yang tak putus dan nyaring lengkingnya,
memesan rasa lapar yang asing itu.

(1989)”
Sapardi Djoko Damono, Hujan Bulan Juni

  “I want to love you simply, in words not spoken: tinder to the flame which transforms it to ash
I want to love you simply, in signs not expressed: clouds to the rain which make them evanescent (Aku Ingin-I Want)”
Sapardi Djoko Damono

“SEMENTARA KITA SALING BERBISIK

Sementara kita saling berbisik
Untuk lebih lama tinggal
Pada debu, cinta yang tinggal berupa
Bunga kertas dan lintasan angka-angla

Ketika kita saling berbisik
Di luar semakin sengit malam hari
Memadamkan bekas-bekas telapak kaki, menyekap sisa-sisa unggun api
Sebelum fajar. Ada yang masih bersikeras abadi.

(1966)”
Sapardi Djoko Damono, Hujan Bulan Juni 

“YANG FANA ADALAH WAKTU

Yang fana adalah waktu. Kita abadi:
memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga
sampai pada suatu hari
kita lupa untuk apa.
“Tapi, yang fana adalah waktu, bukan?”
tanyamu.
Kita abadi.

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982”
Sapardi Djoko Damono, Perahu Kertas

Sihir Hujan
Hujan mengenal baik pohon, jalan, dan selokan
-- swaranya bisa dibeda-bedakan;
kau akan mendengarnya meski sudah kaututup pintu dan jendela.
Meskipun sudah kau matikan lampu.

Hujan, yang tahu benar membeda-bedakan, telah jatuh di pohon, jalan, dan selokan
- - menyihirmu agar sama sekali tak sempat mengaduh
waktu menangkap wahyu yang harus kaurahasiakan.

 
Cinta itu melebur komponen-komponen menjadi satu energi bersama, mengharmonikan nada, menyamakan langkah, menyelaraskan hati, menyenandungkan irama, merajut asa, mengisi kekosongan, merekahkan senyum, mewujudkan mimpi…
Cinta itu ramuan keajaiban..


dampak kangen kamu,
kiffe.
bahkan dalam jarak sedekat ini nyatanya kita tetap terpisah
can't wait to see u tmrrw
gross.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar